Dear A

Dear A
Episode yang terpenggal



...Bila teringan dia, itu lah rindu. Apabila kita menangis karena nya, itu lah sayang. Apabila kita mendoakan nya meskipun tidak bersama nya, itu lah cinta....


..._Dear A...


.......


.......


.......


.......


.......


...****************...


"Eonnie, you ga papa? "Zoya menjawab dengan linglung.


" Ga.. ga papa kok, "sembari tersenyum getir yang di paksa kan.


" You mau apa? biar i ambilin, "Zoya langsung menggeleng tidak ingin merepot kan Da-eun hanya karena persoalan makanan yang akan masuk kedalam perut nya.


" Aku.. bisa ambil sen---


"Bagaimana kau bisa mengambil dengan kaki seperti itu? setidak nya kau tidak perlu jual mahal,yang gratis jarang terjadi, " potong Yee-jun sembari melahap makanan nya. Zoya merunduk penuh sadar diri, ia hanya bisa merepotkan semua orang, dan itu benar apa yang di katakan uwak nya.Da-eun menghela nafas dengan kedua tangan yang ia naikkan keatas pinggang, melihat ucapan dingin dari sahabat abang nya sendiri membuat nya begitu muak.


"You kaya nya benci banget sama eonnie Zoya, " seru Da-eun menatap Yee-jun dengan tatapan bertanya-tanya.


"Like it's none of your business, " jawab nya dengan datar.


"And like that, it's also not your business to comment on his condition, " balas Da-eun dengan pedas, Yee-jun hanya melirik nya dengan tatapan malas. Yeon-jin menghela nafas lelah sembari membanting pisau dan garpu nya di atas piring.


"Hyung, " panggil Hyun-il pelan.Sementara Hye-joon terus melahap makanan nya tanpa menghiraukan apapun.


"Eo.. apa sebaik nya aku pergi saja dari meja makan ini? " tanya Zoya meminta ijin dengan rasa canggung.


"Tidak... tetap lah di sini, ini bukan salah mu, " jawab Myung-jee langsung menghentikan niat Zoya. Yee-jun langsung menyelis kearah nya.


"Lu suka yah sama Zoya, ga usah di tahan ambil aja... gue ga mau,dia ga selevel sama gue, " tamparan keras itu berhasil membuat relung hati nya benar-benar seperti wanita terhina.


"HYUNG!!! " sentak Dae-ho, Ryung-jae dan Hyun-il dengan raut wajah penuh amarah besar kepada Yee-jun.


"Mau lu apa sih, hyung. Suka banget lu buat sensasi ,hm? "tanya Myung-jee sebagai tersangka yang akan di sudutkan. Yee-jun mengambil serbet yang menutupi paha nya, lalu mengelap bibir nya dengan santai nya.


" Gue udah selesai, "seru nya menggerek kursi kebelakang berjalan menjauhi meja makan.


" Wahh.. you benar-benar ga punya perasaan yah, "gerutu Da-eun sangat kesal. Hye-joon menggerek kursi nya kebelakang, membuat atensi beralih kearah nya.


" Hyung, mau kemana? "tanya Dae-ho bingung, Hye-joon memutari meja makan yang lumayan panjang itu, ia hanya diam tidak menjawab. Zoya merasa Hye-joon akan menghampiri nya, dan benar.


Hye-joon mengambil piring Zoya, dan mengambil kan makanan ya yang pantas ia makan dengan sehat. " Anggap saja Yee-jun bukan manusia, "gumam nya bermaksud berbicara pada Zoya.


" Eo.. pak, saya..


Hye-joon meletakkan piring makan itu di hadapan Zoya, "Makan lah, waktu makan kita sudah hampir terlewat, " sambung nya.


Mereka dengan perasaan kurang nikmat pun, terpaksa menikmati makan malam itu tanpa suara, hanya dentingan pisau dan piring yang saling bertautan.


Selesai makan, seperti biasa mansion itu akan terlihat sepi setelah waktu makan berakhir hanya karena di sibukkan dengan urusan kantor masing-masing. Lampu utama tampak sudah padam, hanya lampu-lampu kecil yang tergantung di setiap tembok mansion.


"Da-eun, aku mau pergi kebawah sebentar, seperti nya ada barang ku yang tertinggal di meja makan tadi, " Da-eun mengalihkan tatapan nya dari laptop.


