Dear Happiness

Dear Happiness
Chapt 54



Saat hendak pulang, Alena dicegat oleh Rania yang ternyata sudah mulai masuk sekolah. Gadis itu ingin menanyakan kenapa Alena sampai dipanggil oleh kepala sekolah. Alena bukan anak yang suka berbuat onar, jadi pasti ada hal yang lain membuat Alena dipanggil setelah anak bernama Anggun itu. Namun Alena tetap diam sampai mereka ada di gerbang depan.


"Masuk mobil dulu aja, kita ke tempat Rashi juga sekalian, di jalan aku bisa cerita ke kamu," ujar Alena yang diangguki oleh Rania. Mereka masuk ke mobil Rania dan segera pergi dari sana. Di jalan Alena menceritakan semua yang terjadi dan Rania mendengarkan dengan geram. Dia baru menemukan orang yang berkelakuan seperti iblis itu.


"Tapi kamu keren banget loh, aku gak nyangka kamu bisa ngeluarin orang yang super power begitu, gak banyak orang yang berani lawan orang kayak mereka. Kamu keren sih, aku mengakui itu. Dan biasanya orang yang berani begitu ya oeang yang punya power, kalau orang biasa mana berani, yang ada malah dia yang dikeluarin," ujar Rania yang membuat Alena menggelengkan kepalanya.


"Gak juga kok sebenarnya, kamu kalau ada masalah apa, walau kamu anak biasa, kamu lapor ke kepala yayasan, pasti ditanggapi sama dia. Beliau orang baik kok dan gak gila uang juga, yah walau kalau sama keluarga Wilkinson kekayaannya jauh, tapi lumayan lah," ujar Alena santai.


"Ya emang kalau kepala yayasannya mendengar sih oke ya, nah tapi nih, kalau tuh orang yang berpower kayak Anggun malah memutar balik fakta, ngancem tentang sumbangan dan lain hal, apa gak gawat tuh?" Tanya Rania yang tentu membuat Alena makin terkekeh, namun dia tidak menjawab lagi karna dia juga yakin Rania tidak akan memiliki musuh karna sikap, sifat dan tentu saja parasnya mendukung.


"Eh tunggu dulu, kalau kamu bisa dengan mudah membujuk pemilik yayasan, eh bukan ya, ketua yayasan, berarti kamu bukan orang sembarangan dong?" Tanya Rania yang baru sadar akan hal itu. Alena hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh, membuat Rania makin curiga, namun tidak mau bertanya lebih jauh lagi.


Mereka sampai di rumah sakit dan melihat Rashi yang sudah bisa berjalan ke sana kemari. Rashi dan Ravi memang tipe anak yang kuat dan memiliki tekad sembuh yang tinggi, dia tidak ingin berlama lama berbaring di tempat tidur, jadi dia mencoba berjalan jalan meski merasa lemas dan pusing.


"Wah, dua hari lagi kak Rashi bisa pulang sih pasti kalau udah sepulih ini. Cuma tinggal rawat jalan dan bisa sekolah lagi deh," ujar Rania yang diangguki oleh Rashi, dia juga berencana seperti itu, namun karna Luna yang menganggap Rashi lemah, dia tidak mengijinkan anak itu untuk pulang.


"Kalau mama gak minta aku buat nginap di sini, aku udah pulang dari kemarin. Tapi mama yang paksa aku buat tetap di sini, jadi ya aku gak bisa apa apa juga," ujar Rashi yang diangguki oleh Rania. Dia tahu jika Mamanya memang akan selalu bersikap berlebihan dalam keadaan apapun. Sepertinya bersekolah di STM tidak membuat Mamanya menjadi biasa saja dalam menghadapi masalah.


"Lagian papa juga selalu ngebela mama, aku jadi gak bisa apa apa juga. Aku gak bisa protes atau gimana, gak berani aku bantah papa," ujar Rashi dengan kesal dan sedih. Rania mencoba untuk menghibur kakaknya itu, karna dia juga sering merasakan hal yang sama, namun itu semua memang Luna lakukan demi membuat anak anaknya aman, makanya mereka bisa hidup sehat sampai sekarang.


