
...Logika nya begini, kalau kamu ga di cari berarti kamu ga terlalu berarti....
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
...****************...
Sesampai nya di bandara, Yee-jun segera mengambil koper nya. Saat mengangkat koper itu, seperti ada yang tidak beres, ia melirik kearah Romeo dengan wajah bertanya-tanya.
"Romeo, " dengan memanggil nya saja, Romeo faham apa yang di maksud Yee-jun. Romeo menarik koper nya dan berjalan menuju tempat yang tidak terdapat CCTV bandara. Yee-jun dengan gelisah mengikuti Romeo.
Romeo menggeletakkan koper nya pada sebuah sudut yang lumayan sepi dan tidak ada kamera yang menyorot mereka.
Sreeeekkkk
Betapa marah nya Yee-jun saat melihat isi koper itu adalah Zoya, dan ia terkungkung di dalam koper dalam waktu yang cukup lama. Romeo berusaha membangunkan Zoya dan ternyata ia hanya tertidur.
"Kauuuuu!! " tekan Yee-jun sampai meremas buku paspor nya.
"Pak, "dengan sumringah nya Zoya tersenyum.
Ctaassss
Yee-jun menampar pipi Zoya dengan sekali pukulan mampu membuat pipi nya merah dan terdapat bekas cap tangan.
"Sakit? hm? " tanya nya dengan rahang mengeras dan rongga mata yang di penuhi dengan bara api yang begitu menghipnotis nya.
"Tuan, " panggil Romeo yang terkejut atas tindakan Yee-jun di luar batas.
Zoya terdiam pilu merasakan begitu sakit nya pipi yang telah di tampar oleh Yee-jun, tidak berani berkata apapun dan meneteskan air mata nya tanpa di minta.
"Tuan, anda tidak boleh menyakiti wanita, " peringat Romeo menatap Zoya dengan tatapan mengasihani.
"MURAHAN!! " pekik Yee-jun di depan wajah Zoya, "Kau berani mengikuti ku sampai ke Amerika hanya untuk memberi makan sifat egois mu itu?MENJIJIKKAN, " tekan Yee-jun lagi dan ia sungguh muak dengan drama biadab yang di ciptakan Zoya.
"Romeo, ayo pergi. Biarkan dia di tempat ini, bahkan sampai diri nya di kabarkan membusuk pun aku tidak perduli, " Yee-jun melenggang pergi.
" Pak, "panggil Zoya dengan nada lirih dan takut dengan keputusan Yee-jun akan meninggalkan nya. Yee-jun melihat kebelakang dengan tatapan tajam nan benci.
" Jangan berani kau sebut nama ku, selain wanita kesayangan ku, kau mengerti ******? "Kata-kata pahit nan sengit itu pun berhasil menusuk nya hingga ke rongga belakang, air mata nya jatuh semakin deras bahkan Zoya juga heran dengan pipi nya yang tiba-tiba basah.
Yee-jun pergi tanpa memikirkan keputusan nya untuk yang kedua kali nya. Zoya merunduk sendu, padahal ia sangat ingin melindungi Yee-jun jika terjadi sesuatu terlebih lagi Yee-jun seorang mafia yang bisa kapan saja terbunuh oleh musuh. Namun kehadiran nya sampai sejauh ini hanyalah sampah dan kotoran yang menempel pada sela-sela kehidupan Yee-jun. Ia selalu tabah dan sabar saat menerima perlakuan bak hewan melatah di hadapan Yee-jun. Heran nya, entah seperti apa hati Zoya terbuat, cinta nya malah semakin bertumbuh semakin pesat. Kaki nya yang masih terbalut gips keras dan penampilan nya yang cukup berantakan membuat penghuni bandara melihat nya dengan tatapan mengasihani dan jijik.
" Ada yang bisa saya bantu nona? "penjaga keamanan mendatangi nya dan menanyakan perihal keperluan nya di tempat itu.
" Saya membutuhkan telepon umum, "jawab Zoya yang menemukan gulungan kecil di saku gamis nya. Sedikit bahasa Inggris yang di ketahui Zoya, membuat penjaga itu faham dan langsung mengantarkan nya ke telepon umum bandara.
Dengan hati yang teramat sakit dan teriris goresan yang cukup besar semakin membuat nya terpuruk lemah dan menangis dengan relung hati yang terkoyak.
Ia menekan nomor yang ada dikertas itu, Boy tujuan nya hanyalah Boy sahabat lama nya. Sambungan masih berbunyi berusaha menghubungkan ke nomor Boy.
" Boy, "panggil nya dengan lirik sembari menangis.
" Zee, ini lu, "
"Gue butuh bantuan lu Boy, tolong gue, "
"Zee, lu kenapa? apa yang bisa gue bantu? "
"Gue di Amerika dan bingung bagaimana cara nya untuk pulang... hiks hiks, "
"Amerika? bagaimana bisa? "
"Nanti gue kasih tau kalau kita udah jumpa, "
"Kemungkinan akan lama Zee, gue bakal jemput lu tapi jaga diri lu baik-baik sebelum gue sampai, "
"Iya gue bakal jaga diri gue, "
Sambungan terputus dengan sisa waktu yang terbatas, Zoya menggantungkan telepon umum itu pada tempat nya dan bersandar lemas pada pilar bagunan.
"Yaa Allah, "
***
"Tuan, apakah anda benar-benar akan meninggalkan wanita itu? " tanya Romeo sekali lagi sementara mereka sudah berada di perjalanan yang jauh jarak nya dari bandara.
