Dear A

Dear A
Kamu Sangat Berharga



...Untuk kali ini saja, datanglah menyapa ku, diri ini benar-benar rindu. Katakan bahwa rasa itu masih ada walaupun tidak sepenuh nya....


..._Dear A...


.......


.......


.......


.......


...****************...


"Apa anda sedang berbicara? " tanya Zoya mendongakkan kepala nya menatap Yee-jun yang tiba-tiba datang. Ia mendengus dan memiringkan sudut bibir nya.


"Kau sedang dendam kepada ku, mengenai kalimat yang selalu ku ucapkan begitu pedas? " Zoya menyipitkan matanya karena silau, ia sedikit memiringkan kepala nya kesamping.


"Saya hanya berbicara dengan semestinya tidak ada kalimat dendam di sini, "Yee-jun memiringkan badan nya menatap Zoya.


" Gadis kecil yang baik, "puji nya dengan senyum lebar namun langsung berubah keruh menjadi benci. Yee-jun berjalan meninggalkan Myung-jee dan Zoya di taman itu.


" Jangan fikirkan kata-kata nya, Yee-jun tidak pernah berubah sedari dulu, "Zoya langsung menatap Myung-jee.


" Kecuali? "Myung-jee menghela nafas setelah menatap bola mata Zoya begitu tersirat api kecemburuan.


" Apa kau cinta pada nya? "Zoya langsung membuat wajah nya setelah Myung-jee tau apa arti dari tatapan itu.


" Tidak usah menghindar, dari tatapan mu sudah terlihat. Kamu sangat terluka jika Yee-jun membenci mu dengan kalimat menusuk nya, "


"Lupakan lah,"


***


"Zoya apa kamu sudah lebih baik? " tanya Hye-joon saat Zoya sudah kembali ke kamar rawat nya.


"Jauh dari sebelum nya pak, "


"Eo.. hyung, bagaimana kalau kita pulang sekarang. Eemm.. Hyun-il dan Jee Hyung harus bersiap untuk berangkat ke New York bukan? " seru Dae-ho sembari menggaruk tengkuk belakang nya, Zoya memalingkan wajah nya menatap Myung-jee yang akan pergi, ia hanya memejamkan mata nya lalu mengangguk membenarkan.


"Eo.. apa Jin hyung sudah berangkat? "


"Pak bagaimana dengan barang-barang saya? " potong Zoya mengingat beberapa perkakas nya siapa yang akan membereskan.


"In-na sudah membereskan nya, " jawab Hye-joon membuat Zoya bernafas lega.


"Ryung-jae bilang, mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, " jawab Dae-ho.


"Eo.. sungguh? jadi yang mengawal perjalanan para pegawai siapa? " sambung Myung-jee dengan wajah tertegun nya.


"Aku sudah meminta Kwang-ho dan Yoona sebagai pembina perjalanan mereka, untuk pengawal bodyguard Jun hyung yang melakukan nya, " Yee-jun melirik cepat kearah Hye-joon dengan tanda tanya.


"Sungguh?tapi sejak kapan aku memerintahkan mereka? "tanya nya sedikit ternganga.


" Oh, ayolah Hyung, "keluh Hye-joon yang langsung membuat Yee-jun mendatarkan wajah nya.


" Lagi pula aku tidak melarang nya, "jawab nya melanjutkan aktifitas nya bermain game.


" Eonnie!!! "teriakan itu berhasil membuat mereka mencari asal suara.Dari luar ruang rawat itu terdengar kegaduhan. Saat pintu terbuka sendiri, ternyata yang membuat kegaduhan itu adalah Ryung-jae dan Hyun-il.


" Apa yang kalian berdua lakukan? "seru Yee-jun meletakkan handphone nya di atas meja nakas.


"Berikan pada ku, berikan!! " pekik Hyun-il mengunci kedua pergelangan tangan Ryung-jae sembari berseru memaksa. Sementara Yeon-jin yang sudah bosan meninggalkan mereka di pintu luar sembari mendorong kursi roda Da-eun yang saat itu sedang melambaikan tangan nya pada Zoya.


"Ga, ini punya ku, " balas Ryung-jae sampai membuat mereka terguling di lantai.


"Kenapa lagi? " tanya Dae-ho tidak berniat membantu.


"Entah lah, kurasa mereka berdua masih memperebutkan barang itu, " jawab Yeon-jin jengah.


"Barang apa? " tanya Myung-jee dengan heran.


"Ah, kau macam tidak tau saja... Zoya bagaimana kabar mu? " tutur nya berlanjut pada Zoya yang hanya bisa melihat adegan pergulatan itu dengan tanda tanya di kepala nya.


