
...Rasa sakit yang terburuk adalah ketika seseorang membuat mu merasa istimewa kemarin dan membuat mu tidak di inginkan lagi hari ini....
~Shanzoya
..._Dear A...
.......
.......
.......
...****************...
Tessa mengelus-elus kepala Zoya yang sudah tertidur di atas ranjang nya, Tessa memandang Zoya begitu sendu. Setelah Yumi mengantarkan Zoya pulang karena trauma nya kambuh, Tessa langsung meminumkan obat penenang untuk nya.
"Ya Allah, Zoya berat sekali yang kamu rasakan, " gumam Tessa menumpakan setetes air mata nya.
"Maaf Zoya, bibi meninggalkan mu seorang diri di sana, " air mata nya kian mengucur dengan deras.
"Seandai nya bibi membawa mu sedari awal, pasti kamu tidak merasakan nya hingga membuat mu tersiksa, "
"Zoya.. bibi mohon jangan seperti ini, bibi sedih melihat mu begitu tersiksa.. hiks.. hiks.. Yang Maha Pengasih dan penyayang kasihani Zoya ku.. hiks.. hiks, " Tessa mencium dahi Zoya dengan sekilas, ia kembali mengelus kepala Zoya yang masih terbalut hijab dengan sangat lembut. Anh hanya bisa melihat istri nya menangis dari ambang pintu kamar Zoya, ia juga merasa kasihan dengan Zoya yang sangat tersiksa dengan masa lalu nya yang begitu buruk.
***
Yumi menangis tersedu-sedu, Sun-jae yang melihat nya pun hanya bisa mengusap bahu sahabat nya untuk menenangkan Yumi.
"Yumi, sebener nya Zoya kenapa? " tanya Sun-jae yang sebenar nya tidak tau apa yang terjadi dengan rekan kerja nya mengapa bisa di luar kendali.
"Lu tau gak? gue nangis begini karena inget cerita bibi Tessa tentang masa lalu Zoya. Gue gak bisa bayangin gimana kesepian nya Zoya waktu itu.. hiks.. hiks, "
"Masa lalu Zoya? "
"Dia hancur banget, hancur seluruh nya. Kalau gue bilang bahasa kejam nya itu manusia yang hidup tapi sebenar nya sudah mati, bibi Tessa pernah bilang. Zoya hidup sampai sekarang karena stok oksigen nya masih banyak, kalau soal detak jantung, itu udah lama mati, " Sun-jae mengerutkan dahi nya sampai tidak percaya dengan yang di katakan Yumi.
"Maksud kamu, Zoya bertahan hidup tanpa alasan? dan dia hanya menunggu kapan diri nya meninggal? " Yumi menganggukkan kepala nya.
"Katanya, kalau aja bunuh diri itu gak berdosa di agama nya. Udah Zoya lakuin dari awal bahkan dia gak mau di lahir kan kedunia ini kalau seandainya dia tau bakalan di ciptain, "
"Zoya bisa hancur itu gimana? "
"Bibi Tessa bilang, sedari Zoya kecil keluarga nya udah hancur. Ayah dan ibu nya berpisah tanpa memikirkan perasaan nya sebagai anak pertama yang masih baru mengenal dunia, Zoya sering di titipin ke orang-orang karena ibu nya sibuk bekerja,"
"Itu hal pertama yang buat diri nya hancur, kedua Zoya itu mala petaka untuk keluarga nya, " Yumi menatap Sun-jae lama, Sun-jae mendengus geli dan kesulitan memahami ucapan Yumi.
"Yum--
" Iya, Zoya gak pernah di inginkan hadir di keluarga ibu nya, "
"Gila lu yaa, gak di ingin hadir di keluarga nya itu hal yang sakit Yumi, kalau gue di posisi Zoya sekarang pun gue udah pengen bunuh diri aja. Ngapain gue hidup kalau gue gak di inginkan, keluarga nya yang malah menghancurkan hati Zoya perlahan demi perlahan, "
"Lu tau gak yang lebih sakit dari yang Zoya rasain? " Sun-jae menggeleng pelan.
