
...Mencintaimu itu, benar-benar candu. Namun memiliki mu hanyalah khayalan lucu yang selalu ku panjatkan dalam doa ku....
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
.......
...****************...
"Eonnie, ini kamar kita anggap aja milik sendiri, ok, " seru nya menarik koper dan membuka pintu kamar itu. Zoya sedikit bingung dan tidak tau harus berbuat apa, di sisi lain ia kesulitan menjalankan kursi roda nya.Relung hati nya sangat tidak mengenakkan dan begitu canggung.
"Biar saya bantu, Nona, " ucap seorang maid membantu mendorong kursi roda itu, namun ia segera mencegah nya dengan alasan tidak enak hati.
"Engga usah.. engga usah saya bisa sendiri, maaf yah saya ga mau ngerepotin, " sambar nya dengan senyuman canggung.
"Ga papa Nona, tugas saya di sini untuk merawat anda, "Zoya tetap menolak tawaran itu.
"Engg... eh? merawat? " maid itu mengangguk tersenyum lalu mendorong kursi roda Zoya untuk memasuki kamar sementara nya.
"Eonnie, i baru saja ingin menyusul you, "Zoya semakin tidak enak hati, ini sangat berlebihan dan jauh dari ekspetasi nya.
" Nona ingin apa biar saya ambilkan, "ujar si maid.
" Engga.. ga ada yang saya butuh kan, "jawab nya dengan malu.
" You tolong dong siapkan air panas untuk i. Eonnie Zoya juga perlu di bersihkan, "pinta Da-eun dan langsung di lakukan oleh maid tersebut.
" Da-eun, kamu ga perlu minta untuk bersihin tubuh aku. Aku bisa sendiri, "
"You ga bisa eonnie, udah nikmati aja yang di kasih Kak Hye-joon untuk eonnie, ok, "
***
Setelah selesai membersihkan tubuh, Zoya terdiam di balkon kamar Da-eun. Ia termenung seorang diri,berulang kali menghela nafas dengan rasa gelisah dan gugup. Zoya menarik mundur kursi roda nya, berniat mengambil obat penenang yang tersimpan.
Setelah menenggak dua butir kapsul, Zoya merasakan kelegahan dan tidak merasakan hal seperti tadi. Da-eun baru saja keluar dari bathroom nya dengan jubah putih dan rambut terlilit handuk.
"Kau sudah selesai? "tanya Zoya hanya sekedar berbasa-basi, Da-eun menggangguk tersenyum.
" Eonnie, turun lah lebih dulu mungkin makan malam sudah di siapkan, i akan menyusul nanti, "Zoya menggangguk dengan ragu-ragu. Da-eun pergi menuju ruang ganti, bukan nya mengikuti ucapan Da-eun, Zoya mendorong kursi roda nya menuju tempat nya tadi, Balkon.
Sesampai nya di sana, handphone yang berada di pangkuan nya bergetar. Ada sebuah panggilan masuk namun tidak memiliki nama, karena penasaran dan dengan hati-hati ia menggeser nya ke iKON hijau.
" Hallo? "seru nya pelan, terdengar suara seseorang seperti sedang menangis.
" Ini Zoya kan? "jawab seseorang tersebut membuat Zoya mengerutkan dahi nya, suara itu sangat familiar.
" Iya benar ini Zoya, maaf...
"Ini uwak mu, " Zoya baru teringat ternyata pemilik suara ini adalah saudara dekat nya yang ada di Indonesia.
"Uwak.. apa kabar? " seru nya begitu senang dan antusias.
"Baik," jawabnnya singkat sampai membuat Zoya canggung.
"Uwak...
" Zoya, "panggil nya memotong ucapan Zoya, dengan bingung ia menjawab.
" Iya uwak? "
"Kakek sudah meninggal dunia, " senyuman Zoya mengeruh dan tidak enak untuk di lihat.
"Kenapa? "
"Selesai sholat magrib, kakek mu sudah pergi meninggalkan kita semua, " Zoya bingung harus berekspresi seperti apa, namun di sudut hati nya tersimpan kesedihan yang begitu mendalam. Bagaimana pun juga tanpa seorang kakek mungkin diri nya tidak hidup sampai sekarang.
"Innalillahi wainnailaihi raji'un, " gumam nya dalam hati.
Zoya seperti kebingungan tetapi air mata tetap mengalir. "Aa.. Zoya disini pun juga mengalami kecelakaan, aku tidak bisa kembali ke Indonesia, uwak, " ujar nya dengan seribu rasa bersalah, hanya di pemakaman sang nenek ia datang namun saat sang kakek juga pergi, ia tidak bisa ikut menghadiri nya.
"Kenapa dengan mu? "
"Jangan merepotkan bibi Tessa di sana, kamu hidup sudah cukup beruntung, " Zoya memejamkan mata nya ketika mendengar kalimat itu sedang menghantam seluruh tubuh nya dengan sangat kuat. Hanya air mata yang keluar dengan perasaan hancur dan campur aduk, beribu kata sedang teriang di kepala nya.
"Uwak.. bagaimana dengan kabar ibu ku? " dengan sekuat tenaga ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Ibu mu?enam bulan yang lalu dia sudah menikah, dan sekarang ibu mu sedang hamil, " Zoya menggigit bibir bawah nya yang bergetar bersamaan dengan tangan kiri nya yang sulit di kendalikan. Kabar buruk ini semakin menghancurkan sisa hidup nya, lagi-lagi hanya air mata yang mewakili perasaan nya yang sangat perih.