"Mau i temenin? "


"Ga usah, aku bisa kok. Kamu lanjut aja, "


"Beneran? "


"Iya, aku kebawah bentar yah, " Da-eun mengangguk kan kepala nya, ia segera beranjak membukakan pintu untuk Zoya bisa keluar.


"Eonnie, hati-hati yah, " Zoya mengangguk kan kepala nya lalu kembali mengayuh roda nya dengan kedua tangan.


Setelah keluar dari lift, bukan nya berjalan menuju ruang makan. Zoya mengayuh roda nya menuju pintu belakang, katanya pintu itu terhubung keluar dan bertemu langsung dengan taman belakang mansion.


Zoya membuka kunci nya dengan sangat pelan, lalu melebarkan pintu itu agar ia bisa keluar. Sesampainya nya di luar, taburan bintang dan bulan menyambut nya. Dengan penuh semangat Zoya mengayuh roda nya dengan semangat menuju tempat yang ia inginkan untuk menyendiri.


"Hah!! " hela nya kelelahan setelah berhenti di suatu tempat. Di lihat nya sebelah kiri ada kursi besi, Zoya berniat memindahkan tubuh nya ke kursi itu.


"Bismillah, " dengan usaha menahan tubuh nya, akhir nya ia bisa memindahkan nya.


"Akhir nya bisa juga, " gumam nya dalam hati dengan perasaan campur aduk.


***


"Heyy, " Zoya tersentak ketika ada suara yang mengejutkan nya dari belakang.


"Eo.. sedang apa di sini? " tanya Zoya seperti tidak terjadi apapun. Myung-jee mendengus geli, ia duduk di sebelah Zoya dengan beberapa jarak.


"Harus nya abang yang bilang kaya gitu sama kamu, ngapain di sini sendirian. Udah jam sembilan lewat tiga puluh menit, ga takut? " Tanya nya menatap Zoya yang juga ikut menatap nya.


"Aku lebih takut jika besok pagi aku belum mendapat apa-apa, " jawab nya dengan senyum getir, Myung-jee begitu memahami perasaan Zoya malam ini pasti ada yang mengusik nya. Tangan dan telinga yang memerah, membuat nya sedikit kedinginan berada di luar malam. Namun Zoya tampak biasa saja, padahal ia tidak memakai jaket tebal, hanya gamis dan hijab ungu di tubuh nya.


"Ada cerita apa hari ini? abang pengen denger dong, " Zoya kembali menyamping menatap Myung-jee dengan sangat sedih, karena ada seseorang yang dengan mudah nya padahal itu juga kalimat yang ia nanti-nantikan selama berjuang seorang diri.


"Tadi.. ada yang menelpon ku, nomor nya berasal dari Indonesia... " Ia merunduk menggenggam tangan nya sendiri begitu erat.


"Kakek ku meninggal dunia, menyusul istri nya yang lebih dulu meninggal, " Myung-jee terdiam, mungkin kabar duka ini membuat nya sangat terpukul.


"Aku hanya tidak menyangka, ini terjadi begitu cepat. Kakek dulu seorang petani, pergi pulang mengantarkan ku sekolah. Itu hanya kenangan, aku tidak bisa melihat saat terakhir nya, " Zoya mengulum bibir nya, malam ini ia bertekad untuk tidak menangis lagi.


"Kamu pasti sangat sedih, "


"Tidak.. lalu tidak tau kenapa bibir ini berkata 'ibu ku dimana? ', "Zoya tersenyum menatap Myung-jee yang langsung membuang wajah nya.


" Jangan tersenyum seperti itu, aku tidak kuat mendengar cerita mu selanjut nya.. pasti ada luka baru, "Ia gagal lagi, Zoya menangis tersedu-sedu bila ia katakan jawaban nya adalah benar. Ada luka baru yang sudah tergores.


" Kenapa dengan ibu mu? "


"Abang... mereka bilang ibu ku sudah menikah dengan pria lain enam bulan yang lalu, tapi aku tidak tau dan tidak ada yang memberi tahu ku. Aku kira karena sekarang aku berada di Korea sebab itu mereka kesulitan untuk memberitahu ku. Tapi aku salah.. hiks hiks.. bibi Tessa ternyata sudah tau lebih awal, tetapi dia menyembunyikan nya dari ku," Zoya menangis lebih keras, Myung-jee membiarkan itu menurut nya mungkin apa yang Zoya lakukan adalah cara nya melampiaskan kekesalan nya dan mengurangi tekanan yang menghantui nya terus menerus.


