
...Musim seperti mu tidak akan datang lagi,...
...Aku mulai serakah...
...Aku ingin hidup dan menua bersama mu, memegang tangan mu yang keriput dan mengatakan berapa hangat nya hidup ku...
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
.......
...****************...
Zoya meringkuk seorang diri, memeluk lutut nya dan menenggelamkan wajah nya di tengah-tengah kedua lengan nya. Pukul 00.05 , Yumi dan In-na sudah tertidur dua jam yang lalu.
Zoya mengangkat kepala nya yang sangat berat, kelopak mata yang sayu dan lelah menanggung nya seorang diri. Di raih handphone nya yang berada di atas nakas, dan ia beranjak meninggalkan pondok malam itu.
Di dalam fikiran nya bagaikan mendengar ribuan orang berbicara kepada nya, tidak bisa tenang apalagi konsentrasi pada diri sendiri.
Malam itu, hanya diri nya seorang diri tidak ada orang lain. Semua orang sudah tertidur di dalam pondok.
"Hah.. akhir nya aku bisa tenang, " keluh nyan menatap bintang yang masih setia bersinar.
"Ini adalah tempat ku, ruang ku dan kesendirian ku. Seramai apapun orang yang ku lihat mereka bagaikan bayangan yang tidak bisa ku sentuh dan ku ajak bicara. Seandai nya aku tidak terlahir, mungkin aku tidak akan bertemu bibi Tessa, Ibu, Ayah, Yumi dan yang lain nya.,, " Zoya menarik nafas nya lalu menghembuskan nya. Ia kembali melangkahkan kaki nya, tujuan nya saat ini adalah danau yang pernah ia lihat saat perjalanan ke tempat itu.
Namun karena sepi dan tidak ada siapapun, telinga nya dapat mendengar langkah kaki yang juga beriringan dengan langkah nya. Zoya sedikit terdiam dan langsung memutar tubuh nya tanpa berfikir panjang.
"Kenapa bapak di sini? "
"Kau.. kenapa bertanya pada ku, coba tanyakan pada kaki ku kenapa membawa ku ke tempat ini di tengah malam, " celoteh nya, Zoya mengerutkan dahi nya apa maksud atasan nya ini.
"Bapak idiot, "
"Seperti nya itu bukan urusan mu, dan kenapa kau tengah malam begini keluar pondok setelah tadi kau membuat kekacauan, " tanya nya songong sembari melipat tangan nya di dada.
"Seperti nya ini bukan urusan bapak juga, maaf ya bapak Yee-jun yang terhormat saya tidak mengharapkan bapak untuk menolong saya, " ketus nya berjalan meninggal kan Yee-jun tanpa mengatakan kalimat terakhir.
"Sejak kapan aku bisa berbicara panjang? " tanya nya pada diri sendiri, sementara ia melihat Zoya sudah menghilang di telan gelap nya malam. Yee-jun berfikir untuk tidak perduli dan melanjutkan tidur malam nya yang sempat terpotong karena ia tiba-tiba saja terbangun tanpa sebab.
Baru saja berjalan dua meter Yee-jun menghentikan langkah kaki nya dan terlihat gusar, "Haisssh.." Yee-jun terpaksa memutar arah dan berbalik menyusul Zoya yang sudah entah kemana hilang nya.
Setelah berjalan cukup jauh, akhir nya Yee-jun menemukan Zoya yang tengah duduk di atas baru besar menikmati sinar rembulan di pinggir danau.
"Apa kau tidak takut duduk sendirian di waktu malam? "
"Enggak, " jawab nya tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Syukurlah kau bukan wanita manja, "
"Memang ini tempat ku, sendirian di dalam kegelapan untuk apa takut jika kedua nya sudah menjadi teman sepi ku, " Yee-jun mendudukkan diri nya tidak jauh dari Zoya.