"Apa kau tidak mendengar kabar nya, seperti nya bibi Tessa tau kalau ibu mu sudah menikah lagi, "
Cttasss
Kaca nya hancur berkeping-keping, sambungan telepon sudah mesti terputus. Wajah nya pucat, tangan nya semakin bergetar hebat.
"Perih nya Yaa Allah, " gumam nya dengan sangat lemah. Tiada hari tanpa nya merasakan ketenangan dengan penderitaan yang ia alami dan selalu menghantui nya.
"Jika ingin bahagia, setidak nya pastikan seseorang di antara mu tidak ada yang terluka akibat ulah mu, " gumam nya untuk sang ibu yang sangat keterlaluan, meninggalkan nya sejak kecil dan memberikan ribuan luka untuk nya sebagai korban dari perceraian lalu ia menikah lagi tanpa meminta ijin dari sang anak.
"Eonnie, " panggil Da-eun yang tiba-tiba berada di belakang nya.Ia segera menghaous air mata nya dan menggenggam tangan nya yang masih bergetar.
"Iya? " jawab nya dengan senyuman seperti tidak memiliki masalah apapun. Zoy berharap agar Da-eun tidak mendengar percakapan nya tadi.
"Ternyata masih disini, kenapa tidak turun duluan?" dengan senyum getir Zoya menjawab seadanya.
"Aku menunggu mu, ayo kita turun bersama, "
Sorot mata Da-eun tertuju pada handphone yang sudah hancur, dan ia memungut nya dengan tanda tanya di kepala, "Handphone nya kok hancur? " sedikit gelisah karena bingung harus memberi alasan seperti apa.
"Eo... tangan ku licin, lalu handphone nya jatuh. Aku ingin mengambil nya, tetapi malah terlindas roda ini, " jawab nya membual, Da-eun menghela nafas sedih.
"Eonnie, pasti sulit berada di posisi you sekarang, " Zoya ternganga dan segera tersadar lalu merunduk pilu.
Bukan pasti, tapi sangat sangat sangat sulit...
Gumam nya dalam hati dengan sekuat tenaga menahan lempengan air mata agar tidak jatuh.
"Ga papa, " jawab nya lagi penuh kemunafikan.
"Wajah eonnie juga pucat, pasti karena belum makan yah? ayo kita turun sekarang, " dengan senang hati, Da-eun membantu Zoya mendorong kursi roda nya lalu menekan tombol lifh setelah keluar dari kamar nya.
Hampir sampai di ruang makan, ternyata di sana sudah banyak yang berkumpul. "Eo.. kau datang, kemari lah ikut bergabung bersama kami, " seru Hye-joon dengan terbuka, dan di sana mereka melihat Zoya dengan senang hati dan raut wajah yang ramah Kecuali satu orang.
"Abang, you pindah. I mau duduk di sebelah eonnie, " pinta Da-eun seenak jidat nya saja. Karena masih merasa lelah, ia tidak ingin menambah huru-hara, Ryung-jae mengangkat piring nya dan pindah kesebelah Yee-jun. Dan Da-eun mendorong kursi roda Zoya berdekatan dengan nya, tidak lupa untuk mengunci nya.
"Hyun-il!!!!!!, " teriak Yeon-jin karena satu di antara mereka tidak kunjung hadir.
"Haisshh.. kenapa kau cerewet sekali Hyung? " kesal Hyun-il yang ternyata masih menuruni anak tangga.
"Karena kau yang lama sekali, " gerutu Ryung-jae bersungut-sungut, "aku sudah lapar tapi kau malah datang lebih lama, " sambung nya. Dengan usil Hyun-il menendang kursi Ryung-jae sampai membuat sang empu terkejut. Alhasil Ryung-jae ingin sekali membunuh Hyun-il dengan garpu yang ia pegang.
"Kau... penjualan kapal pesiar mu tidak akan ku urus, " ancam Hyun-il membuat Ryung-jae harus meredam amarah nya.
"Ah kalian selalu saja begitu, " sahut Myung-jee sudah mencomot kentang goreng.
"Hyung, begini kah Hyun-il karena hasil didikan mu? " hardik Ryung-jae pada Yeon-jin, Hye-joon menghela nafas meletakkan kembali pisau dan garpu di atas piring.
"Apa ini? apa kau akan bertengkar? " tanya Dae-ho terkikik geli.
"Yaaa!! aku yang mendidik kalian berdua, Faham!! " gertak Yeon-jin kalab.
"Enggak!!! " seru kedua nya dengan tegas.
"Mau makan apa mau debat meja bundar? " seru Yee-jun dengan wajah datar nya.
"Eonnie.. jangan dengarkan mereka yang saraf otak nya sudah banyak yang putus, " bisik Da-eun memprovokasi Zoya. Ryung-jae melempar Da-eun dengan kentang goreng.
"Youuu!!....
" Pilih makan di sini apa makan di dapur? "seru Hye-joon dengan tatapan elang dan mereka semua pun diam seribu bahasa.
" Mampus kalian sudah membangunkan singa kelaparan, "kikik Myung-jee menyiduk nasi dan lauk nya.
" Iya engga lagi, "
Di tengah kericuhan meja makan, hanya Zoya yang tidak mendengar percakapan tidak penting itu karena isi kepala nya sudah penuh dengan berbagai macam pertanyaan dan itu mampu membunuh seluruh kehidupan nya.
Hati nya yang masih perih sebab sembilah pisau yang berhasil menggores nya. Zoya menghela nafas dengan sangat lelah dan depresi yang kembali menyerang nya.
"Zoya, apa kau sakit? "