Myung-jee hanya melihat Zoya menangis di samping nya, berteriak lalu memukul-mukul dada nya yang terasa sakit. "Hentikan, hentikan itu, " seru nya bersikap layak nya ia adalah tempat sandaran terbaik.


Myung-jee melepas jaket tebal nya dan memberikan nya pada Zoya, bukan soal ia tidak kedinginan melainkan seluruh tubuh nya sudah mengeras, bahkan ia seperti mayat hidup. Sekecil itu bantuan yang Myung-jee berikan, setidak nya jaket itu adalah salam pelukan hangat dari nya untuk menenangkan hati dan fikiran yang sangat kacau.


"Abang.. "ia semakin menangis bahkan itu seperti sangat perih dan merintih. " Peluk.. peluk aku, "sambung nya. Myung-jee dengan sangat memahami isi hati Zoya bersedia memeluk nya hanya untuk menenangkan nya dalam dekapan nya.


" Setelah ini, maafkan abang yang lancang memeluk mu, "gumam nya mengelus kepala belakang Zoya yang menangis di punggung nya hingga pakaian nya basah.


" Abang tau, kamu adalah korban dari keluarga mu sendiri. Abang ada di pihak mu, saat kamu mengatakan ini semua tidak adil. Mereka semua tidak ada yang tau kondisi mu saat ini, mereka hanya bisa menyudut kan mu sebagai orang yang tidak di harap kan untuk terlahir. Tetapi kehadiran mu tidak sehina yang mereka katakan, "punggung Zoya semakin bergetar, Myung-jee merapatkan jaket nya ke tubuh Zoya.


" Tidak akan terjadi apapun selama ada abang, ga papa, "


"Tapi selama tujuh hari ke depan, berjanji lah untuk tidak menangis, " Zoya langsung menarik tubuh nya dari pelukan Myung-jee, dengan tatapan bertanya-tanya dan hingus yang molor.


"Mau kemana? " tanya nya dengan wajah imut sampai Myung-jee terbengong dan mendengus geli.


"Eh.. secepat itu? tadi seperti tidak punya semangat hidup, sekarang malah kaya tidak terjadi apapun, "


"Di jawab, "Myung-jee memiringkan sedikit kepala nya bertanya-tanya pada diri nya sendiri, bermaksud membuat Zoya agar kesal kepada nya.


" Woiiii!! "


"Oooo.. Zoya sekarang sudah mengeluarkan taring nya yah, "Zoya melipat tangan nya di dada dan berekspresi sangar.


" Ok.. ok.. Besok abang akan pergi ke New York dan Los Angeles bersama Hyun-il,untuk mengurus pemindahan perusahaan baru, "Zoya menaikkan alis nya sebelah.


" Pindah? kenapa? "


"Itu perusahaan warisan yang di tinggalkan keluarga Alexa, emmm.. Los Angeles, abang hanya tertarik saja untuk memindahkan nya di sana. Lebih eksentrik seperti nama Alexa, "


"Lalu pak Hyun-il ada urusan apa? "


"Ada dua hotel yang ia kembang kan di New York, lalu membantu menyelesaikan urusan Ryung-jae yang akan melelang kapal pesiar nya, " Zoya yang air mata nya sudah mengering tampak terkejut mendengar kapal pesiar akan di jual.


"Kalian punya kapan pesiar? " Myung-jee agak bingung menjelaskan nya.


"Cuma dua doang kok, " lebih terkejut lagi saat Myung-jee mengatakan 'cuma dua'.


"Bang gampang banget bilang 'cuma dua' waaakhhh, "


"Abang sama Ryung-jae doang yang punya kapal pesiar, yang lain nya lebih banyak harta nya.. abang masih di bawah, "Zoya tidak habis fikir dengan isi kepala Myung-jee.


" Masih di bawah, terus orang kaya Zoya ini apa dong.. kain lap? "Myung-jee tertawa geli mendengar lelucon Zoya.


" Enggak.. enggak, nanti kamu tau sendiri, "


.......


.......


.......


.......


.......