
Saat Ravi sampai ke rumahnya, dia merasa sangat senang, akhirnya dia sudah resmi menjadi kekasih Alena, entah kenapa senyum tak bisa surut dari sudut bibirnya. Dia melihat mama dan papanya sedang menonton televisi sambil memakan pop corn, Ravi langsung mendatangi mamanya untuk menciumnya, membuat Darrel langsung memintanya untuk menyingkir.
“Kamu yang sopan lah sama mama kamu kayak gitu, bukan Cuma gak sopan, tuh, kamu dari luar, bau asap, bau asem, mandi dulu kek, cuci kaki tangan dulu, main nyosor aja ke istri orang, sana kamu mandi dulu, terus sini nonton sama Mama dna Papa, makin gede kok anak anak papa gak ada yang mau nonton bareng sih,” ujar Darrel yang malah lebih cerewet dari Luna.
Darrel memang begitu, dia tidak akan rela jika istrinya dimiliki oleh orang lain, dia akan berusaha untuk merebut Luna dan tidak akan ingin jika istrinya itu diambil dengan alasan apapun. Termasuk oleh Ravi dan Rashi, Rania adalah pengecualian. Papanya bahkan overprotektif jika Luna dipeluk atau dicium tanpa alasan yang jelas. Namun Luna sendiri tidak keberatan dengan sikap protektif itu karna dia tahu itu sudah sikap bawaan suaminya yang tak bisa lagi dia ubah.
“Memang Rania sama Ra.. ah enggak deh, kalau Rashi udah biasa gak ikutan nonton. Nah Rania? Biasanya dia ikut nonton sama Mama, sekarang dimana?” tanya Ravi yang dijawab kedikan bahu oleh Darrel. Ravi berdecih pelan melihat sikap jutek papanya setelah dia mencium mamanya tanpa ijin, padahal dia hanya sedang bahagia dan ingin menunjukkan pada mama papanya bahwa dia bahagia. Namun ternyata Papanya terlalu kaku dan mudah marah.
“Huh, kayak pak tua yang suka marah marah, tunggu aja tuh rambutnya botak terus giginya tinggal dua,” ujar Ravi setelah agak jauh.
“Papa dengar ya Vi!” teriak Darrel yang sontak membuat Ravi tertawa namun juga kabur dari sana, tak ingin menjadi bulan bulanan papanya. Dia ingin meihat dimana Rania, dia membuka pintu kamar gadis itu tanpa mengetuknya.
Rupanya Rania sedang melakukan video call dengan seseorang, sangat fokus sampai bahkan gadis itu tak menyadari kehadirannya. Dia mengendap dan ikut melihat ke arah layar dari samping. Matanya terbuka saat dia melihat Adlan ada di sana. Ravi tidak menyangka akan melihat wajah lelaki itu dalam layar panggilan video dengan adiknya karna dia tak pernah tahu jika Adlan dan Rania memiliki hubungan khusus.
“Boleh gak kalau ke kamar orang itu ketuk pintu atau gimana dulu? Gak main masuk aja terus nguping orang ngomong?” tanya Rania yang tiba tiba tahu, rupanya gadis itu diberitahu oleh Adlan yang melihatnya dari pantulan kaca. Lelaki itu memegang lehernya dan terkekeh melihat Rania yang salah tingkah.
“Eh Ran, Ran, Ran, lagi gak ada orang, Lo gue an gak papa ya. Gue mau cerita, gue udah resmi jadian sama Alena!” seru Ravi yang membuat Rania membuka mulutnya. Dia langsung melepas kedua earphonenya dan mematikan panggilan video itu tanpa pamit sama sekali, dia hanya fokus dengan kakaknya yang sdari tadi cerah itu.
“Serius? Kok gak bilang bilang mau resmian? Tahu gitu kan gue bantuin apa gitu kek. Lo bawa dia kemana? Taman romantis ya? Atau lo sewa satu restoran buat dia?” tanya Rania yang membuat Ravi sedikit sendu. Dia kembali teringat dengan kejadian tak mengenakkan beberapa jam lalu, namun dia tak mau cerita pada Rania karna nanti fokus adiknya itu jadi mengejeknya, bukan memberi semangat untuknya.
