
...Kekuatan cinta yang sebenarnya...
...kuat dan menguatkan...
...Hidup dan menghidupkan...
...Serta segar dan menyegarkan....
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
...****************...
Matahari hampir tenggelam, seluruh pegawai yang masih berkutik dengan misi nya pun segera berbondong-bondong berkumpul di area pondok. Di sana sudah ada Seeni dan Jerry bersama tiga kotak misterius yang mereka bawa.
"Itu pasti hadiah nya, "
"Kira-kira aku berhasil tidak yah? "
"Penasaran banget apa isi nya, "
"Pokok nya aku harus menang, "
"Emang kapasitas pita terbanyak ada berapa sih? "
"Waakkhhh, "
Bisik-bisik tetangga terdengar riuh saat mereka melihat tiga kotak misterius itu. Sementara Zoya, Da-eun dan Myung-jee sudah sampai lebih dulu dari mereka. Saat itu hanya beberapa atasan yang ikut berkumpul.
Saat perjalanan kembali tadi, Zoya melihat Yee-jun sedang bersembunyi bersama anak buah nya di balik pepohonan. Tidak tau apa yang mereka bicarakan, namun Zoya sendiri pun tidak sempat memasuki hutan untuk mencari lebih banyak pita karena waktu yang mereka habiskan terlalu panjang.
"Tunggu!!!! tunggu!!! " teriakan histeris itu berhasil menggegerkan seluruh pegawai dan mencari asal suara tersebut.
"In-na,ada apa kenapa wajah mu sangat ketakutan, " ujar salah seorang pegawai wanita kepada In-na.
Dari raut wajah nya sangat tercetak jelas bahwa ia tidak baik-baik saja. Nafas nya sangat memburu dan tidak terkontrol dengan baik.
"Yumi.. Yumi hilang di dalam hutan, " seru nya membuat yang lain nya syok, Zoya terkejut saat mendengar Yumi menghilang di dalam hutan. Di benak nya tergambar, bagaimana jika Yumi melupakan garis pembatas itu dan melewati area yang sudah di tentukan. Apakah Yumi tersesat di dalam hutan liar yang kemungkinan di sana ada banyak hewan buas?
"Yumi, " gumam Zoya panik dan khawatir.
"Yumi.. Yumi, " Zoya berlari secepat mungkin memasuki kawasan hutan.
"Zoyaaaa!!! Zoyaaaa!! " teriak Myung-jee frustasi saat melihat Zoya melakukan hal nekat.
"Eh, Zoya berlari kearah hutan. Lihat lah padahal itu sangat bahaya, hari sudah semangkin gelap bagaimana jika dia juga ikut hilang, " para pegawai lain juga riuh dengan tindakan yang di lakukan Zoya sangat membahayakan diri nya.
Seeni dan Jerry pun langsung mengambil tindakan pencarian sesuai perintah dari Yeon-jin, sementara Hye-joon terus menelpon Yee-jun yang belum mengangkat telpon nya.
"Itu.. kalau eonnie Zoya di makan hewan buas gimana, i mau susul dia i mau temani dia, " gumam Da-eun tidak tenang dan gusar. Saat yang lain nya berusaha mencari bala bantuan dan sibuk dengan urusan nya masing-masing Da-eun mencari kesempatan untuk berlari menuju hutan. Hal itu tampak terlihat jelas di pandangan Ryung-jae saat Da-eun sudah memasuki kawasan hutan.
"Da-eun!!!!! Daa-euunnn!! " Ryung-jae panik saat melihat adik satu-satu nya juga memasuki hutan. Ia juga ingin segera menyusul Da-eun namun Dae-ho dan Yeon-jin langsung memblokir tindakan nya.
"Lu tetep di sini, " tegas Yeon-jin, Ryung-jae semakin tidak tenang dan meluapkan emosi nya.
"Adek gue di sana, dia lari ke hutan. GUE GAK MAU KEHILANGAN ADEK GUE UNTUK YANG KEDUA KALI NYA!!! " pekik nya membuat suasana menjadi bungkam.
"Iya gue tau, tapi lu juga dalam bahaya kalau lu juga ikut masuk kedalam hutan. Hyung Yee-jun membawa banyak bodyguard, kita serahin aja kemereka. Lu jangan nekat Jae, di dalam sana itu bahaya!! " balas Dae-ho juga berteriak kepada nya.