"Lagian kenapa bapak menyusul ku, bukan kah bapak tadi sudah memutuskan untuk kembali ke pondok, "
"Kau tidak ingat saya pernah berjanji pada mu, jika saya mengingkari nya sama saja aku menyakiti wanita ku Alexa, " Zoya mendengus geli.
"Ternyata sama saja yaa, tidak ada yang mencintai apa lagi menyayangi ku setulus hati. Terutama bapak dan teman-teman bapak, kalian menjaga saya hanya karena wajah saya yang mirip dengan wanita kalian. Ciiihhh... " Yee-jun sedikit terdiam membeku, ia sedikit memalingkan wajah nya dan melihat Zoya dari arah samping tengah tersenyum getir dengan lelehan air mata.
"Apa kau sakit hati? "
"Sangat.. jika niat kalian menjaga ku hanya karena sebuah kemiripan, lebih baik tidak usah pak. Lihat saja foto nya, saya tidak ingin memiliki budi kepada orang lain, gak usah repot-repot jagain pak, saya sudah terbiasa sendiri dan menjaga diri tanpa ada yang melindungi, " ada secercah rasa bersalah di hati nya, apa cara nya dan teman-temannya itu salah?
"Mungkin kalau kecelakaan itu gak terjadi saya gak akan operasi wajah dan ternyata wajah ku mirip sekali dengan wanita yang kalian miliki, " Yee-jun mengerutkan dahi nya, ia benar-benar tidak mengerti dengan arah bicara wanita yang ada di samping nya. Zoya pun membalas menatap Yee-jun dengan serius.
"Dan itu terjadi satu tahun yang lalu,"
"Kapan..itu terjadi? " tanya Yee-jun dengan gugup.
"18 April 2017..lima hari setelah Nona Alex meninggal, " Yee-jun semakin tidak berdaya, apa ini? benar apa yang di katakan Hye-joon berarti ada suatu kejadian yang pernah menimpa Zoya dahulu.
"Berarti benar kamu itu titisan dari Alexa? "
"Saya tidak tau pak, saya juga bingung kenapa wajah baru saya mirip sekali dengan Nona Alexa, "
"Kenapa bisa kecelakaan? "tanya Yee-jun sudah mulai banyak bertanya, Zoya kembali menatap nya stelah sebentar ia palingkan.
" Kaya nya bapak gak perlu tau kenapa saya bisa kecelakaan, "Yee-jun mendaftarkan wajah nya, ternyata asli nya Zoya itu cuek dan tidak ingin banyak berbicara bila suasana hati nya seperti itu. Padahal pria yang sedang bersama nya adalah pria yang ia cintai dalam diam.
" Menurut agama saya, "Zoya membuka percakapan lagi.
" Kenapa? "Zoya menatap Yee-jun dengan intens.
" Menangisi seseorang yang sudah meninggal itu tidak baik, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Percaya lah wanita yang bapak dan teman bapak cintai itu sudah tenang di sisi Tuhan kalian. Jika mengenang nya terus menerus, percayalah luka itu semakin melebar dan tidak akan pernah sembuh. Orang yang benar-benar mencintai itu ada dua pilihan, memiliki nya atau merelakan nya pergi, "Yee-jun terdiam, tetapi hati nya cukup keras dan kekeuh pada keputusan nya.
" Tapi saran mu tidak berguna untuk saya, "
"Sekeras dan sekuat apapun hati bapak mempertahan kan luka itu, suatu saat itu akan hancur, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Dan akan ada saat nya nanti bapak akan kelelahan, "
"Pak, saya juga punya orang yang paling saya cintai. Dia cinta pertama saya, tapi saya sudah lama berpisah dengan nya. Tuhan lebih dulu memanggil nya, Ayah saya. Kita berdua berpisah selama belasan tahun dan itu akibat keegoisan kedua orang tua saya, "
"Saya tidak tau sedalam apa luka yang bapak dan teman bapak alami, tetapi percayalah di atas langit masih ada langit. Masih ada yang lebih sakit lagi dari luka yang bapak alami, "Yee-jun terdiam merunduk, meresapi kata demi kata yang Zoya ucapkan untuk nya.