“Iyaa, tadi gue kan pergi ke rumah dia tuh, terus gue ajak makan malam romantis, terus ya gitu deh, gue kasih cincin, gue tembak dia, dan dia mau. Gue gak pernah nembak cewek sebelumnya dan dia mau sama gue, ya gue deg deg an parah, tapi bahagia dan gak nyangka ternyata dia benar benar jadi pacar gue sekarang,” ujar Ravi dengan semangat.
“Bentar bentar bentar, gue mau ambil jus dulu, gak enak kalau ceritanya Cuma begini doang,” ujar Rania yang membuat Ravi berdecak, namun dia mengijinkan Rania untuk pergi, dia menunggu dengan sabar, dan perasaannnya ada yang mengganjal. Dia melihat ke arah kamar dan melihat ada kulkas di dalam sana dan dia yakin di dalam kulkas itu sudah ada jus buah yang diinginkan oleh Rania.
“Lah, kalau di sini udah ada jus, kulkas, dia ngapain ke.. lu… RANIIAAAA!!!” Teriak Ravi yang langsung berlari ke arah ruang keluarga, dia seharusnya tahu, Rania tidak mungkin sebaik itu untuk duduk manis mendengarkan ceritanya. Benar saja, Rania sudah duduk dan memnta perlindungan papanya.
“Rania udah cerita semua ke Mama dan Papa, hahaha,” ujar Rania yang membuat wajah Ravi menengang. Luna dan Darrel menatap Ravi dengan alis yang terangkat. Ravi langsung mengangkat tangannya dan melihat ke arah mama papanya dengan diam, setelah beberapa saat terdiam, Ravi akhirnya menghembuskan napasnya panjang.
“Ravi sebenarnya mau bilang ke mama dan papa, tadi kan Rvai mau bilang tapi malah diusir sama papa, Ravi gak mau umpetin apa apa kok beneran deh. Lagian kan udah biasa kalau anak SMA pacaran, Ravi gak akan turun deh nilainya dan Alena juga anak yang baik, beneran deh,” ujar Ravi yang membuat Rania langsung tertawa mendengar pengakuan itu.
“Hahaha, Kak Ravi yang bilang sendiri kan ma ke mama dan papa, Rania Cuma bilang apa tadi? ‘aku udah kasih tahu semua’ dan dia jujur sendiri. Hahahaha,” ujar Rania yang puas. Ravi langsung terdiam mendengar itu, rupanya Rania belum mengatakan apapun, malah dia sendiri yang menceritakan semua pada mama papanya. Dia merasa malu tak tertahan karna hal itu.
“Kamu jadi tadi senang banget tuh karna pacaran sama Alena? Astaga, papa sih, anaknya mau cerita malah diusir, padahal ini kan cerita seru banget, kapan lagi kan anak anak mama pacaran pas SMA,” ujar Luna yang membuat Rania mengerutkan keningnya dengan heran.
“Kak Ravi sering pacaran kok ma, Cuma yang pacarnya anak beres ya Cuma Alena aja, yang lain gak ada yang beres makanya putus sama dia, hahaha,” ujar Rania yang malah membuat Luna terkejut, begitu juga Darrel. Ravi merasa ditelanjangi oleh adiknya sendiri. Dia langsung merasa dendam dan langsung membuka mulutnya.
“Ah, tapi kak Ravi itu anaknya baik ma, jadi kalau ada cewek yang gak baik ya dia gak mau lagi sama dia Ma, Pa, ya kan kak Ravi? Kalau sekarang ceweknya baik, jadi ya dipublish, ya kan kak Ravi? Kak Ravi yang baik, yang ganteng, nanti kalau mau minta di traktir sama Rania, Rania traktir ya,” ujar Rania cepat karna dia tahu apa yang hendak dikatakan oleh Ravi. Lelaki itu memicingkan matanya dan Rania langsung menutup mulutnya.
