Dear A

Dear A
Habis Gelap Terbitlah Terang



...Sekeras apapun aku mencoba mencintai orang lain, pemenang dalam cerita ini akan tetap kamu.....


..._Dear A...


.......


.......


.......


...****************...


Malam itu di dalam mansion tampak tenang, untuk melepas rasa bosan. Hyun-il dan Dae-ho bermain game online,Yee-jun, Yeon-jin dan Myung-jee memilih bermain bola billiard. Sementara Hye-joon berada di dalam kamar nya.


Suasana tampak tegang setelah mereka mendengar bantingan pintu yang pelaku nya adalah Ryung-jae. Mereka menengadahkan kepalanya ke lantai atas, dimana Ryung-jae turun dengan wajah marah dan di belakang nya ada Da-eun yang berusaha mengejar nya.


"Pasti ada masalah lagi, " gumam Yeon-jin meletakkan stik yang ia pegang dan menghampiri dua insan yang akan bertengkar.


"Abang!! " panggil Da-eun berusaha merayu Ryung-jae.


"Enggak, udah i bilang i gak suka you kaya gitu, " jawab Ryung-jae memutar badan nya menatap sang adik.


"Jae, lu kenapa kok marah-marah nih udah malem loh. Coba lu bawa tenang jangan langsung ambil jalan emosi, lu dengerin dulu Da-eun ngomong, " seru Yeon-jin berusaha menengahi pertengkaran itu.


"Jae, lu ngalah dikit lah sama ade lu, dia cewek loh," tambah Myung-jee juga ikut menengahi. Ryung-jae mengusap wajah nya dengan kasar.


"Da-eun, kamu juga kenapa? " tanya Dae-ho menatap nya. Da-eun merunduk menggaruk-garuk jari kuku nya dengan cemas.


"Abang, i pengen kerja boleh yah, " pupus Da-eun berupaya meminta restu agar di beri ijin.


"Enggak Da-eun, lagi-lagi you buat i marah yah. Udah i bilang dari kemaren, you jangan manja you mu apa biar i beliin selain kerja. You udah janji sama i bakalan nurutin perintah i kalau you ikut ke Seoul. I marah i marah Da-eun, " bentak Ryung-jae menghela nafas. Bersamaan mereka menatap Da-eun yang permintaan nya juga membuat mereka marah.


Hye-joon keluar dari kamar nya dan melihat pertengkaran itu dari atas tangga tanpa berniat untuk turun.


"You di Amerika i suruh sekolah yang pintar buat Mama Papa bangga. You gak i suruh kerja, i gak suka adik i kerja. Jangan kan you eonnie Alexa dulu memaksa minta kerja karena dia pengen kerja kaya orang lain, " Ryung-jae menunjuk mereka semua , "You tanya ke mereka, apa jawaban mereka saat eonnie Alexa minta kerja, " sambung nya.


"Apa kalian memarahi nya? " tanya Da-eun berhati-hati.


"Sangat, bahkan saat itu juga satu persatu dari kami menarik uang hanya untuk Alexa berfoya-foya, " jawab Yee-jun dengan wajah masam nya bahkan yang lain memberikan ekspresi yang sama. Da-eun merungut dan menundukkan kepalanya kebawah.


"I cuma pengen kerja, " gumam nya.


"Uang jajan you masih kurang, i transfer sekarang juga, " tambah nya lagi membuka handphone nya berniat untuk mentransfer uang yang lebih banyak ke dalam buku rekening Da-eun, namun tindakan nya itu segera di hentikan.


"Enggak abang, i gak butuh uang. Minggu kemarin you juga baru transfer 100 jt ke rekening i itu pun belum habis, "


"Jadi kenapa you mau kerja hm? you tau kan, i gak suka di bantah turuti apa mau i. Kalau you masih kaya gini, i balikin you ke Amerika aja deh, "


"Emang nya kamu mau kerja apa? " tanya Hyun-il kepada Da-eun.


"I mau kerja di kantor abang, i mau coba deket sama eonnie Zoya. Abang, i kesepian i gak punya temen. Bukan mereka yang gak mau temenan sama i tapi i yang nolak temenan sama mereka, " jawab nya membuat mereka melemparkan pandangan.


"Kenapa kamu lakuin itu? " tanya Hye-joon dari atas tangga dan mereka pun melihat pemilik suara.


"Mereka yang mau temenan sama i itu gak enak, mereka selalu pamer harta dan kekayaan orang tua. I gak suka, Mama larang i kaya gitu itu padahal mereka gak pernah tau seperti apa susah nya orang tua mereka mencari uang, tetapi mereka menghabiskan dan menghamburkan nya begitu saja. Uang yang abang kasih masih banyak, jarang i pakai. I pakai kalau i butuh, " jawab itu sukses membuat Ryung-jae dan yang lain nya terdiam membeku.


