Dear A

Dear A
Lihat Aku Yang Penuh Luka



...Jika kisah hidup mu di ambil untuk di jadikan sebuah film, ingin di beri judul apa?...


..._Dear A...


.......


.......


.......


.......


...****************...


Hari itu perusahaan LA Compan'y dan showroom milik mereka tengah ramai dengan kolega mau pun rekan bisnis dari berbagai negara ikut meresmikan mobil keluaran terbaru nya, dengan kelebihan super canggih.


Hye-joon dan ke-enam sahabat nya sibuk menyalami banyak nya tamu yang datang ke acara peresmian itu. Tidak ada yang spesial, semua hari tampak sama saja. Da-eun melihat sang abang sibuk di dalam kerumunan, Da-eun terpaksa mengikut karena ia tengah berada di bawah pengawasan nya saat ini setelah kejadian itu.


Meski terkenal sering bertengkar, namun Ryung-jae bukan lah sosok yang mudah dendam apalagi kepada adik perempuan nya setelah tiada nya Alexa.


Bosan dengan suasana ramai itu, Da-eun memilih meninggalkan tempat dimana ia berdiri dan memutuskan pergi kebelakang.


Di tengah perjalanan Da-eun bertemu dengan Yumi yang sedang sibuk membawa gelas kotor bersama Sun-jae.


"Permisi, " sahut Da-eun canggung, Yumi dan Sun-jae melihat spontan dan mereka langsung merunduk.


"Ada apa nona? "Da-eun tampak celingukan seperti mencari seseorang.


" I mau tanya, perempuan yang nutupin kepala nya pakai kain mana? I lupa nama nya, you tau gak dia dimana? "mereka berdua saling melempar pandangan karena kurang mengerti apa maksud Da-eun.


" Oohh, "Sun-jae menepuk-nepuk lengan Yumi, " Yang Nona maksud Zoya? "sambung nya, Yumi langsung faham. Da-eun mengangguk ragu.


" Eo.. Zoya hari ini tidak masuk kerja, "


"Kenapa? bukan kah kantor sedang ada acara besar, "mereka saling melempar pandangan lagi.


" Zoya lagi sakit Nona, sebab itu dia tidak masuk kerja, "raut wajah Da-eun tiba-tiba saja mengeluh tidak bersemangat.


" I mau melihat nya, tapi kenapa I tidak bisa bertemu dengan nya, "gumam nya tanpa semangat, Yumi menghela nafas.


" Mungkin besok Zoya sudah kembali masuk, Nona. Zoya hanya butuh istirahat, "


"Kami permisi Nona, banyak pekerjaan yang harus kami lakukan, " sahut Sun-jae pamit meninggal kan Da-eun bersama Yumi.


***


Disisi lain, Zoya hanya diam termenung menatap jendela kamar nya. Suasana hati nya belum bisa terbaca apa yang sedang ia fikirkan saat ini. Raut wajah nya tidak memiliki gairah dan semangat.


*Tuhan, aku sangat lelah. Mengapa harus aku yang menanggung beban seberat ini Tuhan?


Bolehkah aku pulang kepangkuan mu lebih cepat? bahu dan tulang kerangka ku hampir patah karena hati tidak kuasa menerima nya. Ya Allah, Tuhan pemilik hati seorang manusia. Yang maha membolak-balikan hati dan perasaan manusia, jika semua sudah tertulis di dalam skenario perjalanan hidup hamba. Maka, kuatkan langkah kaki hamba menuju jalan mu meski pun dengan langkah terseok-seok bahkan berulang kali tersandung batu, kuat kan.. kuat kan aku dan beri ketabahan pada hati ku...


Yaa Allah.. hamba capek.. capek*..


Air mata Zoya mengalir satu persatu setelah kata hati ia ucap kan dengan perih dan lelah dahaga yang ia rasakan.Satu per satu titik hujan juga turun, seolah sang pemilik dan pencipta alam merasakan apa yang Zoya rasakan. Lama nya detik berjalan, air mata Zoya semakin deras, itu meringkuk menekuk lutut nya dan memeluk tubuh nya seorang diri yang begitu sangat rapuh dan penuh tekanan.


Zoya menatap awan hitam dari balik jendela nya, dimana ia tengah menatap arah mata angin tempat nya berdiri menunaikan ibadah sholat yaitu kiblat.


Dengan air mata yang mengucur deras Zoya berucap, "Yaa Allah... " Zoya tersengguk-sengguk sangat perih.


"Yaa Allah.. " ucap nya yang kedua kali untuk memanggil sang Pencipta dengan sangat sedih.


"Yaa Allah!!! " panggil nya untuk yang ketiga kali nya, berupaya berfikir mungkinkah Tuhan sedang menatap nya ?


