
...Kita adalah dua yang di awali dari sesuatu yang tidak di sengaja, di jalani dengan apa yang di sebut bahagia dan di tutup dengan derai dua air mata....
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
...****************...
Hye-joon dan yang lain nya menunggu kepulangan Yee-jun yang sudah pasti membawa Zoya. Hal itu Da-eun sadari saat melihat pelataran yang hanya tinggal kursi roda nya saja tidak dengan orang nya.
"Hhsss...kenapa kak Yee-jun harus membawa Eonnie Zoya pergi bersama nya? " Da-eun berfikir dengan seribu pertanyaan.
"Entah lah, biasa nya ini tidak pernah terjadi, " jawab Dae-ho dengan asal sembari memfokuskan mata nya ke permainan game nya.
"Haiisshh.. apa kalian berdua tidak memiliki tugas kantor? " keluh Yeon-jin kepada dua adik bungsu nya.
"Kalau kami mengerjakan nya, uang kami tidak akan habis, hyung, "jawab Ryung-jae gamblang membuat Yeon-jin geram lalu melempar bantal soffa kearah mereka.
" Dasar adik-adik kurang ajar, tugas kalian aku yang mengerjakan, "gumam Hye-joon bersungut-sungut.
"Abang, you ga telepon kak Hyun-il kabar nya gimana? " tanya Da-eun menatap Ryung-jae seperti nya santai saja, padahal Ryung-jae membebani urusan pekerjaan kepada Hyun-il pasal kapal pesiar yang akan ia lelang.
"I udah telepon dia tadi sebelum makan malam, I rasa dia sibuk, " jawab nya tanpa mengalihkan pandangan.
"Yaa!.. sebaik nya kau bantu Hyun-il di sana sedang kesulitan. Myung-jee juga sibuk mengurus kepindahan perusahaan nya di Los Angeles, " tutur Yeon-jin dan hanya mendapat deheman dari Ryung-jae.
Tidak berselang lama, terdengar suara deru mobil yang sengaja di main-main kan suara mobil nya. "Sialan, bertingkah lagi anak itu, " umpat Yeon-jin berjalan keluar di susul Hye-joon dan Da-eun.
Sesampainya di pintu utama, Yee-jun keluar dari mobil nya dan berjalan berkeliling hanya untuk membukakan pintu mobil belakang untuk Zoya.
"Kau senang membawa Zoya? untuk apa? " tanya Yeon-jin tanpa mendengar penjelasan dari Yee-jun.
"Haiisshh.. gara-gara dia gue repot tau ga? " keluh Yee-jun bersungut-sungut dengan sebal. Da-eun mengambil kursi roda Zoya ketika Yee-jun sudah mengangkat nya.
"Kenapa? " tanya Hye-joon.
"Dia masuk ke mobil gue tanpa gue tau, aahh.. padahal gue sibuk setelah mendapat panggilan dari Myung-jee, "
"Apa yang Myung-jee katakan? "
***
Myung-jee duduk berdua dengan Hyun-il di dalam kamar hotel, setelah urusan nya dengan Robert selesai.
"Kumpulkan semua manager di lobi hotel, " pinta Myung-jee kepada Hyun-il sebagai pembuka pembicaraan.
"Ya, aku tau Hyung, " jawab nya sembari memijat kepala nya yang terasa pusing.
"Hyun-il, "
"Ya, "
"Ada sebuah kesalahan, " Myung-jee menghela nafas untuk melanjutkan ucapan nya.
"Kesalahan? "
"Kau menerima pegawai mantan narapidana, tidak hanya satu, bahkan lebih. Hyung mengecek nya, ternyata yang kau katakan benar, semua ini tidak akan terjadi begitu saja, "Hyun-il menghela nafas cukup panjang lalu memejam kan mata nya.
" Siapa yang kau curigai? "tanya Myung-jee seolah Hyun-il memang sudah mengetahui sesuatu.
" Supir, supir itu memiliki gelagat yang mencurigakan, "jawab Hyun-il membuat Myung-jee mengerutkan dahi nya.