"I suka lihat eonnie Zoya, meski pun baru pertama jumpa dan I gak tau diri nya seperti apa, tapi i nyaman. I mau kerja di kantor abang, gak di bayar juga gak papa. I mau jadi cleaning Service, "


"Kamu punya keahlian di bagian komputer, kamu bisa jadi pegawai sementara di kantor. Kenapa milih jadi Cleaning service? " tanya Yee-jun terkejut mendengar permintaan Da-eun.


"Kan udah i bilang, i mau kerja karna i mau deket sama eonnie Zoya bukan yang lain, "


"Ok kamu di Terima, " pernyataan itu sontak membuat Ryung-jae menatap Hye-joon dengan kecepatan kilat.


"Hyung, gue butuh pertimbangan lu kok asal mutusin gitu aja, "


"Apa salah nya, Da-eun juga minta kerja nya di kantor kita. Kamu kan bisa lihat-lihat dia, apa yang perlu di khawatirin, "Ryung-jae menghela nafas mengalah, sementara Da-eun sudah tersenyum sumringah karena keinginan nya tercapai.


" Soal gaji kamu minta yah ke abang kamu, "seru Dae-ho menggoda Ryung-jae.


" Gak di minta pun abang selalu kasih, "


Yee-jun pergi meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah nya sangat tergesa-gesa, mereka yang melihat tingkah laku Yee-jun pun hanya bisa diam karena Yee-jun orang yang diam tanpa banyak bicara.


Hye-joon terdiam terbuai dalam isi fikiran nya. "Apa ini yang di rasakan Alexa hari itu? " gumam nya di dalam hati.


***


Keesokan pagi nya, Da-eun pun bersiap mengikuti sang abang pergi ke kantor nya. Mereka memutuskan untuk menaiki mobil pribadi masing-masing, dan Ryung-jae bersama Da-eun dalam satu mobil.


"Abang, " panggil Da-eun di tengah fokus nya Ryung-jae menyetir mobil.


"Kenapa? " jawab nya melihat Da-eun.


"Abang gak ada niat mau nikah? " Ryung-jae sontak menginjak rem dengan cepat, hingga membuat Da-eun menabrak dasbor depan. Dengan kecepatan kilat Ryung-jae menyelis Da-eun sangat tajam.


"Huufffhhh, " ia menghembuskan nafas dengan terpaksa, ini baru pukul setengah delapan pagi amarah nya harus ia pendam agar tidak meledak saat itu juga. Ryung-jae melihat Da-eun sudah merunduk, karena ia tau pertanyaan nya itu sangat mengguncang perasaan sang abang pagi ini. Ryung-jae menyandarkan tubuh nya sembari terus menenangkan diri nya.


"You belum pernah kan rasanya mencintai seseorang sangat.. sangat. Tetapi cinta you di tolak karena dia mencintai orang lain, "


"Abang, i minta maaf karena pertanyaan I berkaitan untuk menggeser posisi eonnie Alexa, "


"Gak papa, i faham karena you masih kecil dan belum merasakan hal sesakit itu. I cuma mau bilang, i juga berusaha mengobati luka itu, tapi i selalu gagal sekeras apapun i berusaha melupakan nya, tetap aja pemenang nya adalah eonnie Alexa, " Da-eun tersenyum getir melihat keterpurukan Ryung-jae semenjak cinta nya tidak terbalas, di tambah lagi seseorang itu pergi meninggalkan nya untuk selama nya. Sejak hari itu, temperamen Ryung-jae. Ia lebih sering marah dan membentak dengan keras, Ryung-jae bukan diri nya yang dulu yang ceria dan humble. Semua itu sudah ia bunuh semenjak kepergian wanita itu.


"I.. i gak mau lihat abang kaya gini terus, i tau abang kehilangan segala nya. Cinta memang buta bang, tapi jika abang gak berusaha lagi, you bakalan terjebak terus menerus. I yakin eonnie Alexa juga sedih liat you begini, you hancur di dalam tetapi kasar di luar. Eonnie Alexa pasti nangis lihat you kaya gini, " Ryung-jae menjatuhkan air mata nya dan ia langsung menyeka nya. Matanya nya sampai merah menahan sesak.


"Sakit.. sakit dek.. i selama ini menahan sakit, i gak tau siapa yang bisa obati i, "


"Mungkin i juga sama kaya abang, susah untuk move on bila berada di posisi yang sama. Tapi i yakin, suatu saat nanti.. Abang dan ke-enam sahabat abang bakalan nemuin bidadari yang bisa menyembuhkan luka itu," Ryung-jae menatap Da-eun dengan mata yang sudah berkaca-kaca lagi.


"Tapi i gak mau lupain dia, i pura-pura ikhlasin dia tapi i semakin mati jika menyadari Alexa telah lama meninggal. Alexa belum meninggal, " lagi dan lagi air mata nya terjatuh.


"You pasti bisa.. You harus bisa, ada kebahagian yang menunggu you di ujung jalan, "


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...