"Siap tuan, " Romeo membenahi posisi duduk nya karena tidak terlalu nyaman.
Sementara itu, di sisi lain. Hye-joon dan yang lain nya sedang frustasi dengan menghilang nya Zoya dan sudah pasti ia mengikuti Yee-jun sampai ke Amerika.
"Bagaimana bisa Zoya berfikiran untuk mengikuti Yee-jun sampai kesana, " kesal Yeon-jin dengan menggebrak meja kaca yang berada di hadapannya.
"Aku rasa Zoya benar-benar tergila-gila dengan Yee-jun, " ujar Dae-ho memngusap dagu nya.
"Yang ku fikirkan bagaimana jika bibi nya Zoya datang mencari nya? " tutur Hye-joon mengalihkan tatapan mereka semua.
"Sebenernya ini apa sih? " keluh Ryung-jae juga heran dengan kehadiran Zoya dan perilaku nya di luar batas.
"Entah lah, tapi ku lihat Jee Hyung tampak dekat dengan nya, "Dagu Dae-ho dan yang lainnya terangkat saat melihat Ryung-jae beranjak dari duduk nya sembari membawa Jaz kantor yang ia kenakan.
" Mau kemana lu? "
"Gue kangen Alexa, darling i'm coming, " serunya bersenandung ria.
"Abanggg!!! i ikut, "pekik Da-eun menggema.
" You di rumah aja, i mau kencan dengan Alexa, "Hye-joon menghela nafas getir, seperti nya memang benar tidak ada yang bisa menggantikan sosok Alexa sekali pun wajah yang sama.
" Gue mau ke atas, "ujar Hye-joon tiba-tiba dan merasakan ingin nya ia seorang diri dalam perkara rasa rindu.
Sesampai nya di kamar, benar, Hye-joon menatap foto Alexa dengan rasa rindu yang sangat dalam. " Satu tahun lebih ga sama kamu, daddy rindu, "air mata nya mengalir begitu saja, Hye-joon menghapus nya dan membuat bendungan agar ia tidak menangis di hadapan buah hati nya.
" Kamu ga rindu lagi sama Daddy yah? "
" Daddy ga bisa lupain kamu, sekali pun dengan tugas kantor yang menumpuk, "
"Dadddyyyy!! "
Teriakan itu begitu nyata, Hye-joon terkejut dan segera berlari menuju balkon kamar nya. Dengan rasa senang jika Alexa kembali, Hye-joon siap menyahut.
"Al---
Hye-joon tertipu dengan suatu penampakan yang membuat nya semakin merindukan Alexa. Ternyata itu suara teriakan anak dari penjaga yang bertugas di rumah nya, gadis kecil itu berlari menghampiri sang daddy dengan raut wajah yang begitu bahagia.
" Eo... Roo-na daddy bilang jangan berlari, "pekik daddy nya khawatir dan ia bersiap untuk menangkap sang gadis yang akan melompat memeluk nya.
"Daddy, Roo-na punya permen, " sang penjaga tidak sengaja melihat keatas dan melihat Hye-joon tengah menatap nya.Penjaga itu segera menunduk dengan rasa tidak enak hati.
"Selamat siang Pak, maaf saya membawa anak saya ke tempat kerja, ibu nya sedang sakit jadi saya membawa nya kesini, " ujar penjaga itu sembari menatap putri kecil nya.
"Eo, jaga lah anak mu baik-baik, "jawab Hye-joon tersenyum lembut menatap Roo-na.
"Terima kas--
" Paman yang tampan, jangan bersedih kau akan segera memiliki anak, "seru Roo-na dengan tiba-tiba sampai membuat Hye-joon tertawa geli atau tertawa sedih.
" Roo-na, jangan menyela orang tua, cepat segeralah minta maaf, "penjaga itu memarahi anak nya karena berlaku tidak sopan.
" Maafkan aku paman, "
"Baiklah, " jawab Hye-joon dengan tawa nya.
Gadis kecil itu turun dari gendongan daddy nya dan bermain dengan riang. Hye-joon menghela nafas sesak mendengar ucapan gadis itu.
"Anak ku sudah meninggal, " gumam nya dengan rasa sedih yang mendalam.
Sementara itu, Ryung-jae menghadiahi Alexa dengan satu kuntum bunga mawar merah, "Tadaaaa!!!..abang kasih suprise bunga mawar buat kamu, " seru nya dengan riang.
"Suka ga? "
"Emm? ga suka? jadi kamu suka nya apa? hm? bilang aja sama abang biar abang beliin apa yang kamu mau, abang bangkrut karena mu juga tidak apa-apa. Abang rela kehilangan uang ratusan miliyar asal abang tidak kehilangan kamu, " nada bicara nya semakin lirih.
"Tapi kenapa semua malah berbanding terbalik, abang kehilangan kamu ,uang abang yang tidak terpakai. Hambar sayang kalau tidak ada kamu, bidadari abang dan daddy, "Ryung-jae menghapus air mata nya yang mengalir tanpa di sengaja, lalu ia mengusap nisan makam Alexa.
"Emmm.. baiklah abang tidak akan menangis lagi. Kamu harus percaya ini bukan air mata sedih, tapi air mata rindu sama kamu cantik, " Ryung-jae tersenyum getir, padahal itu sama saja air mata kerinduan yang tidak terbalas sepenuh nya.
"Abang juga pengen tidur di samping kamu.. hiks, "
.......
.......
.......
.......
.......