" Yang mengantar kita tadi? "Hyun-il menganggukkan kepala nya, dan langsung membuat Myung-jee bersandar lemas sembari mengendurkan dasi nya yang cukup mencekik leher.
" Aku sudah menelpon Jun hyung, "Hyun-il langsung menegakkan tubuh nya.
" Untuk apa, Hyung? "
"Kau berada dalam masalah, kau tidak bisa menghadapi nya seorang diri, " Hyun-il membantah usul Myung-jee.
"Hyung, kita belum tau jelas siapa dalang nya. Aku tidak ingin merepotkan mereka sebab itu aku hanya bisa diam, " Myung-jee membuang wajah nya kesegala arah.
" Salah, kau salah, "
"Sir, " pandangan mereka beralih pada Robert yang tiba-tiba masuk kedalam kamar nya.
"Ada apa? "
"I'm sorry sir, ada hal penting yang harus aku sampai kan, " melihat wajah Robert yang sangat tegang membuat Hyun-il semakin was-was akan mendapat kabar buruk.
"Duduk lah, "
"Katakan, " ujar Myung-jee juga ingin tau apa yang akan di sampai kan Robert.
"Sir, ini file yang harus anda lihat. Maaf baru memberitahu Anda, karena ini kelalaian saya yang melewatkan hal penting ini, " Robert menyodorkan sebuah flashdisk hitam kepada Hyun-il.
Hyun-il membuka kembali laptop nya dan menghubungkan flashdisk itu. Hanya ada satu file yang tersedia, dan hal itu memudah kan Hyun-il untuk mengetahui dengan cepat.
"Apa ini? " tanya Myung-jee dengan tatapan sulit di mengerti. Robert menunduk dengan perasaan bersalah.
"Itu data file tentang manager baru yang mengambil sejumlah penghasilan dalam jumlah yang cukup besar, " Hyun-il dan Myung-jee menahan nafas nya sejenak.
"Siapa dia? "
" Aaaarrggggghhh!! "pekik Hyun-il dengan kesal.
" Total kerugian yang di terima hotel sebanyak 30 miliyar, "lanjut Robert juga takut melihat kemurkaan Hyun-il yang sangat seram.
" Siapa manusia keparat ituuuu!! "
Braakk, Ctaasss
Hyun-il menghempas laptop nya ke dinding, membuat barang itu perlahan mati dan hanya menimbulkan warna pelangi.
"Hyun-il, "
"Aku bangkrut Hyung, " lirih Hyun-il meremas rambut nya.
"Kau masih punya Netherland, "
"Sir, semua orang sudah tau dua hotel terkenal itu milik satu orang yang sama. Jika hotel ini sudah mendapat reputasi buruk, hotel yang lain akan mendapat penilaian yang sama, " ucap Robert berhasil membuat Myung-jee bungkam seribu bahasa. Apa benar hotel yang di wariskan untuk Hyun-il akan berhenti di saat itu juga? "
Drrrttt drrrttt
Sebuah pesan masuk tertera di layar handphone Myung-jee, "Jun hyung, " gumam Myung-jee meraih nya dengan cepat.
"Aku mengenal siapa orang itu, aku pernah bertemu dengan nya dua tahun yang lalu. Itu hanya pertemuan singkat, dulu dia hanya seorang gengster biasa. Ini juga kelalaian ku, aku juga tidak tau jika perbuatan nya sudah sejauh ini. Besok aku akan tiba di New York, dia cukup sulit di temukan, _Jun Hyung, "
Begitu lah pesan yang tertera, Myung-jee mengulum bibir nya, mungkin ini juga berkaitan dengan masa lalu nya bersama Alexa.
"Robert, kau tau tempat penjualan mobil bekas? " tanya Myung-jee kepada Robert.
"Yes sir, "
"Bawa mereka semua ke tempat itu, kau faham maksud ku? "
"Yes Sir, saya faham, " Robert melangkah kan kaki nya meninggalkan kamar hotel itu. Sementara Hyun-il sudah terbaring lemas di atas kasur.