"Eo.. saya baik Pak, "


"Aku dengar kau memakai gips di kaki mu, " Zoya mengangguk pelan karena kaki nya tertutupi oleh selimut sebab itu Yeon-jin tidak melihat nya.


"Hyuuunnggg!!! " mereka terkejut saat mendengar teriakan Hyun-il seperti akan merengek.


"Apa lagi? "


"Usir Ryung-jae dari mansion, dia tidak mau berbagi dengan ku, " mereka memutar bola mata nya dengan sangat bosan.


"Silahkan, lagi pula Papa juga merokok. Apa salah nya?... Hyun-il kau mau? " tawar nya memberikan kepada Hyun-il.


"Hyun-il, kau masih terlalu muda jangan mencoba nya, "cegah Yee-jun dengan wajah sangar nya.


" Haiisshh..padahal kau yang mengajari ku saat di basecamp , "Yeon-jin melirik Yee-jun dengan sinis.


" Ciihhh.. dasar bermuka dua, "ucap nya dengan sinis.


"Aku hanya berusaha menghentikan nya, apa salah nya? " balas Yee-jun.


"Eonnie, tidak bisa jalan? " Zoya mendengus senyum sembari menggeleng kan kepala nya.


"Eoh.. bagaimana ini? " gumam nya seperti khawatir.


"Ga papa, aku bisa pakai kursi roda juga, "


"Sungguh? aahh.. padahal yang luka hanya bagian kepala i saja, tapi Ryung-jae yang cerewet itu memaksa i tetap berada di kursi roda, "


"You bilang apa tadi? "


"Tidak ada, you terlalu tuli, "


***


Mau tidak mau, Zoya terpaksa mengikut pada atasan nya yang akan membawa nya ke mansion tempat mereka tinggal. Tidak ada pilihan lain, ia tidak mungkin mengabari Tessa yang masih berada di luar negeri, ia juga tidak bisa tinggal seorang diri dengan kondisi kaki yang masih terbalut gips yang cukup keras.


Bersebelahan dengan Da-eun, di mobil pribadi itu hanya ada mereka berdua dan juga dia bodyguard yang mengendalikan mobil. Satu jam yang lalu mereka sudah berada dalam perjalanan pulang.


"Eonnie, handphone you, " Da-eun memberikan handphone milik Zoya kepada nya.


"Eo.. dari mana kamu dapat? "


"Eonnie Yumi yang memberikan nya pada ku, barang-barang mu juga sudah berada di bagasi mobil, "


"Terima kasih untuk semua bantuan nya, " seru nya dengan hati senang.


"Sama-sama, eonnie, "


Setelah nya mereka terdiam kembali, tidak ada pembahasan nya akan di bicarakan. Zoya terdiam dalam fikiran nya begitu juga dengan Da-eun.


"Eonnie, " Da-eun memanggil Zoya dengan nada yang canggung dan seperti ada yang ingin ia tanyakan.


"Ada apa? "


"I mau tanya, boleh? "


"Boleh, tanya apa? "


"Kenapa you berhijab? " pertanyaan itu lantas membuat Zoya terdiam memalingkan wajah nya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? bukan kah kamu tau aku ini seorang muslim? "


"Bukan begitu, i penasaran kenapa di agama kalian mewajibkan untuk menutup seluruh tubuh nya, " jawab nya dengan perasaan tidak enak hati.


"Karena yang berhak melihat seluruh tubuh seorang wanita hanya lah suami mu saja, " Da-eun menaikkan sebelah alis nya karena ia tidak memahami maksud kalimat itu.


"Tapi i tidak memiliki suami, "


"Nah sebab itu kamu harus menutup nya, ketika kamu memiliki suami kamu hanya boleh memperlihatkan seluruh tubuh mu hanya pada suami mu, tidak boleh pada orang lain. Khusus untuk suami mu nanti, "


"Kenapa seperti itu, wanita kan cantik harus nya di perlihatkan saja, kenapa harus di tutupi? "


"Karena kamu, kamu wanita yang istimewa. Kamu itu adalah ratu, jika ratu di Inggris tidak di perkenan kan untuk di sentuh sembarangan orang atau di lihat sembarangan orang, maka itu lah wanita, kamu dan aku.. wanita itu berharga dan sangat mahal harga nya tetapi tidak untuk di penjual beli kan, melainkan di istimewakan dan di sayangi dengan hati yang paling lembut, "


"Jadi wanita itu sama hal nya seperti mutiara? "


"Bahkan kamu lebih dari sebuah permata, tidak ternilai. Maka setiap barang berharga akan di simpan dengan sangat baik agar tidak sembarangan orang menyentuh apalagi melihat nya, begitu lah wanita muslimah menutupi aurat nya, "


"Kalau begitu boleh aku menutupi tubuh ku? "


"Boleh saja, tapi apakah kamu sadar akan diri mu? "


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...