Dear A

Dear A
Tuhan Aku Ingin Memilikinya



...Tidak perlu ku ungkapkan perihal rasa ku, bahwa seluruh jagat raya pun tau jika, buana akan terasa istimewa dan sempurna karena kehadiran mu....


..._Dear A...


.......


.......


.......


.......


...****************...


Selepas landing di Bandara Internasional John F. Kennedy kota New York, Myung-jee dan Hyun-il langsung bergerak menuju Crosby Street Hotel sebuah nama Hotel terkenal di kota itu dan satu lagi The Sherry Netherland sebuah hotel berbintang lima yang di wariskan untuk nya.


"Eo.. Hyung, aku baru saja landing, sekarang aku sedang menuju kesana, " jawab Hyun-il dengan suara letih sembari menempelkan ponsel nya di telinga.


"Apa Hyung harus menjemput mu kesana? "


"Tidak.. tidak usah, tetap lah di sana Hyung, Jee Hyung sudah ada di sini dan dia akan membantu ku, aku akan menyelesaikan ini, "


"Eo.. jangan lupa untuk istirahat, jangan terlalu di fikirkan Hyung di sini siap menyusul mu ke New York, katakan jika kau butuh sesuatu, "


"Baiklah Hyung, kita sudah hampir sampai. Aku akan menutup telepon nya, "


"Baiklah, jaga diri mu di sana, "


Sambungan yang terhubung pada ponsel Hye-joon pun terputus. Selanjut nya Hyun-il harus menghubungi sekretaris nya dan memerintahkan nya untuk mengumpulkan seluruh pegawai yang bekerja di bawah nya.


"Robert, send me all employee bios, "


"Yes, sir, "Hyun-il memutus sambungan lalu membuka tablet yang ada di sebelah nya.


" Untuk apa kau melihat seluruh biodata pegawai? "tanya Myung-jee memperhatikan keseriusan Hyun-il dari samping.


" Hyung, aku merasa ini tidak beres. Robert bilang ini semua terjadi karena kelalaian pegawai ku, masuk akal ga sih seorang pegawai bisa menurun kan rating hotel semewah itu dalam waktu satu bulan. Pasti ini ada dalang atau rencana di luar dugaan, "Myung-jee menatap Hyun-il dengan tatapan jengah. Mengapa ia terlalu sensitif dengan hal seperti itu.


" Hyun-il, kau jangan terlalu berfikir jauh kesana, mungkin karena manager yang kau pekerjakan kurang terlatih, "


"Dari pada Hyung berbicara, lebih baik bantu aku melihat biodata pegawai dengan teliti, "


Myung-jee mengalah, ia melebarkan ponsel milik nya menjadi sebuah tablet, berkas email terkirim dengan cepat. Dengan teliti mereka melihat latar belakang setiap pegawai yang bekerja di hotel milik nya. Hingga tiba lah mobil yang mereka naiki di depan lobi hotel berbintang yang Hyun-il jalan kan.


Di lobi Hotel seluruh pegawai berseragam hitam putih berbaris rapi menyambut kedatangan sang pemilik. Di sana Robert juga menyambut nya dan membawakan Jaz milik Hyun-il menuju kamar private yang telah di sediakan.


"Robert, what about the Netherland hotel?" tanya Myung-jee ingin mendapat informasi yang jelas dari sekretaris adik nya.


"Netherland is not as bad as you think sir, everything is going well, "


"Jauh dari yang ku khawatir kan, Hyung, " gumam Hyun-il dan pintu lift pun terbuka.


Sembari berjalan, Myung-jee masih meneliti setiap biodata pegawai yang di kirim Robert. Tidak ada yang di curigai, saat Myung-jee ingin menggeser ke biodata pegawai selanjut nya. Tiba-tiba mata nya tertangkap sesuatu dan ia membaca nya di dalam hati. Karena takut Hyun-il mencurigai nya, Myung-jee langsung melipat ponsel nya lalu masuk kedalam ruangan private yang telah di sediakan.


"Hyun-il, kau pergi lah tanpa aku, "


"Hyung mau kemana? "


"Aku terlalu banyak meminum wine tadi, jadi aku harus pergi ke toilet, nanti Hyung akan menyusul mu, "


"Eo.. baiklah, "


Hyun-il pergi bersama Robert menuju ruangan kerja nya, melihat Hyun-il dan Robert sudah menghilang. Myung-jee memegang dahi nya sembari berkacak pinggang dalam perasaan yang sangat campur aduk.