“Oke, trantir ya, berarti sekarang kamu traktir kak Ravi buat Cuma Cuma, terus besok traktir karna jadian sama Adlannn hahahahhaha.” Balas Ravi yang membuat Rania merasa malu. Luna sampai terkejut namun juga tersenyum, ternyata bukan hanya Ravi yang menjadi pemeran utama hari ini namun juga Rania. Gadis itu langsung diam tak bisa mengatakan apa apa, sementara Darrel tampak serius menanggapi apa yang dikatakan oleh Ravi.
“Adlan? Siapa Adlan? Apa papa kenal?” tanya Darrel yang langsung diangguki semangat oleh anaknya. Sementara Rania langsung bersembunyi di balik Luna, malu menghadapi keluarganya karna biasanya dia diperlakukan seperti yang paling kesil, sekarang harus menjadi anak remaja, rasanya tetap aneh dan tidak nyaman baginya.
“Lan Len Lan Len! Belum ada sehari jadi pacar, udah lupa nama adik sendiri. Huu dasar abang durhaka. Ma, lihat tuh kak Ravi, masak dia panggil Rania pakai nama Len? Kan gak baik tuh ma isi kepalanya Alena semua, padahal kan harusnya keluarga di atas segalanya. Iya kan ma? Iya kan ma?”
“Udah udah, kalian ini baru punya pacar satu satu kok ya udah bertengkar. Coba sini cerita satu satu ke mama kenapa kalian suka sama cowok dan cewek itu? dari Ravi dulu deh, karna udah pacaran,” ujar Luna yang membuat Ravi tersipu, namun dia sudah terbiasa bersikap terbuka dengan keluarganya, jadi dia duduk di hadapan Luna dan Darrel.
“Alena punya energi yang positif dan rendah hati banget Ma, dia bahkan gak kayak anak orang kaya kan ma? Padahal loh ma, dia itu anak dari keluarga Sanjaya juga. Mamanya ada keturunan Sanjaya, bayangin deh tuh ma, anak pemilik yayasan, tapi dia gak kelihatan sama sekali kalau dia anak dari keluarga Sanjaya, makanya Ravi merasa kagum aja gitu ma sama dia, kok ada anak yang sesederhana itu,” ujar Ravi yang diangguk angguki oleh Luna.
“Wait, Alena anak keluarga Sanjaya? Pantas aja!! Aku lupa deh berapa hari lalu, Alena itu dipanggil ke ruang yayasan ma, ternyata dia kayak ngelaporin orang yang ngebully dia gitu ma, nah Rania bingung dong, kok ada orang yang berani ngelaporin penyumbang berpengaruh SMA Sanjaya dan bahkan langsung dikeluarkan,” ujar Rania yang membuat Ravi bingung, dia tidak pernah mendengar cerita ini sebelumnya.
“Terus waktu Rania curiga nih ma, dia tuh Cuma jawab kalau SMA Sanjaya ketua yayasannya baik dan Adil, jadi kalau ada kesalahan fatal, pasti dibela. Tapi aneh aja gitu dia langsung dipercaya dan prosesnya cepat, ternyata dia ada hubungannya sama pemilik yayasan. Keren banget sih dia bisa menggunakan kekuasaan untuk hal yang baik, gak sok kece jadi kenalan orang dalam.”
“Emang siapa sih pemilik yayasan Sanjaya? Kok Mama gak pernah tahu gitu ya?” tanya Luna heran. Darrel mencoba mengingat ingat nama orang itu, dia ingat sekali jika pemilik Yayasan adalah orang yang berhuhungan baik dengan keluarga Wilkinson, bahkan namanya pun mirip dengan nama bang Jordan.
“Aduh, siapa sih itu namanya. Eum, ah, Johan. Itu loh, kamu ingat gak ada anak di Sanjaya yang seumuran kamu, perempuan, nah dia punya kakak tuh namanya Johan, si Johan ini yang punya yayasan, katanya dia selain berbisnis mau ke bidang sosial gitu,” ujar Darrel yang diangguki oleh Luna.
“Bagus dong kalau kamu dapay anak yang baik, nah sekarang Rania nih, gantian kamu yang cerita kenapa kamu kok bisa jadi pacaran sama Adlan?” tanya Luna yang membuat Rania malu malu.
