
...Bahkan sampai saat ini aku masih mencintai mu, berharap jika suatu saat nanti bisa menggenggam tangan mu atau menatap senyuman mu dengan mata ku sendiri....
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
.......
...****************...
"Bagaimana? apa kamu mau menerima tawaran Joon Hyung? " tanya Myung-jee menatap Zoya yang masih kebingungan harus menjawab apa.
"Bang, " Myung-jee mendekat dengan senyuman lembut nya.
"Aku takut, "
"Takut? takut apa? " Zoya menggeleng pelan dengan raut wajah yang masih kebingungan.
"Emm.. kamu ga usah takut,kan ada abang, " Myung-jee tersenyum lebar hingga tampak deretan gigi putih nya. Zoya goyah, ia terkekeh melihat Myung-jee tersenyum lebar.
"Emang nya abang ga punya adik yah? "
"Abang anak terakhir, yang pertama kaka tapi belum menikah. Mungkin sebentar lagi, "
"Aamiin, "
"Gimana mau kan? " dengan ragu Zoya menganggukkan kepala nya yang sudah terbalut hijab segi empat.
"Hihihih.. mau jalan-jalan keluar ga? bagus nih cuaca nya buat kamu, " Zoya melihat kearah jendela kamar rawat nya yang dari sisi nya sudah terlihat cuaca memang cukup bagus.
"Eo.. boleh? "
"Yaa boleh lah, masa enggak.. tunggu abang panggilin perawat biar bantu kamu, " Myung-jee beranjak dari kursi nya dan memanggil dia orang perawat agar memindahkan Zoya ke kursi roda.
Sengaja Myung-jee membawa Zoya keluar, karena kemungkinan Zoya akan merasa bosan sementara Hye-joon dan Dae-ho sudah keluar bersama Yee-jun sedari tadi. Hye-joon sengaja meninggalkan Myung-jee karena ia meminta agar Myung-jee merayu Zoya untuk ikut bersama mereka.
"Kita mau kemana? " tanya Zoya saat berada di lobi rumah sakit.
"Pokok nya jalan-jalan biar kamu gak bosen, " Myung-jee membawa Zoya ke taman rumah sakit, di sana sudah banyak pasien yang bersantai ria hanya untuk melepas rasa bosan.
"Bagus kan pemandangan nya? "
"Bagus, " Zoya tersenyum senang, Myung-jee pun juga senang melihat nya bisa seceria mentari.
Namun saat mereka terdiam cukup lama, ia merasa ada yang tidak beres. Myung-jee melihat Zoya sedang merunduk dengan tatapan sendu dan rasa lelah.
"Kamu kenapa? "tanya nya merasa khawatir dengan perubahan Zoya yang hanya sebentar.
" Aku kesepian, "gumam nya meneteskan air mata, Myung-jee melihat ke Seliling taman itu, cukup ramai.
" Kan kamu sama abang kenapa bisa kesepian, di sini banyak pasien yang bisa kamu ajak bicara, "Zoya hanya diam dan merunduk sedih, Myung-jee jadi merasa bersalah.
" Zoya, "
"Rasa nya asing punya atasan di anggap abang nya sendiri, padahal kita bukan siapa-siapa hanya sebatas pegawai dan atasan. Kita tidak bisa saling menggenggam tangan bersama, " Myung-jee membuang wajah nya lalu menghela nafas.
"Ga perduli mau sebeda apa pun kita, tapi abang udah angkat kamu sebagai adik. Ga papa, abang ga permasalahin tembok pemisah kita, bukan kah setiap agama mengajarkan toleransi.Jangan sedih, yah, "Myung-jee menatap Zoya dengan lirih, Zoya balik menatap nya. Meski pun Myung-jee berusaha menjadi sandaran terbaik, tetapi bukan hanya diri nya yang membutuhkan sandaran tetapi Myung-jee pun juga membutuhkan nya.
" Abang jangan pura-pura kuat juga, mata nya bohong gitu, "Myung-jee menghela nafas pasrah.
" Iya iya abang ngaku kalah, "Myung-jee mencebikkan bibir nya hingga membuat Zoya tertawa geli. Mereka kembali terdiam sembari menikmati indah nya pemandangan kota Ilsan dari atas.
" Bang, kalau suatu saat nanti aku ingin menyerah dengan kehidupan apa yang akan abang lakuin? "Myung-jee tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum lembut dengan tatapan kosong tanpa mengalihkan pandangan nya.