"SEMUA NYA MASUK KEDALAM PONDOK KALIAN MASING-MASING JANGAN ADA YANG MENCOBA UNTUK KELUAR, FAHAM!! " sentak Hye-joon dengan tegas, ini kali pertama nya mereka melihat seorang atasan yang ramah dan dermawan menunjukkan taring tajam nya. Tidak ada kata membantah, mereka semua langsung berlari menuju pondok masing-masing lalu menutup nya dengan rapat. Hanya mereka lah yang tersisa.
"Hyung gimana? di dalam sana ada tiga wanita yang berada dalam bahaya, " Hyun-il juga panik dan tidak terkendali juga.
"Hyung, "
"Hyung, "
"Tenang-tenang kalian tenang ok, sekarang ikuti apa kata Hyung kalian. Sekarang masuk kedalam pondok, jika sampai pukul 11 malam Hyung belum kembali, segera minta bantuan pada penduduk desa, " Yeon-jin yang bersifat tegas pun berusaha menenangkan adik-adik nya, padahal di dalam hati nya ia juga sedang frustasi bagaimana mereka akan menemukan ketiga gadis itu di dalam gelap nya malam?
"Hye-joon, dan Myung-jee bantu aku, yang lain nya masuk kedalam pondok jangan mencoba membantah apa kata ku, mengerti!! " mereka bertiga mengangguk dan menuruti apa yang di perintah kan Yeon-jin. Ryung-jae, Dae-ho dan Hyun-il menutup pintu pondok dengan sangat gusar.
"Hyung, " Yee-jun berlari kearah mereka.
"Kau dari mana saja, keadaan sedang genting, " berang Yeon-jin panas.
"Gue tadi lagi ngatur anak buah gue, gue lihat kemana Da-eun pergi, dia berlari kearah selatan, " jawab nya dengan raut wajah serius.
"Lu gak liat kemana Zoya pergi, Hyung? " tanya Myung-jee, tidak sesuai harapan Yee-jun malah mengerutkan dahi nya bingung.
"Zoya? bukan nya tadi dia sama lu? " Myung-jee mendecak lidah dan penuh kekhawatiran.
"Plis lah, lu jangan kaya gini kenapa? lu peka dikit jadi abang kenapa, Zoya padahal sering banget perhatiin lu diam-diam tapi lu aja yang gak punya hati, " sentak Myung-jee meledak.
"Maksud lu apaan sih, kok bawa-bawa perasaan peka. Keadaan lagi genting nih, " jawab Yee-jun juga menyalakan api pertengkaran.
"Luu yang gak tahu kalau Zoya lagi dalam bahaya di dalam hutan sana!!! " Myung-jee menunjuk wajah Yee-jun dengan membara. Yeon-jin pun juga ikut memanas melihat kedua sahabat nya bertengkar di waktu genting.
"Gak sekarang... gak sekarangg!!!! gak ada waktu buat bertengkar, pakek otak lu berduaaa!! "
"Kaya nya lu Hyung yang harus pakek otak, " ucap Myung-jee datar menatap Yee-jun dengan sinis. Ia berlari meninggalkan mereka semua, menuju hutan yang sangat gelap dan hanya mengandalkan senter handphone yang ia nyalakan.
"Jee Hyung!! Jeee!! " panggil Hye-joon menyusul Myung-jee yang berjalan seorang diri menuju hutan. Yeon-jin meremas rambut nya dengan sangat frustasi.
"Kerahkan seluruh anak buah mu untuk menyebar di seluruh hutan, "
"Udah gue lakuin, "
****
Sementara Zoya yang tidak membawa apapun terus memanggil-manggil nama Yumi dengan sangat khawatir.
"Yumi.. Yumi!! Yumi dimana!! ini aku Zoyaaa!!, "
"Yumiiii!! "berulang kali ia berteriak, berulang kali juga gamis nya tersangkut di ranting-ranting pohon yang berserakan.
Sementara Da-eun pun terus memanggil Zoya yang ia sendiri pun tidak tau berada di mana?
" Eonnie.. eonnie Zoya!! Eonnie denger suara i gak? Eonnie!! eonnie!! menyahut lah, "
Berbeda dengan Yumi yang duduk meringkuk di bawah pohon rindang dengan ketakutan yang sangat luar biasa.
"Tolongggg!!! hiks.. hiks.. aku takut,ini sakit sekali, "
Lain hal nya dengan Hye-joon dan Myung-jee yang terus berteriak memanggil nama ketiga wanita itu di temani dua bodyguard Yee-jun yang bertemu dengan mereka. Sama hal nya juga dengan Yeon-jin dan Yee-jun yang terus mencari dan berteriak kencang.