"Ibu nya bilang mau pergi kerja cari uang, tapi tiga kali Zoya lihat ibu nya pulang selalu membawa suami baru, " Sun-jae menutup mulut nya yang ternganga lebar.
"Gue yang gak terlalu lama temenan sama Zoya bisa tau gimana perasaan nya hancur banget. Lu tau, rasanya itu seperti di peluk sambil menusuk pisau. Masih ibu nya ,belum keluarga nya, "
"Astaga Zoya, " Sun-jae kesulitan menelan air liur nya dengan susah payah.
Dari balik pintu ruang loker, Myung-jee mendengar semua percakapan mereka. Raut wajah nya sulit di baca, Myung-jee mengulum bibir nya rapat-rapat.
Seluruh isi kepala nya berkecamuk tidak beraturan mana yang harus ia fikirkan. Myung-jee melangkah meninggalkan tempat itu tanpa ada yang mengetahui.
Ia datang keruangan Hye-joon yang mana mereka masih berkumpul di ruangan itu.Setelah kembali dari ruang basement, tidak ada tindakan kekerasan mereka hanya menggertak nya dan mengancam wanita itu jika melakukan kesalahan yang sama.
"Lama banget lu ke toilet, " protes Yeon-jin menatap Myung-jee yang baru kembali dari toilet.Ia membuka kancing kemeja nya sebatas dada, peluh keringat membasahi sebagian kemeja putih nya.
"Ada urusan bentar tadi gue, " jawab nya singkat dengan raut wajah yang tidak enak.
"Lu kenapa? " tanya Yee-jun yang memperhatikan gelagat Myung-jee.
Mereka mengerutkan dahi nya, "Lu mau kemana Hyung, kok pulang duluan? rencana nya hari ini gue mau ngajak lu semua ke showroom mobil, "jawab Hye-joon dan yang lain nya menatap Myung-jee dengan intens, seperti ada yang aneh dengan Myung-jee.
" Kenapa sih, gelisah banget gue lihat, "tanya Yee-jun lagi.
" Gue.. gue cuma gak enak badan, tiba-tiba perut gue mual, "bual nya berbohong.
" Hyung gak papa? "tanya Hyun-il.
" Enggak, gue cuma butuh istirahat, "
"Hyung pulang aja kalau gitu, biar kita yang pergi ke showroom nya, "sahut Dae-ho mereka mengijinkan kan Myung-jee untuk kembali lebih dulu tanpa ada kecurigaan yang lain.
" Gue duluan yah, "pamit nya.
" Hati-hati di jalan, "Myung-jee mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Selepas keluar dari ruang kerja Hye-joon, Myung melangkahkan kaki nya begitu cepat ia melangkah dengan setengah berlari.
Fikiran nya berkecamuk setelah mendengarkan percakapan Yumi dengan Sun-jae di ruang loker. Alih-alih mobil yang ia kendarai membawa nya pulang, Myung-jee memutar stir nya putar arah. Darah nya memompa begitu deras, fikiran nya tidak tentu arah dan bercabang-cabang.
Myung-jee menghentikan mobil nya di suatu tempat, hal yang ia sesali dan ia rindukan.Myung-jee melangkah dengan hati-hati melihat sebuah tanah Datar yang di atas nya sudah di tanami bunga dan rumput menjalar sebagai hiasan.
Myung-jee menarik nafas, lutut nya lemas dan tidak memiliki tenaga untuk berdiri tegak. Myung-jee menjatuhkan tubuh nya di sebuah makam, yaitu makam seorang wanita yang sampai sekarang tidak bisa ia lupakan bahkan penyesalan nya terhadap sang wanita belum terbayar.
" Dia, dia sama seperti mu.. hiks.. hiks.. dia sama seperti diri mu yang sangat kesepian, tapi beda nya jalan kalian berbeda ,tekanan pada hati nya begitu dalam hingga jiwa nya begitu terguncang,"Myung-jee bercerita panjang di depan batu nisa itu dengan air mata yang mengalir.