"Seperti nya apa yang di katakan Hyun-il benar, ada dalang di balik semua ini, " gumam nya sedikit panik,Myung-jee membuka pintu keluar dan kembali ke lobi hotel hanya untuk mencari seseorang yang perlu ia lihat dengan detail.


Perlu beberapa menit untuk sampai ke lobi, Myung-jee menyempatkan waktu itu untuk menelpon Yee-jun, seperti nya hanya dia orang yang bisa mengatasi masalah ini.


***


"Hyung, apa kau sedang berkumpul dengan yang lain? "


"Iya, ada apa rupanya? " tanya Yee-jun lagi sembari menatap sahabat nya yang masih bergulat dengan alat makan.


"Tolong menjauh, ada hal penting yang ingin ku bicarakan, "


"Siapa? apa itu Myung-jee? " terka Yeon-jin manatap Yee-jun dengan rasa penasaran. Yee-jun menjauhkan ponsel nya dan beranjak dari meja makan nya.


"Bukan, hanya panggilan biasa dari anak buah ku. Aku akan kembali, " jawab nya langsung meninggalkan meja makan itu. Yee-jun melanjutkan panggilan nya bersama Myung-jee.


"Lanjutkan, aku sudah pergi dari meja makan, "


"Aku butuh bantuan mu Hyung, dan ini hanya kita berdua saja yang tau, "


"Katakan, apa itu? "


Panggilan terputus, Yee-jun bertanya-tanya apa yang di maksud Myung-jee untuk mencari tau siapa orang itu? tidak lama ponsel nya bergetar, dan itu pesan tersalin yang di kirim dari Myung-jee. Yee-jun melihat ringkasan biodata yang di kirim Myung-jee, satu kata yang membuat nya juga sedikit cemas. Ternyata ada seorang musuh yang mengintai nya dan menginginkan perusahaan orang terdekat nya hancur.


"Shiitt!! " umpat nya berjalan dengan langkah lebar menuju halaman mansion. Yee-jun mengendarai mobil nya menuju tempat yang ia sembunyikan dari siapapun.


"Romeo, kau ada di tempat? "


"Aku ada di tempat tuan, apa kau akan menyusul ku? "


"Tunggu aku di sana, "


Yee-jun berniat menambah kecepatan mobil nya, namun dalam raut wajah yang sangat dingin. Tidak sengaja mata nya menatap kaca dasbor, dan melihat ada yang aneh di belakang kemudi nya.


Ssskkkiittt


Yee-jun menginjak rem dengan sangat mendadak dalam kejutan jantung nya yang tidak menyadari apapun.Ia menatap kebelakang kemudi nya dengan tatapan nyalang.


"Untuk apa kau berada di dalam mobil ku? " tanya nya terengah-engah yang sedang menahan ledakan emosi dalam tubuh nya. Dia adalah Zoya yang terbungkam ketakutan dan bergetar. Yee-jun meremas rambut nya dengan sangat frustasi.


"Anu.. anu itu pak, "


"Anu apa!!! " pekik Yee-jun hingga membuat Zoya terperanjat dengan wajah seram nya, ia pun sampai kesulitan menelan salivah nya.


"Do.. do.. dompet saya jatuh di mobil bapak, " gumam Zoya memberikan alasan dengan sangat hati-hati.


"Kenapa bisa jatuh di sini, huh? "


"Waktu itu saya naik di mobil ini saat perjalanan pulang, " jawab nya lagi dengan hati-hati.


"Aaaarrrrgggghhh!!! "erang nya merasa sangat tertekan. " Pantas aku tidak melihat nya saat di meja makan, "sambung nya menggumam.


Tidak ada waktu untuk memutar balik dan mengantarkan Zoya sampai di mansion, jika Yee-jun menurunkan Zoya di pinggir jalan lebih tidak mungkin karena kondisi kaki nya yang belum sembuh, lagi pula jalan ini jalan pintas dan keadaan cukup sepi.


Yee-jun menoleh kebelakang lagi menatap Zoya cukup tajam. " Jangan banyak ulah, tetap lah diam, apa kau FAHAM!! "tekan Yee-jun menyentak Zoya yang langsung mengangguk manut.


Yee-jun langsung mengoper gigi dan menekan gas menambahkan kecepatan mobil nya di jalan yang sangat sepi. Di belakang Zoya sudah seperti mayat hidup yang jantung nya terus berdetak kencang.