"Istirahat lah, Hyung akan membantu mu membereskan masalah ini, " seru Myung-jee melepas sepatu dan kaos kaki yang masih melekat di kaki Hyun-il, lalu ia menutupi tubuh pria tampan itu dengan selimut.
***
"Kau akan pergi malam ini? " tanya Yeon-jin melihat Yee-jun mengepak barang-barang nya.
"Huufffhh, aku sudah mendapat kabar dari Myung-jee, manager baru nya mengkorupsi sejumlah uang yang cukup besar. Hotel itu berada di ujung kehancuran. Aku harus menghancurkan mereka yang mengganggu Hyun-il, " mereka yang mendengar langsung melemas.
"Astaga.. bagaimana kondisi Hyun-il, " Yee-jun menarik nafas dan menatap Hye-joon dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Buruk, dia sampai membanting laptop nya sendiri, " Ryung-jae mengusap kepala nya dengan gusar, apa ia membebani Hyun-il?
"Hyung, aku boleh ikut dengan mu? "seluruh atensi berpindah menatap nya.
" Untuk apa? "tanya Yeon-jin.
" Hyung ini salah ku, aku membebani nya dengan mengurus kapal ku? "
"Tidak, aku yang tidak konsisten sebagai Hyung tertua. Sebaik nya kau jangan ikut, Yee-jun jelas tidak menginjin kan mu pergi, " Ryung-jae menangis sengugukan akibat rasa bersalah nya pada Hyun-il yang semakin membuat nya frustasi. Dae-ho mengusap punggung Ryung-jae agar ia segera merasa baik-baik saja.
"Aku akan langsung menghubungi kalian jika masalah nya sudah membaik, " ujar Yee-jun mengunci koper nya.
"Kau pergi malam ini?apa kau sudah mendapat tiket pesawat? "tanya Yeon-jin.
" Keberangkatan pesawat tiket bisnis luar negeri sudah di siap kan Seeni, aku masih punya waktu 25 menit menuju bandara, "
"Hyung hati-hati di sana, " ucap Hye-joon, Yee-jun menganggukkan kepala nya dan ia meletakkan koper nya di sisi dinding kamar nya. Sementara mereka memutuskan untuk keluar dari kamar Yee-jun.
Ada yang tidak terduga, ternyata Zoya telah mendengar semua percakapan mereka dari luar. Padahal itu adalah dosa namun apa boleh buat, saat Zoya mendengar Yee-jun akan pergi ke New York malam ini.
"Apa yang akan terjadi padanya jika pak Yee-jun pergi seorang diri? " tanya nya dengan nada was-was. Untung lah Da-eun tidak bersama nya, jadi Zoya bisa berbicara sesuka hati.
"Yaa Allah maaf kan aku yang melakukan hal gila, "
***
"Tuan, ini paspor dan berkas yang Anda perlukan selama berada di luar negeri, " ujar Seeni memberikan keperluan yang di butuhkan Yee-jun.
"Aku akan langsung pergi ke Italia setelah urusan di New York selesai. Kau harus ingat jadwal mu, " Seeni langsung mengangguk faham. Yee-jun menepuk bahu Seeni dan melenggang pergi karena sebentar lagi pesawat yang akan mendarat di New York akan segera lepas landas.
Sementara Hye-joon dan yang lain nya sangat panik dan benar-benar panik setelah kepergian Yee-jun menuju bandara. Lagi-lagi Da-eun menemukan kursi roda Zoya yang kosong dan tidak di temukan keberadaan pemilik nya.
"Astaga.. kemana lagi wanita itu? " Yeon-jin meremas kepala nya yang terasa ingin pecah.
"Jangan-jangan, " terka Da-eun membuat yang lain nya terdiam di tempat.
"You jangan asal ngomong, ga mungkin Zoya melakukan hal konyol itu, "
"Waahh.. ga bener nih, bisa mati gue kalau bibi nya Zoya dateng nyariin dia, " Dae-ho memukul mukul kepala nya tanpa sadar.
"Maksud kalian apa sih? "
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...