" Abang gak tau harus seperti apa, abang bingung apakah abang bisa membayar penyesalan itu kepada nya, Alexa? "
"Boleh kah? "angin berhembus pelan menerpa tubuh nya.
Seperti mendapat gambaran ilusi mata, Alexa memeluk Myung-jee dari belakang. Air mata nya mengalir begitu sangat deras hingga tidak ada suara yang keluar dari mulut nya ketika merasakan hawa dekapan itu yang sangat ia rindukan selama ini.
"Ini.. ini yang abang rindukan dari mu, Alexa, " seru nya menangis tersedu-sedu.
Ilusi bayangan wujud Alexa yang memakai gaun putih dengan rambut yang selalu di biarkan tergerai menutupi bahu nya. Alexa semakin mengeratkan pelukan itu menenangkan Myung-jee yang berada dalam keadaan kacau,agar ia bisa merasakan kenyamanan itu dengan sangat Damai.
"Alexa merindukan abang, " bisik hembusan angin di telinga Myung-jee dapat di dengar, dan seketika ia terdiam menunggu kalimat selanjut nya.
"Ade berharap kita bisa bertemu di alam yang sama, " angin semakin berhembus kencang, meniup susunan rambut Myung-jee kesegala arah.
"Wanita itu adalah aku,dalam jiwa yang berbeda, tetapi hati dan fisik kita sama, " angin bertiup lagi, Myung-jee menyimak bisikan dalam benak nya dengan ketenangan dalam jiwa yang terikat dengan jiwa Alexa.
"Lakukan apa yang harus abang lakukan, ade akan sangat bahagia di alam sana. Titipkan bunga ku pada Daddy katakan padanya 'tetap ingat ade tanpa harus bersedih, pelukan hangat untuk nya', " angin ribut datang menghantam area pemakaman itu, Myung-jee tersentak dan menatap awan yang perlahan menggelap, angin bertiup seperti pusaran dan menjulang tinggi ke angkasa. Wujud ilusi Alexa menghilang mengikuti arah angin yang membawa nya ke tempat semesti nya.
Air mata Myung-jee jatuh lagi seiring jatuh nya kristal air hujan dari awan satu persatu.
"Alexaaa, " Myung-jee meraung perih, ia masih nyaman berada di posisi tadi. Namun itu hanya bisa sebentar ia rasakan.
"Hiks.. hiks. hiks, Al abang masih rindu, " ujar nya dengan suara sangat berat, Myung-jee menggenggam kepalan tanah makam Alexa dengan begitu kuat.
"Alexaaaaaaa!!!! " teriak Myung-jee menatap awan gelap bersamaan dengan petir yang menggelegar dan hujan turun semakin deras.
"Haaaaaaaaa!!! " teriak nya sekali lagi, seluruh tubuh nya telah basah dengan air hujan yang mengiringi kepedihan nya. Myung-jee mengusap wajah nya dan memetik sekuntum bunga merah yang tubuh di atas makam Alexa.
Myung-jee mencium nisa itu cukup lama dan ia beranjak meninggalkan peristirahatan Alexa yang terakhir. Berkali-kali langkah nya terhenti dan terus menatap makam Alexa, langkah nya berat untuk meninggal kan adik nya seorang diri.
Dengan penuh keyakinan, Myung-jee melangkahkan kaki nya lagi menjauhi makam Alexa yang sudah basah terguyur air hujan.
Maaf..
Siulan suara nya dari jarak jauh, menepis rasa bersalah sejak meninggalkan mereka dan mendorong nya dalam kesedihan yang tiada habis nya..
.......
.......
.......
Sorry ya, bab nya saya perbarui hanya untuk menulis ini. Buat pembaca yang minta up crazy sorry banget, anxiety saya lagi kambuh gk bisa buat up bab baru. Tolong pengertian nya yah, nanti saya bakal Up lagi kok tenang aja. Terima kasih..