
...Bukan ingin menjadi lebih baik dari orang lain, tapi aku hanya ingin jauh lebih baik dari diri ku yang sebelum nya....
~Shanzoya
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
...****************...
Zoya terburu-buru menyetop sebuah taksi yang melintas di jalan itu, sementara ketiga teman nya terpaksa ia tinggalkan di dalam restoran dan masih menyantap makanan yang mereka pesan. Alasan nya cukup simple, Zoya melupakan jadwal pemeriksaan ke dokter Bo-ra. Minggu kemarin Tessa sudah menjanjikan sebuah jadwal, tentang perkembangan Zoya yang baru.
Dari dalam mobil taksi, Zoya sudah melihat Tessa sedang menunggu nya di depan gedung apaterment tempat mereka tinggal. Ia segera membuka pintu setelah melakukan transaksi pembayaran.
"Assalamu'alaikum, "
"Wa'alaikumussalam, " jawab pasutri itu dengan lembut.
"Zoya lupa bi kalau hari ini jadwal periksa, " seru nya terengah-engah.
"Gak papa, yang penting kamu udah sholat Ashar kan? "
"Alhamdulillah udah kok bi, "
"Yaudah langsung aja berangkat sekarang, tadi paman udah kirim pesan ke dokter Bo-ra untuk menunggu kita datang, "
"Eo.. baiklah, "
Selama di perjalanan, Zoya berulang kali menghela nafas. Ini pemeriksaan yang keempat kali nya, setelah pemeriksaan kedua ia telah mendapat diagnosis menderita PTSD sebuah trauma yang belum sembuh.
Karena hal itu cukup menganggu aktifitas nya, Zoya mendapat resep obat dari dokter psikolog nya. Sedikit membuat nya gelisah, apakah ada hal baru yang akan ia derita?
"Jangan takut, semua nya akan baik-baik saja, " Tessa mengelus punggung Zoya agar ia jauh lebih tenang.
Anh Dan Tae menghentikan mobil tepat di depan klinik yang sudah sangat familiar bagi mereka.Zoya dan Tessa segera turun dari mobil, sementara Anh mengatakan tidak ikut masuk dan memilih menunggu mereka berdua di laman parkir.
"Eo.. sudah datang? silahkan duduk, " seru Bo-ra mempersilahkan Zoya dan Tessa duduk di depan meja kerja nya. Bo-ra menatap Zoya dengan senyuman lembut nya, teknik pertama agar tidak membuat pasien merasa tegang dan terancam.
"Zoya.. apa kabar? " tanya nya berusaha berbasa-basi, Zoya menggaruk-garuk sela-sela jari nya. Ini tidak biasa ia lakukan, kegelisahan nya untuk menjawab kian meragukan.
"Kenapa? jangan takut, saya dokter kamu, "Zoya berusaha untuk rileks dan menutupi kegelisahan nya, Zoya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan perlahan.
" Bagus, "puji Bo-ra, karena Zoya bisa mengatasi kegelisahan nya sendiri.
" Kabar baik, dokter, "Bo-ra tersenyum lembut karena pertanyaan nya dapat terjawab.
"Saya mulai yah, kamu siapa? "
"Zoya, "
"Akhir-akhir ini kamu merasa diri mu aneh gak? "
"Tidak, semua berjalan lancar, "
"Zoya, setelah kamu sampai di Korea, apa yang kamu alami? " Zoya terdiam lama, ia kembali gelisah dan di serang kepanikan. kedua jari telunjuk nya saling menggaruk jempol milik nya tanpa disadari ia melakukan itu.
"Aku..
" Tenang Zoya, tenang. Katakan aja, "bisik Tessa sedikit khawatir melihat perubahan mood Zoya. Bo-ra memperhatikan raut wajah Zoya dengan sangat intens, seolah-olah ia tau apa yang Zoya alami dan selalu ia tutup-tutipi.
"Mereka... mereka.. mereka bully aku, " Tessa terkejut sampai membekap mulut nya sendiri. Bo-ra menyandarkan tubuh nya di sasaran kursi.
"Terus apa lagi yang kamu alami? "
"Aku takut, aku kedinginan. Gelap, sepi.. mereka menyiram ku dengan air dari got, " Zoya mengucap kan itu tanpa celah dan lancar. Tessa tidak bisa berkata-kata lagi, sebaik-baik ia merawat Zoya ternyata masih ada sebuah rahasia yang ia sendiri tidak mengetahui nya, dan membiarkan Zoya menderita seorang diri.
"Setelah hari itu, apa kamu masih di bully lagi? "
"Tidak, tujuh orang pria datang menyelamatkan ku dan memberikan ku pekerjaan, sehingga aku tidak bertemu dengan mereka lagi, "jawab nya jauh sedikit lebih tenang dari pada sebelum nya. Bo-ra mengambil tangan Zoya dan menggenggam nya dengan penuh kehangatan dan menatap nya sangat tajam.
" Apa kamu pernah berfikir sepintas untuk bunuh diri? "Bo-ra menanyakan hal itu dengan Hati-hati.
" Pernah, "jawab nya spontan dan sampai mengejutkan Tessa yang duduk di samping nya.
" Astaghfirullah nak? "Bo-ra memberi Tessa kode agar ia tetap tenang.