" Kenapa kau begitu meyakini itu? "
"Karena saya percaya dengan ajaran agama saya, dan saya mengimani Al-Qur'an yang di dalam nya terdapat firman dan Tuhan saya, " Zoya tersenyum hangat kepada Yee-jun yang menunjukkan tanda-tanda kesedihan nya.
"Aku tidak bisa melakukan itu, sudah ku coba berulang kali, "
"Ikhlas itu terdapat dari hati yang paling dalam, cinta dan kasih sayang juga ada di dalam nya. Jika bapak tidak bisa memiliki nya, cara terbaik untuk mencintai nya adalah merelakan nya pergi tanpa ada rasa berat, "
"Kau bisa merelakan kepergian ayah mu, karena kalian memang tidak pernah bertemu, " seru Yee-jun sangat keras kepala. Dan itu lumayan menyakiti hati nya, tetapi Zoya bisa menahan rasa sakit itu.
"Kalimat bapak barusan melukai saya, tapi tidak apa-apa saya sudah terbiasa terluka. Yang saya ingat saat pertama kali saya merasakan kehilangan, itu hanya kata-kata ini..
'Jika kamu ridho dengan ketentuan yang Allah kehendaki, maka apa yang kamu mau akan kamu miliki', " Zoya tersenyum cerah tapi tidak lama air mata nya mengalir satu per satu.
"Kenapa kau suka menangis? "
"Karena saya memiliki luka yang cukup dalam, " Tiba-tiba Yee-jun teringat Alexa yang dahulu sering menangis dalam hal sekecil apapun, baru ia sadari Alexa menangis bukan karena ingin di manja. Meskipun ingatan nya hilang luka masa lalu nya itu akan tetap meninggalkan bekas sampai kapan pun. Dan ternyata tangisan nya itu adalah bentuk bagaimana ia mengekspresikan luka perih nya.
Zoya mengusap air mata nya dan bersikap seperti biasa, "Coba bayangkan, dari tempat bapak duduk coba bapak berjalan terus melewati danau, lembah berbukit dan di ujung sana ada kota ilsan yang bapak temukan. Seperti itu lah bapak sekarang. Jika bapak behenti di tengah danau, bapak akan tenggelam dan mati di makan buaya,tetapi jika bapak berusaha mengayuh sampan sekuat tenaga. Masih ada harapan untuk bahagia, "
"Bukan kah itu seharus nya untuk mu? "
"Yah.. saya tengah berjuang menyembuhkan apa yang bersarang di diri saya, jangan isi kenangan di hidup bapak hanya untuk bersedih, dunia ini luas ada banyak wanita dan ada banyak kebahagian di luar sana yang sedang menanti. Assalamu'alaikum, " seru nya beranjak pergi, Yee-jun bingung karena ia di tinggal seorang diri.
Namun apa yang di katakan Zoya ada benar nya juga, umur Yee-jun masih terbilang cukup muda tidak mungkin ia hanya mengisi kekosongan hidup nya hanya untuk bersedih mengenang Alexa yang tiada henti nya padahal alam sudah membedakan mereka berdua.
"Bukan kah dia juga merasa diri nya terluka? kenapa memberi semangat untuk ku? " teringat nya kenapa Zoya memberikan semangat untuk nya padahal Zoya lebih membutuhkan itu.
Yee-jun menatap rembulan dengan tatapan sendu, "Benarkah kau sudah tenang di alam mu? apa tangisan ku selama ini mengganggu mu?Jika aku berhasil menyembuhkan kekosongan karena kehilangan mu, ku harap kau tidak bersedih hati. Dan ku harap kau juga bahagia Alexa, adik ku, "
.......
.......
.......
.......
.......