"Hyung, sebaik nya kita berpencar. Anak buah ku akan mengawal mu jadi tidak perlu takut, "
"Baiklah, aku setuju dengan usul mu, "
Mereka berdua memecah dan berpencar kearah yang sudah di tentukan.
waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi ketiganya belum juga di temukan. Seorang bodyguard mendengar suara tangisan rintih dari balik pohon. Ia menyorot senter nya kearah pohon itu dan berteriak.
"Siapa di sanaaa? "
"Tolonggg aku.. hiks hiks, " pria itu langsung berlari melihat seseorang yang berada di balik pohon. Ternyata seorang gadis ber rambut pendek sedang menangis sengugukan dengan kaki yang terjerat akar pohon yang cukup besar.
"Astaga.. Nona bertahan lah saya suruhan dari tuan Yee-jun untuk mencari anda, "
"Tolong aku.. kaki ku sakit.. hiks hiks, " pria itu mengeluarkan pisau lipat yang selalu mereka bawa kemana-mana. Ia berusaha mengiris akar pohon itu tanpa menyentuh kulit Yumi.
Dan selang beberapa menit akhir nya ia berhasil mengeluarkan kaki Yumi, dan langsung menggendongnya, membawa nya ke pondok Kemp.
Sementara Da-eun dan Zoya belum menemukan titik apapun, mereka tersesat di arah yang berbeda.
"Eonnie!!!! " ia terus berteriak tanpa melihat langkah kaki nya, ia terpeleset dan kepala nya membentur batu yang berada tepat di hadapan nya.
"Aakkhhhhh!!! " ia merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya, kesadaran nya perlahan-lahan menghilang dan pingsan tanpa ada yang mengetahui.
"Yumi!! kamu dimana? Yumiii!! " teriak Zoya terus menerus sampai suara nya akan hilang.
Krak Krak Krak
Suara itu mengalihkan atensi Zoya menatap langit malam, hanya rembulan yang menerangi nya di dalam hutan. Zoya bingung, itu tadi suara apa, ia berusaha menghiraukan suara itu.
Dan tiba-tiba ia terkejut saat sekelebat mata nya melihat hewan yang melompat di atas kepala nya.
"Astaghfirullah.. aku kira apa, rupanya nya hanya tupai, "
Krak Krak Krak
Suara itu semakin keras, saat Zoya ingin melangkahkan kaki nya tiba-tiba.
Zraasshhh
"Aaaakkhhh!!!! " teriakan Zoya bergema di area hutan hingga membuat mereka yang mencari mendengar teriakan itu, termasuk Yee-jun yang lumayan dengan tempat Zoya berada.
"Itu suara Zoya, " gumam nya semakin cepat mencari asal suara.Dan berlari ke sembarang arah menggunakan senter yang ia pegang.
Sementara Myung-jee, Hye-joon dan Yeon-jin terpaksa keluar dari hutan karena malam semakin larut, dan pencarian di lanjutkan oleh anak buah Yee-jun. Mereka bisa bernafas lega karena Yumi telah di temukan, namun Da-eun dan Zoya masih berada dalam pencarian.
"Zoyaaa!! Zoyaaa!!! jawab panggilan ku, ini aku Yee-jun, " teriak nya terus menerus untuk mencari sinyal suara Zoya.
Saat itu telinga Zoya mendengar teriakan Yee-jun tetapi ia sudah tidak sanggup untuk berteriak lagi. Ia hanya merintih kesakitan karena bongkahan dahan pohon jatuh menimpa kaki nya, ternyata suara itu adalah suara dahan pohon yang akan segera patah.
"Tolong!! " rintih nya kesakitan. "Kaki ku sakit sekali yaa Allah, hiks.. hiks.. tolong aku Yaa Allah, " gumam nya sangat pelan, dan hanya air mata yang menetes merasakan kaki nya yang perlahan-lahan menyerap tenaga nya.
Yee-jun menyorot senter nya kesegala arah, "Zoyaaa!! " teriak nya lagi.
Indra pendengaran Zoya kembali berfungsi, ia meraba-raba tanah untuk mencari sesuatu. Zoya mendapat ranting pohon lalu memukul tanah agar Yee-jun mendengar suara itu.
Sreekkk Bookk Boookk
Telinga Yee-jun menangkap sesuatu dan menelusuri suara itu. Ternyata Zoya berada di balik Batu besar yang menutupi tubuh nya.