" Mungkin kamu ga akan sadar jika kehadiran mu bisa membuat semua orang beruntung, seperti orang miskin yang pernah kamu beri makan, atau anak kecil yang menangis karena kehilangan ibu nya lalu kamu membantu nya, atau seorang lansia yang tidak bisa menyebrangi lampu merah lalu kamu yang menuntun nya, atau seorang tuna netra yang kehilangan tongkat nya lalu kamu membantu nya. Di saat itu lah mereka akan tersenyum karena kehadiran mu, "
"Tidak ada yang perlu di sesali, Zoya. Kamu terlahir karena takdir, penyakit mu juga takdir, tidak ada yang bisa melawan nya. Justru karena takdir kamu harus bisa belajar menjadi dewasa dan siap mencicipi kepahitan hidup, "
"Abang tau ga kalau aku sudah mengalami penderitaan selama belasan tahun, " gumam nya merunduk sendu.
"Setiap manusia akan mengalami penderitaan, Zoya. Tapi dari penderitaan itu kamu akan menemukan kemenangan.Dulu kami itu bukan seorang pengusaha kaya, kami bertujuh berasal dari kota yang berbeda dan bertemu di kota Seoul. Tidak ada yang istimewa, pertemuan tanpa di sengaja, kami hanya memiliki uang sedikit untuk bertahan hidup dan sama-sama tidak memiliki arah lagi, kami memutuskan untuk menyewa kamar kost dengan ukuran yang sangat pas-pasan untuk kami tidur dan berteduh, " Zoya mulai tertarik dengan cerita masa lalu Myung-jee.
"Waktu itu, Hyun-il baru berumur lima belas tahun tapi sudah pergi mencari jati diri di kota Seoul dan jauh dari orang tua nya. Kami merawat dan mendewasakan nya mengenalkan nya pada kehidupan yang sangat rumit dan pahit. Setiap pagi kami selalu berpencar mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang, Abang dan Hye-joon mendapat pekerjaan di sebuah restoran sebagai pegawai biasa, Dae-ho pula bekerja sebagai guru menari, Ryung-jae bekerja sebagai kuli padahal dulu badan nya sangat kecil sama seperti Hyun-il, dan Hyun-il sendiri bekerja membagikan brosur di pinggir jalan, Jin Hyung bekerja di tempat pencuci mobil. Begitu lah kami dulu, meski pun mendapat gaji sedikit tetapi kami tetap bersama dan harmonis merawat Ryung-jae dan Hyun-il, "
"Dengan gaji sedikit bagaimana dengan makanan kalian? " tanya Zoya dengan wajah serius.
"Kami menggabung kan nya, Jun hyung pernah bekerja sebagai pengantar makanan kadang kala dia membawa makanan sisa dari restoran, kadang kala dia hanya membawa pakaian yang berbau busuk, " Zoya mengerutkan dahi nya.
"Maksud nya? "
"Jun hyung sering di lempar makanan basi oleh pembeli, karena keterlambatan nya mengantar makanan. Belum lagi mendapat amukan dari pemilik toko, hingga suatu hari dia kecelakaan karena mata nya kelilipan debu hingga membuat nya tertabrak mobil yang tidak bertanggung jawab, bagian bahu nya mendapat cidera ringan. Saat itu kami sangat khawatir dan menyuruh nya untuk pergi kerumah sakit, tapi Jun hyung menolak nya dengan kalimat 'pikirkan kesehatan kalian', "
"Dari dulu Jun hyung memang dingin dan blak-blakan, tidak ada yang istimewa semua sama saja. Mendapat caci maki dari atasan lalu setelah itu menabur semangat lagi untuk bekerja, tiga tahun berjalan, Hyun-il lulus dari sekolah SMA dan membayar uang iuran nya dengan gaji pribadi nya sendiri. Kami menyuruh nya untuk segera mendaftar di Universitas, tapi Hyun-il bilang 'aku bisa menyusul nya kapan saja'. Hingga satu tahun berlalu ada sebuah perusahaan kecil yang membutuhkan karyawan baru, Hyun-il rela berlari dengan jarak yang cukup jauh hanya untuk memberikan brosur yang ia dapat adalah sebuah kabar gembira, persyaratan nya cukup simple kami berenam bisa masuk ke perusahaan itu namun tidak dengan Hyun-il, "
"Kenapa? " tanya Zoya tampak sedih, Myung-jee mendengus geli.