" Kamu pernah sengaja melukai diri mu sendiri, atau mengiris-iris lengan mu? "
"Pernah berniat, tapi aku berusaha menahan nya, "
"Kamu pernah melakukan sesuatu yang berulang-ulang, dan itu di luar batas wajar menurut kamu, " Zoya terdiam mencoba mengingat hal yang selalu membuat nya begitu candu.
"Aku selalu mencuci tangan ku, "
Bo-ra menghela nafas, ternyata hal baru yang di derita Zoya tidak lah parah tetapi harus lebih sering di pantau. Bisa kapan saja Zoya tidak menyadari tindakan nya dan mencelakai diri nya sendiri.
"Zoya, kamu gak usah ikut pergi tour yah. Dirumah aja, " bujuk Tessa menatap Zoya dengan sangat khawatir.
"Zoya bisa jaga diri kok bi, " seru nya sembari tersenyum menyakinkan Tessa agar tidak mengkhawatirkan nya.
"Bawakan saja obat yang saya beri, kalau anxiety mu kambuh lagi langsung minum obat nya, "
"Baiklah, "
"Terimakasih Dok atas bantuan nya, "
Mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan ruangan kerja Bo-ra dan langsung menghampiri Anh yang berdiri di sebelah mobil nya.
"Sudah? " tanya nya pada sangat istri, sementara ia melihat Zoya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Berdoa aja sama Allah, semoga Zoya selalu di lindungi dan di beri kesembuhan dari luka-luka masa lalu nya, " Anh mengelus punggung sangat istri dan tersenyum lembut agar Tessa tenang.
***
Keesokan pagi nya, di kediaman mansion Hye-joon.Dari pukul lima subuh, mereka sudah bangun lebih awal, menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan selama berlibur.
"Da-eun, May I come in? " sahut Hye-joon setelah mengetok pintu kamar Da-eun.
"Yes, off course, " jawab nya dari dalam kamar, Hye-joon membuka pintu kamar Da-eun dan tampak lah semua barang berserakan dimana-mana. Ternyata Da-eun tidak sendiri, ada Ryung-jae yang masih bergelut dengan selimut milik Da-eun.
"You packed these things alone, " Da-eun menghela nafas lelah.
"No reason, " jawab nya dengan singkat.
"Abang, you mau pakai hoodie hitam atau putih? " tanya Da-eun menyamping kan kepala nya bertanya pada Ryung-jae yang pasti nya ia sedang sadar.
"Bawa saja kedua nya, " jawab Ryung-jae dengan suara berat. Hye-joon melompat keatas kasur itu dan berniat menganggu Ryung-jae.
"Aaa.. hyung, aku masih ngantuk, "
"What? yaa.. Ryung-jae, aku akan mengadukan mu pada Jin hyung, "
"Tidak ada ucapan lain yang pantas ku dengar pagi ini? " gumam nya masih menutup mata.
"Ada, "
"Apa? "
"Get Upppppp!! " pekik Hye-joon dekat dengan telinga Ryung-jae, dan sontak saja ia langsung terbangun dan terduduk tegak menatap Hye-joon dengan nyalang.
"Yaaaa!!!! "
Bluppp
Da-eun dengan kesal nya melempar sepotong baju kearah Ryung-jae, "You diam, i cape, " ujar nya membuat Ryung-jae terpelongo.
"You gak liat yang ganggu i dia, bukan i yang buat keributan, " jawab nya menunjuk Hye-joon yang sudah tertawa renyah.
Sementara itu, Zoya sedang masukkan hijab nya satu persatu kedalam koper dan di bantu oleh Tessa yang juga ikut mengemas makanan yang akan Zoya bawa.
"Kalau udah selesai, langsung mandi aja. Sisa nya nanti bibi yang---
Belum selesai berbicara, Zoya sudah berlari secepat kilat mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Tessa tercengang dan langsung merubah raut wajah nya.
" Dasar Zoya!! "
"Terima kasih bibi cantik!! "
Tessa menghiraukan nya, ia membuka laci meja nakas dan melihat beberapa obat yang di berikan Dokter Bo-ra kepada nya. Tessa menyelipkan botol obat itu di tas koper bagian terkecil, agar Zoya tidak kesulitan mencari nya.
Setelah nya Tessa menyusun koper itu bersandar pada dinding, lalu menumpu tas hitam yang berisi makanan di atas nya. Tessa beralih menuju dapur, disana ada Anh Dan Tae yang masih menikmati hidangan pagi nya, Tessa mengambil wadah bekal makanan lalu menaruh sebagian makanan yang ia sisihkan untuk Zoya kedalam wadah tersebut.
"Loh, Zoya gak makan di rumah? " tanya Anh karena heran dengan istri nya.
"Enggak, katanya jam 06.30 harus sudah sampai di halaman kantor, " Anh terdiam lalu mengunyah makanan nya lagi.
"Mas, aku ikut antar Zoya yah? "
"Aku baru mau nawarin, " Tessa semakin tersenyum senang, spontan ia langsung mencium pipi sang suami. Dua pasutri ini sedang di landa keromantisan.
"Gak enak, kalau tiba-tiba Zoya lihat. Tapi kalau di kamar udah aku makan kamu, " jawab Anh menggoda Tessa.
"Enggak ah, lain kali aja, "
"Kau terlalu kegeeran kalau aku mengajak mu sekarang, " Anh mendengus geli karena berhasil mengerjai istri nya, Tessa bersungut-sungut sebal karena terpancing.
"Pura-pura gak denger aja lah, "
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...