"Zoya, "
"Tolong aku, " rintih nya hampir tidak terdengar, sontak Yee-jun langsung menjatuhkan senter nya mencari kayu yang lebih besar dan kuat untuk menyingkirkan batang pohon yang menimpa kaki Zoya.
Dalam pencahayaan senter yang tergeletak di tanah, Yee-jun terus berusaha menyingkirkan batang kayu itu dengan sekuat tenaga.
"Haa!! kaki ku sakit sekali.. hiks hiks, " rintih Zoya semakin membuat peluh Yee-jun mengucur deras.
"Kau bertahan lah, aku berusaha menyingkirkan kayu ini.. aaarrghhh!! " teriak nya karena kayu itu sungguh berat.
Samar-samar di penglihatan nya, melalui senter yang tergeletak di tanah. Zoya melihat hewan berbadan panjang sedang berjalan kearah Yee-jun yang tidak menyadari hal itu.
Zoya terkejut dan sangat ketakutan saat ia mengetahui hewan itu adalah ular kobra yang memiliki bisa racun yang sangat berbahaya.
"Pak.. pak.. "
"Ada apa? "
"Pak pergi dari sini... pergiii!! "
"Sebentar aku sedang berusaha membawa mu pergi, " Zoya semakin ketakutan saat ular itu semakin mendekati Yee-jun yang tidak sadar bahwa di belakang nya ada hewan berbahaya.
"Saya mohon pergi paakkk.. hiks, "
"Pakk!! pergi dari sini tanpa sayaaaa!! " Zoya berteriak dengan air mata mengucur deras.
"Kau ini kenapa? "
"Arrrghhh!! Yaa Allah, Pakk pergi dari sini tolong dengar kan saya, " pekik nya merasakan sakit yang luar biasa.
"Aku datang untuk menyelamatkan mu, jadi diam lah, "
"Pergi pakkkk!!! bapak dalam bahayaaa!! tolong tinggalkan saya sendiri di sinii.. hiks hiks, " Yee-jun yang bingung bahaya apa yang di maksud, dan ia langsung menoleh kebelakang.
Tuuk
"Aaarrrggghhh!!! " Yee-jun memekik kesakitan di saat bersamaan ular itu mematuk kaki nya, Zoya berteriak histeris orang yang ia cintai berada dalam kondisi mematikan.
"Pakkkk!! " Yee-jun tumbang ke tanah dan tidak jauh dari tempat Zoya tengkurap karena kaki nya masih belum bisa keluar.
"Hiks.. hikss... Aaarrrggghhhh!!! " Zoya berusaha menarik kaki nya dari tindihan kayu itu, tidak perduli apa yang akan terjadi pada kaki nya, inti nya Yee-jun harus selamat.
"Yaaa Allahh!! beri hamba kekuatan.. Aaarrrggghhh!! " Zoya terus menarik kaki nya dengan sekuat tenaga dan kesakitan yang luar biasa sakit nya. Sementara Yee-jun hampir kehilangan kesadaran nya.
"Yee-jun-aaaaa!!! " teriak nya menyebut nama Yee-jun di saat kesadaran nya sudah menghilang, dan di saat itu juga kaki nya berhasil keluar dari tindihan kayu besar itu. Zoya menyeret tubuh nya mendekati Yee-jun, hati nya begitu sakit dan tersayat pilu melihat Yee-jun sudah tidak sadarkan diri.
"Pak..pakk!!" Zoya memukul-mukul pipi Yee-jun namun nihil. Ia melihat luka gigitan ular itu dan tidak bisa berfikir lama.
Zoya merobek hijab nya dan mengikat kaki Yee-jun untuk memblokir jalan racun ular itu merusak organ tubuh Yee-jun. Zoya menyeret tubuh nya lagi, ia menagis histeris.
"Yaa Allah maaf kan aku, maaf kan aku yaa Allah.. aku harus melakukan ini demi dia.. hiks.. hiks, " Zoya menyedot bekas gigitan ular itu untuk membuang racun nya, dua sampai tiga kali. Yee-jun tetap tidak bereaksi apapun.
Kesadaran Zoya mulai menipis, karena racun itu juga mengalir kedalam tubuh nya. Wajah Yee-jun sudah pucat hampir seperti mayat, Zoya berniat ingin menyedot racun itu. Namun kesadaran nya langsung lenyap dan ia tumbang menindih tubuh Yee-jun dalam gumaman yang ia tinggalkan.
"Yee-jun-aaa, “
.......
.......
.......
.......
.......