"Dia sedih karena belum memehuni kriteria, kami bersedia untuk menghibur nya. Lambat laun berjalan, Hye-joon yang di kenal cukup pintar dan Yeon-jin yang bekerja dengan sungguh-sungguh pun mendapat hasil yang cukup besar. Kami berhasil mengumpulkan uang untuk membeli rumah dan menempati nya bersama, Hyun-il saat itu juga sedang menjalani pendidikan nya. Jun Hyung memiliki bakat menulis lagu, ia membeli gedung studio dengan uang nya sendiri, Dae-ho juga membeli sebuah gedung untuk melengkapi murid les menari nya lebih nyaman. Hari-hari penuh kesulitan kami jalani dan kami nikmati dari nol hingga merintis lebih baik. Tepat saat pergantian tahun,kami bertemu dengan Alexa si gadis cantik namun berkelakuan Badas, "
"Lalu seperti apa kelanjutan nya? "
"Saat itu kakek nya menitipkan Alexa pada kami, karena di saat itu juga ia akan meninggal karena sebuah kecelakaan maut menimpa nya. Dengan sangat terkejut, Yeon-jin tanpa sengaja menyetujui permintaan sang kakek dan akhir nya meninggal. Banyak sekali kerumitan, Alexa yang dingin dan kasar adalah hal tersulit untuk mendekati nya.Hingga akhir nya waktu berjalan begitu cepat, kami yang merawat dan mengangkat nya sebagai adik, lalu kami bekerja untuk menafkahi nya membuat surat pernyataan bahwa Alexa resmi kami adopsi. Kami sudah dekat dan berinteraksi lebih baik dengan Alexa, tidak ada yang tahu ternyata dia seorang pemilik tahta kekayaan yang melimpah dan seorang ratu mafia yang sangat di takuti, "
"Lalu bagaimana cerita nya kalian bisa tahu kalau Nona Alexa adalah seorang mafia? "
"Foto, kami mencurigai nya dan ternyata benar Alexa mengakui penyamaran nya. Saat bertemu kami nama nya adalah Virzha, itu dia lakukan agar musuh tidak dengan mudah nya menemukan identitas nya yang sangat di incar untuk di bunuh,dan kami juga bertemu dengan paman nya yang berada di Jerman.Ini benar-benar suatu keajaiban,nama nya paman Bram beliau berterima kasih kepada kami karena telah bersedia mengangkat Alexa sebagai anggota keluarga kami, padahal kejadian itu tidak terduga. Paman Bram memberikan saham nya kepada Hye-joon untuk di kelola, awal nya kami menolak karena ini berlebihan, tetapi Paman Bram mengatakan saham itu hanya sebagian kecil dari ucapan Terima kasih, "Zoya tersenyum penuh hari mendengar cerita Myung-jee.
" Cerita yang cukup unik dan mengharukan, "
"Yah dengan terpaksa dan menghargai pemberian paman Bram, Hye-joon menerima saham itu dan meminta kami semua untuk mengembangkan nya hingga menjadi perusahaan terkenal di Korea. Tapi dari kebahagiaan itu, Alexa semakin dekat dan sangat dekat dengan kami. Tanpa di duga kecelakaan besar terjadi karena perang antar pemimpin mafia di Italia, Ryung-jae dan Hyun-il di culik sebagai sandraan untuk memancing Alexa. Alexa kalah karena penyakit jantung yang menyerang nya secara tiba-tiba dan mendapat benturan keras di kepala nya akibat hantaman yang di lakukan musuh kami. Kami dengan sangat marah melihat Ryung-jae, Hyun-il dan Alexa terluka parah. Langsung membunuh mereka semua di tempat kejadian, " Zoya melebarkan kedua bola mata nya.
"Ka.. kalian..
" Iya kami sudah bisa di sebut pembunuh berantai dan narapida, tapi kami tidak perduli dengan itu semua. Karena Alexa di nyatakan hilang ingatan secara permanen, dan tidak mengingat kami sama sekali. Itu sulit sekali, "
"Eh ngomong-ngomong kenapa abang bisa sampai kesini ceritanya, " seru nya baru tersadar karena cerita nya sudah cukup jauh merambat.
"Ga papa, aku juga pengen tau perjalanan kalian seperti apa, "
"Buruk, perjalanan kami buruk di awal dan di akhir, "
"Kok di akhir juga buruk, kan udah punya perusahaan pribadi, " Myung-jee tertawa getir.
"Kami lebih baik kehilangan uang dari pada kehilangan Alexa yang sangat berharga dan penuh dengan kenangan yang tidak bisa di lupakan, "
"Begitukah? "
"Karena kematian nya, harta kami semakin bertambah dan semakin banyak. Menyebab kan Ryung-jae dan Hyun-il gila membuang uang dalam jumlah yang cukup besar untuk menghilangkan kebosanan,tapi tidak bisa membeli nyawa Alexa agar hidup kembali," mereka saling menghela nafas.
"Andai aku berada di posisi Nona Alexa, "gumam nya.
" Itu lah arti dari kau harus mencintai hidup mu sendiri, "
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...