" Ya Allah, gigi ku mau copot, "gumam nya memegang sabuk dengan sangat kencang hingga buku-buku tangan nya memerah.


Yee-jun membanting stir nya pada tikungan tajam dan ban belakang berputar 180° sampai membuat Zoya akan bergeser ke kiri tetapi karena ia memakai sabuk dan tubuh nya berhasil tertahan.


" Pak belum sampai lagi? "tanya nya bergemeletuk.


" BELUM!! "jawab Yee-jun singkat namun tegas.


Beberapa menit kemudian akhir nya penderitaan Zoya selesai, tapi belum lagi karena mereka belum kembali ke mansion. Mobil itu berhenti di pinggir jalan kota. Sangat ramai pengguna jalan yang memakai area tersebut.


Yee-jun membanting pintu mobil lalu membuka pintu belakang melihat Zoya dengan tatapan dingin. Karena Zoya masuk kedalam mobil nya tanpa ia sadari, jelas saja Zoya melompat masuk kedalam mobil nya tanpa kursi roda. Yee-jun menghela nafas berat.


" Kau, jangan berisik. Terima saja bila aku terpaksa menggendong mu, jika aku meninggalkan mu di sini bisa saja tapi setelah itu Yeon-jin akan menurunkan gaji kantor ku. Jadi diam dan jangan banyak berbicara, "peringat nya, Zoya yang tidak mengerti maksud Yee-jun hanya mengangguk menurut saja. Yee-jun merunduk kan tubuh nya memegang bahu Zoya dan meraih kedua lutut nya. Sontak Zoya langsung merangkul leher Yee-jun saat ia menegakkan tubuh nya. Dan wajah Zoya dan Yee-jun jelas lah sangat dekat.


" Yaa Allah ganteng nya , pahatan wajah nya sempurna sekali. Bibir nya ranum tapi tajam, mata nya kecil dan sipit tapi menyeramkan, wajah nya datar dan dingin tapi mampu membuat ku jatuh cinta. Hidung nya yang berdiri tegak dan berongga ringan, bulu mata nya pendek tapi seperti jarum pentul, rambut nya berhembus lembut seperti rajutan benang sutra. Kulit nya, bahkan aku sampai tidak bisa membedakan mana putih susu mana putih salju,pupil mata nya... Mahsya Allah, nikmat mana lagi yang aku dustakan? mau dia Yaa Allah, "


"Jangan melihat ku seperti itu, " pengingat Yee-jun datar, membuat Zoya tersentak dan salah tingkah.


"Ha? ee? oh.. iya, "


Hingga membuat nya sadar, Yee-jun akan membawa nya kemana. Mereka memasuki sebuah lorong dengan pencahayaan yang tidak begitu terang.


"Pak kita mau kemana? "


"Jika kau bertanya sekali lagi, aku akan menurunkan mu dan meninggalkan mu di tempat ini, " Zoya langsung mengulum bibir nya dan mengatupkan nya dengan rapat, ia hanya bisa terdiam di gendongan nya Yee-jun sembari berdoa dalam hati.


Sampai lah di sebuah pintu yang cukup besar, entah tempat apa itu, inti nya bagunan itu cukup misterius. Tidak perlu Yee-jun mengetuk apalagi berteriak pintu besar itu terbuka dengan sendiri nya, karena dari dalam sana memang sudah ada petugas yang membuka pintu untuk tuan mereka.


Zoya terkejut saat melihat penampakan dalam ruangan itu adalah perkumpulan anak buah nya Yee-jun yang sedang menatap tuan nya dengan tanda tanya.


"Tuan, kenapa anda membawa seorang wanita ke tempat ini? "


"Tugas mu bukan untuk bertanya,ambil ponsel ku dan cari tau siapa pria itu, " pinta Yee-jun tanpa basa basi busuk lagi. Karena melihat Yee-jun beraura cukup menegangkan, Romeo sang kepercayaan pun langsung menjalankan perintah tuan nya.


Seluruh anak buah menyingkir dan berdiri di ambang pintu saat Yee-jun berjalan masuk kedalam lalu mendudukan Zoya uang Planga plongo tidak jelas.


"Aneh, tadi masuk kaya toko serba, kenapa jadi tempat basecamp mafia. Elit semua lagi, " gumam Zoya memukul-mukul Sofa yang cukup empuk dan nyaman.


.......


.......


.......


.......


.......