"Ya udah, sisi baiknya, kak Rashi kan gak perlu sekolah dulu, ya kan? Lumayan hari liburnya jadi lebih banyak, tugas juga dikerjakan sama joki kan? Udah, nyantai aja dulu di sini," ujar Rania yang tentu tidak disetujui oleh Rashi, meski semua tugasnya dikerjakan oleh orang lain, dia tetap saja merasa bosan dan ingin segera pergi sekolah.


"Tetep aja, pegel tahu harus tidur seharian, aku tuh cuma bisa pergi dari kasur kalau mama gak ada, gak enak banget, tunggu dokter bilang oke dulu baru boleh sama mama," ujar Rashi yang mengakhiri percakapan mereka. Mereka sibuk dengan urusan masing masing, sampai pintu kamar inap itu terbuka dan memperlihatkan Luna dan Darrel yang masuk ke kamar itu.


"Loh? Gak ada Ravi? Seharusnya Ravi udah sampai ke sini, di rumah juga gak ada? Apa terjadi sesuatu lagi?" Tanya Luna pada Darrel. Tentu saja lelaki itu tak tahu dan langsung mengambil ponselnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dia menelpon pengawal pribadi Ravi untuk menanyakan keberadaan anaknya itu.


"Maaf tuan, tuan muda Ravi belum keluar dari sekolahnya. Kami juga kehilangan jejak kemana tuan muda Ravi pergi, tapi yang jelas dia belum keluar dari sekolah, kami juga sudah masuk dan mencari, tapi belum menemukannya. Kemungkinan dia ada tugas kelompok, kami akan mencari ke setiap kelas," ujar Pengawal itu yang membuat Darrel berpikir.


"Coba dicari juga ke semua kantin, perpustakaan, dan eeumm ke atap juga," ujar Darrel yang ingat tempat yang paling dia sukai saat membolos atau saat bersama Luna adalah atap sekolah. Siapa tahu Ravi memang ada di salah satu atap di sekolahnya.


"Kabari saya secepatnya, kalian harus menemukan Ravi dalam keadaan selamat, kalau dalam 30 menit belum ketemu, kabarkan semua pengawal untuk ikut mencarinya, karna biasanya dia pamit jika ada apa apa," ujar Darrel yang langsung menutup panggilan yang sedang berlangsung


"Gak usah khawatir gitu, Ravi kan laki laki, dia hilang di sekolah, paling juga dia masih nongkrong di sekolah, ke kantin atau le atap sekolah kayak kita," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna, meski dia khawatir mengingat kondisi Rashi yang memang tak begitu baik saat ini.


"Tapi Pa, kak Ravi kan gak suka tempat seperti atap atau balkon, dia selalu menganggap itu membosankan dan milih buat pergi ke tempat lain," ujar Rania yang mengingat kebiasaan Ravi yang menurutnya juga aneh, namun dia mengerti setelah tahu alasan Ravi, yah, lelaki itu tak begitu suka kedamaian dan ketenangan.


"Ya dicoba aja dulu, siapa tahu kan dia ketemu sama cewek kayak mamamu ini, dulu kan papa ketemu mama juga begitu, jadi suka tempat yang biasanya papa gak suka. Mama kamu yang kasih dunia baru buat papa," ujar Darrel santai. Namun hal itu membuat Rania menatap ke arah Alena, dia bisa melihat wajah Alena yang langsung berubah.


"Yah papa, gak tahu sih," ujar Rania lirih karna merasa tak enak pada Alena. Meski Alena tidak mengatakan apapun, Rania tahu, gadis itu terlihat tak nyaman. Namun baik Rania, Rashi dan Luna, mereka sama sama diam dan tidak memberi tahu Darrel tentang Alena dan Ravi.