“Gak pacaran ma, Cuma dekat aja, dia kan pintar matematika dan mau ngajarin Rania, jadi ya tadi video call pun ngebahas PR Rania, dia baik dan mungkin kalau mama ingat, dia pernah jadi tetangga kita ma,” ujar Rania yang membuat Luna mengerutkan keningnya. Rania langsung menatap ke arah Darrel.
“dulu pa, dulu kan karna Rania sakit, Rania gak bisa ikut pelajaran olah raga, Rania terlalu lemah, nah karna itulah Rania memilih renang. Ingat kan? Di pas pelatihan renang, Rania pernah nangis karna ada cowok gendut jelek yang dekat ke Rania, nah, cowok itu Adlan pa, Cuma dulu nama dia Dicky,” ujar Rania yang membuat Darrel memicing.
“Ah, anak yang gendut, hitam dan beringus itu ya hidungnya? Yang pas dia ke sini kamu malah nangis padahal kalian bisa belajar renang bareng, iya kan? Dia sudah tumbuh sekali, sudah jadi tampan begitu, keren juga ya,” ujar Darrel yang membuat Rania mengangguk.
“Dia bilang gini pa, dulu aku jelek, susah buat jalan dan bahkan pas renang dibilang buntalan gas lagi mengambang. Terus kamu jadi jijik sama aku. Pas aku pindah, aku jadi berubah, aku pengen setelah berubah kembali lagi ke sini dan tunjukkan ke kamu, aku udah berubah. Begitu pa, kan keren ya pa,” ujar Rania yang membuat Darrel tertawa.
“Ya, dia anak yangh penuh tekat dan bertanggung jawab dengan ucapannya. Papa menyukainya, namun jika itu untuk jadi pacar kamu, mungkin Papa harus memikirkannya lagi, apa kamu yakin dia lelaki yang baik untuk dijadikan kekasih? Karna kamu perempuan, papa harus lihat nih calon mantu papa seperti apa, bisa menjaga kamu atau tidak,” ujar Darrel yang membuat Luna dan Ravi tertawa.
“ih Papa, Rania aja juga belum pacaran kok sama dia, papa kenapa deh begitu,” ujar Ravi yang menyerobot untuk meledek Rania. Gadis itu memanyunkan bibirnya dan ingin memukul, namun Ravi segera menangkisnya dan tertawa puas.
“Eh, kalau bujang mama yang satu lagi bagaimana kabarnya tuh? Kok mma agak dengar kabar dia udah punya pacar sih? Dia udah punya pacar belum sih? Pada taktu kalik ya sama dia dingin banget orangnya,” ujar Luna yang mendapat lirikan dari Darrel, Luna langsung mengedikkan bahunya dan melihat ke arah lain.
“coba kita dengarkan Rania karna dia yang satu sekolah sama Rashi. Ayo nasarumber kami, coba ceritakan apa yang terjadi dengan Rashi,” ujar Ravi yang membuat Rania berpikir, namun entah mengapa ada satu nama yang terus muncul dalam benaknya.
“Kayaknya bukan pacar sih ya, tapi gak tahu juga deh dan rania gak bisa ngomogn banyak banyak, takutnya kalau salah malah jadi perang dunia ke5 nanti, yang ke 3 kalau mama papa ribut masalah makan makan, yang ke 4 ributnya kak Rashi dan kak Ravi,” ujar Rania yang membuat mereka makin penasaran karna yakin Rashi tidak akan pernah nyaman dekat orang lain apalagi perempuan.
Baru saja mereka berhenti bicara, Rashi muncul dari dalam kamarnya, berjalan ke arah dapur, mengambil makanan yang ada di laci dan menghampiri mereka. Suasana langsung menjadi hening dan canggung, mereka berharap Rashi tak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
“Rashi langsung ke kamar ya ma, gak enak badan, ini baru aja hidung Rashi gatal,” ujar anak itu dengan dingin dan langsung kembali masuk ke dalam kamarnya. Luna menggeleng gelengkan kepalanya, menatap ke arah suaminya dan berkata
“Kayaknya gak mungkin tuh anak bisa punya papar dalam waktu dekat,” ujarnya yakin.