"Lihat aku.. hiks.. hiks, " ucap nya sampai bergetar menahan sakit dan perih yang ia derita selama ini.


"Aku capek.. capek, luka ku tidak kunjung sembuh, tekanan ku semakin bertambah. Akan kah semua nya baik-baik saja.. hiks.. hiks, Ya Allah, lihat aku.. lihat aku yang penuh luka ini.. "


"Jika semua kehendak telah engkau tetapkan, aku mohon.. jangan pernah pergi meninggalkan ku. Aku hanya memiliki mu seorang, jika engkau juga pergi apa guna nya hamba hidup!!! " Tessa langsung memeluk Zoya dari belakang, ternyata sedari tadi ia memperhatikan Zoya dari ambang pintu yang berada di belakang tubuh Zoya.


"Zoya.. Zoya boleh istirahat gak papa nak.. gak papa asal kamu jangan putus asa. Bibi juga gak akan ninggalin kamu kok.. hiks.. bibi sayang Zoya, dan kamu tidak pernah sendirian nak.. hiks.. hiks.. hiks, " Tessa memeluk Zoya yang saat itu merintih kesakitan bahkan suara tangis nya meredam tidak terdengar namun air mata nya mengalir deras seperti air terjun.


"Zoya mau pulang bi, Zoya gak kuat.Zoya udah lama di sini, selama itu pula Zoya berharap Ibu cari Zoya. Tapi kenyataan nya enggak bi, apa Zoya gak berguna lagi?" Tessa menggeleng keras dalam buraian air mata yang ikut mengalir.


"Enggak seperti itu, mungkin Ibu lagi sibuk, " sontak Zoya menghempas tangan Tessa dari tubuh nya yang sedang mendekap nya.


"Zoya udah besar bi, Zoya bukan anak kecil yang bisa di tipu. Zoya udah ngerti semua nya, bahkan waktu Zoya kecil. Zoya udah di paksa dewasa bi, hati Zoya di koyak dengan kasar. Zoya di paksa kuat dengan keadaan bi... Bibi tau gak gimana perasaan Zoya yang gak pernah di butuh kan di keluarga besar kita.. Zoya selalu di kucil kan bi, karena Zoya lahir dari rahim pelacur. Ibu Zoya juga di jelek-jelek kan tetangga kita, hati Zoya perih denger kalimat jelek tentang Ibu. Zoya berusaha lindungi Ibu, tapi Ibu tidak mau melihat perjuangan Zoya. Ibu lebih milih sia-sia in Zoya dari pada sayang ke Zoya. ZOYA SALAH APA BIIII!!! " Zoya meninggikan suara nya dalam keadaan kacau, antara marah dan bersedih. Tessa menangis pilu mendengar keluh kesah Zoya dan segala luka yang masih sulit untuk di sembuhkan.


"Zoya salah apa bi, Zoya pengen di peluk ibu bukan di pukul. Zoya pengen di cium ibu bukan di tampar. Zoya pengen di sayang ibu bukan di telantarin. Zoya sakit bi, Zoya tertekan... Zoya haus bi, Zoya pengen punya ayah tapi ayah ninggalin Zoya dan pergi untuk selama nya. Zoya gak kenal cinta dari ayah dan kasih sayang dari ibu. Zoya gak punya itu biii... hiks hiks, belasan tahun Zoya bertahan. Zoya lelahhh, "


"Zoya.., " panggil Tessa dengan lembut, membelai pipi Zoya dengan kehangatan. Menghapus air mata penderitaan itu dengan ibu jari nya.


"Hiks.. hiks.. Dari dulu Zoya butuh pertolongan, tapi gak ada yang dateng. Zoya kesepian bi, Zoya takut, "


"Zoya perempuan kuat, Zoya itu perempuan terpilih dari Tuhan. Allah memilih Zoya karena hanya Zoya yang mampu dan bertahan melewati guncangan demi guncangan. Bibi yakin semua rasa penderitaan dan rasa sakit mu akan terbayar lunas , nak. Percaya pada bibi, Allah gak akan kecewain kamu, " Tessa menarik Zoya kedalam pelukan nya dan menyalurkan kehangatan untuk nya.


"Hiks.. hiks.. Zoya capek bi, "


"Istirahat lah, ada saat nya tenaga mu akan habis dan kamu tidak di paksa untuk terus bertahan tanpa istirahat. Jika semua nya kembali normal, berjalan lagi lah. Sabar, sedikit lagi. Sedikit lagi kamu bakal nemuin apa yang selama ini kamu cari, "


"In Syaa Allah bi, "


"Aamiin, "


.......


.......


.......