"Ah, kalian di sini? Astaga, ternyata sudah 3 jam aku tidur di sini. Kalian harus mencoba untuk tidur di sini juga, di sini sangat nyaman dan enak, kalian pasti menyukainya," ujar Ravi dengan canggung. Dia segera membangunkan Thea. Rupanya mereka sudah sangat terlambat dan bahksn kelas benar benar sepi, namun mereka malah berada di sini dan tertidur. Untung saja yang menemukan mereka adalah pengawal Ravi, jika tidak, mungkin saja jika guru yang menemukan, mereka akan diarak, diintrograsi dan dianggap melakukan sesuatu yang terlarang. Ravi dan Thea langsung merapikan rambut dan wajah mereka, lalu menatap pengawal yang kebingungan.


"Saya gak papa, nih, saya bisa berdiri, nih juga, saya gak ngapa ngapain sama dia loh, nih lihat, kami cuma ketiduran di sini, udah ayo kita pulang aja, udah sore," ujar Ravi yang diangguki oleh mereka, namun mereka takjub saat melihat Ravi sudah bisa berdiri tanpa bantuan tongkat, Ravi tidak menyadari hal itu.


"Tuan muda, ini tongkat tuan muda masih di sini, apa tuan tidak merasa sakit pada kaki tuan meski berdiri tanpa menggunakan tongkat? Saya rasa tuan sudah hampir sepenuhnya pulih, kami akan memberitahu tuan besar dan nyonya besar tentang hal ini," ujar pengawal itu dengan senang. Ravi juga baru menyadari itu, dia segera menatap ke arah Thea dengan senyum lebarnya.


"Iya loh, gue udah bisa berdiri tanpa tongkat walau masih nyeri dikit dikit. Padahal tadi lo udah tubrukin gue sampai jatuh, ternyata malah bikin gue tambah pulih. Tahu gitu dari awal lo nyusruk ke gue aja!" Heboh Ravi yang tentu membuat Thea merasa malu di hadapan pengawal yang menurutnya asing.


"Lo pulang naik apa?" Tanya Ravi yang sebenarnya berbasa basi, namun saat tahu Thea akan berjalan kaki, tentu saja Ravi merasa tak tega. Jam segini untuk mencari angkot pun sudah jarang, jika berjalan kaki meski jaraknya dekat pun, pasti akan melelahkan. Thea sampai seperti ini karna dirinya, jadi dia akan bertanggung jawab akan hal itu.


"Ya udah, pak, tolong antar Thea sampai ke depan rumahnya pakai mobil pengawal 3 ya, saya harus ke rumah sakitnya Rashi, biar mereka gak khawatir. Te, lo sama pengawal gue, gak ada bantahan ya, tapi sordy gue gak bisa antar, makin lama gue ke sana, makin salah paham pula mereka. Lo hati hati ya, gue balik," ujar Ravi yang diangguki oleh Thea. Gadis itu langsung pergi bersama pengawal yang ada di sebelah Ravi. Sementars Ravi pergi juga di belakang gadis itu untuk ke rumah sakit, kali ini dengan bantuan tongkat karna dia masih belum lancar berjalan.


Sesampainya di kamar inap itu. Ravi langsung disambut berbagai macam tatapan di sana. Terutama papanya yang sepertinya sudah tahu dan mendapat kabar jika Ravi ketiduran di sana. Dia juga bisa melihat tatapan tak suka dari Rashi, tatapan empati dari mama dan Rania serta tatapan kecewa dari Alena.


"Coba sini cerita kenapa bisa sampai ada di atas sana sama cewek? Pacar kamu ya? Kenapa gak dikenalkan sama papa? Padahal kalau kamu kenalkan, papa akan kasih tips ke kamu buat dapatkan cewek itu seperti papa dapatkan mamamu. Kuncinya, terjang aja selagi tuh cewek gak ada pacar, pasti lama lama luluh kok," ujar Darrel yang membuat Ravi makin salah tingkah.


"Pa, itu cuma teman Ravi, bukan teman juga sih, cuma kakak kelas malah. Ravi benar benar gak ada apa apa sama dia pa, panjang banget cerita dan Ravi malas ceritanya. Yang jelas Ravi memang suka sama orang, tapi Ravi gak mau cerita dulu ke Papa, nanti ya pa kalau Ravi udah pacaran sama dia, Ravi kenalkan ke papa," ujar lelaki itu dengan ceria.


"Wow, apa papa kenal orangnya? Apa orangnya cantik? Siapa? Pasti papa tahu kan? Siapa?" Tanys Darrel antusias. Ravi menatap ke arah lain, namun memang sengaja tak langsung menatap ke arah Alena agar Darrel tak langsung curiga. Setelah beberapa saat, barulah dia menatap le arah Alena yang juga menatapnya. Namun Ravi masih tak tahu tatapan apa itu.


Ravi membuka ponselnya dan ingin menanyakan apakah Thea sudah sampai di tempatnya dengan selamat atau belum, dia ingin memastikan gadis itu dalam kondisi yang nyaman dan aman. Dia mengirim pesan dan langsunv menghampiri Alena yabg kebetulan ada di sebelah Rashi.


"Lo gimana? Besok sekolah berani lah ya?" Tantang Ravi yang sebenarnya memberi dukungan. Dia ingin saudaranya bisa lekas pulih seperti biasa tanpa kurang suatu apapun. Dia langsung dijawab anggukan oleh Rashi, namun saat mereka melihat ke arah Luna, tampak ibu mereka tak suka dengan tantangan yang Ravi berikan.


"Gak ada yang begitu, tunggu dokter bilang Rashi udah pulih, baru kita pulang ke rumah, tunggu beberapa waktu untuk memastikan, baru deh tuh Rashi boleh pergi lagi ke selolah. Gak usah aneh aneh ya Ravi kalau ngajarin kakaknya," ujar Luna yang membuat Ravi cekikikan. Dia tahu mamanya tak akan pernah mengijinkan anak anaknya menjalani aktivitas dalam keadaan sakit.


"Ya udah loh kalau mereka terutama Rashi emang udah pengen sekolah lagi, kasih ijin aja, sku mengijinkan kok. Kasihan juga mereka kan, takutnya mereka karna nyaman dilayani, apa apa ada, aku takut kalau medeka malah gak mau usaha sendiri, makanya kita yang kasih kesempatan dulu," ujar Darrel yang tentu tak disetujui oleh Luna. Bahkan wanita itu menganggap suaminya begitu konyol dan ceoboh untuk masalah ini. Dia tidak terima diperlakukan seperti musuh oleh keluarganya sendiri.


"Ya udah, terserah kalian mau gimana, ya udah, lakukan aja sesuka kalian aja deh ya," ujar Luna yang langsung keluar dari kamar innap entah menuju kemana. Darrel langsung mengejar, sisalah mereka berempat di ruangan itu."


"Aku harap walau ada berita semiring itu, kamu tetap percaya sama aku ya, aku gak akan dan tidak akan pernah mau buat nyakitin kamu, berminat atau malah sengaja. Aku benar benar sayang sama kamu, jadi jangan salah paham sama kakak kelasku juga.


"Kalau kamu masih gak percaya, besok aku bawa dia ke sini deh buat ketemu kamu, biar nanti kamu percaya kalau aku cuma suka kamu, atau aku perlu pindah beneran? Aku bakal bilang ke papa deh kalau memang iya," ujar Ravi yang tentu dicegah oleh Alena. Gadis itu tahu, Ravi akan sungguh meminta pada papanya untik hal itu, jadi Alena harus mencegahnya agar sesuatu yang butuk tak terjadi.


"Iya aku percaya sama kamu, aku percaya kamu gak akan gitu, santai aja," ujar Alena yang membuat Ravi tersenyum senang.


"Pacar aku emang terbaik kok," ujar Ravi yang sudsh mengambil mie instan dan bersiap membukanya.