
...Mencintai seseorang dalam diam itu indah, di cintai seseorang dalam diam itu juga indah. Tetapi ada yang lebih indah lagi.....
..."Diam-diam di cintai dengan orang yang kita cintai,"...
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
...****************...
Beberapa jam berlalu Yee-jun akhir nya mengetahui siapa yang berusaha menghancurkan reputasi adik nya yang berada di New York, hal itu berhasil membuat diri nya geram, ternyata musuh baru berusaha mendekati ketenangan nya. Yee-jun berjalan dengan langkah lebar bersama Romeo yang mengikuti nya di belakang.
"Apa yang akan anda lakukan, tuan? "
"Kau masih bertanya? jelas aku akan membereskan masalah ini. Lawan dia adalah aku bukan Hyun-il, "
"Tapi seluruh anak buah nya mantan narapidana, tuan, "Yee-jun menghentikan langkah nya sembari menghela nafas, lalu ia memutar tubuh nya manatap Romeo dengan jengah.
" Aku juga menemukan mu setelah keluar dari sel,kau ada di sini atas bimbingan Seeni.Jadi berkaca lah, "Romeo mendesis.
" Bisakah anda memberi sedikit gula pada ucapan itu, tampak pedas sekali, "jawab Romeo dengan gamblang.
" Terserah, "jawab nya singkat. Ingin berjalan langsung meninggalkan ruangan luas itu, namun ada suatu hajat yang menghentikan nya.
" Seperti nya aku kesini membawa barang, dimana dia? "tanya dia membuat Romeo cengo.
" Ha? barang? ga ada, "Romeo mencoba mengingat-ingat barang yang di bawa Yee-jun.
" Aaa.. anda tadi bawa wanita kesini, "Yee-jun bernafas tidak teratur mengingat Zoya yang ia bawa bersama nya.
" Buang anak orang dosa ga sih? "
"Anda melanggar aturan, wanita itu tidak bersalah," Yee-jun mendesis sinis.
"Sensitif banget sih lu, " ia melenggang pergi lalu mendapati sofa yang ia titipkan Zoya di sana namun orang nya sudah tidak ada.
"Mana orang nya? "
"Tidur kali, " jawab Romeo, karena mereka membelakangi sofa mungkin tubuh Zoya di telan dan menghilang di balik dipan.
Yee-jun berjalan menyamping dan benar, ternyata Zoya tertidur pulas di atas sofa itu. "Huufffhhh.. wanita jahat benar-benar ini tidur, "Romeo menatap nya dengan tanda tanya.
" Kenapa jahat, bukan kah dia wanita muslim? "
"Dia mencuri wajah kekasih ku dan berusaha menggantikan posisi nya, " dalam hati Romeo benar-benar tidak setuju dengan pendapat itu.
"Anda lebih jahat tuan, " ketus nya, Yee-jun menatap Romeo dengan tatapan jengah.
"Lebih baik kau carikan kursi roda untuk nya, aku tidak ingin menggendong nya terus menerus, "
"Lemah, " gumam Romeo dengan tatapan malas, "Go-young! bawakan kursi roda nya, " teriak Romeo pada bawahan nya.
Dan seorang bawahan membawakan kursi roda baru untuk Zoya. Dengan terpaksa Yee-jun harus memindahkan Zoya ke kursi roda, tanpa harus membangunkan nya. Namun jauh dari perkiraan Zoya langsung terusik dan membuka mata nya saat Yee-jun sudah mengangkat nya.
"Mau kemana pak? " tanya nya parau dan belum mengumpulkan seluruh kesadaran nya.
"Mau pulang, " jawab Yee-jun langsung meletakkan Zoya di atas kursi roda.
"Astaghfirullah.. kok bisa ketiduran yah, " gumam nya sembari mengucek matanya.
Yee-jun mendorong kursi roda itu menuju lift, Romeo dan para bawahan nya pergi untuk mengantar Yee-jun sampai ke mobil nya.
"Buka, " seru Yee-jun membuat Romeo jengah.
"Kan anda bisa mencet tombol sendiri tuan, " keluh Romeo menatap atasan nya itu sangatlah manja.
"Gaji---
" Pintu nya segera terbuka tuan, "potong Romeo langsung melaksanakan perintah Yee-jun saat ia membahas soal gaji nya akan turun selama tiga bulan.
Sesampai nya di bawah, jalanan kota itu masih cukup ramai di tambah lagi dengan bar yang bersebrangan dengan tempat mereka berdiri. Banyak wanita maupun pria dewasa yang mengantri untuk memasuki area diskotik.
" Pasti di antara mereka ada yang memakai KTP palsu, "terka Zoya yang juga melihat antrian panjang itu.
" Hm? kau tau soal itu? "tanya Yee-jun
" Eo.. permisi, kamu menjatuhkan sapu tangan mu, "teriak Zoya menoleh kebelakang dan memanggil pria itu yang ia sendiri melihat sapu tangan nya terjatuh dari saku Jaz nya. Dan seketika pria itu merasa terpanggil dan berbalik arah.
Saat pria itu berbalik arah dan berniat mengambil sapu tangan nya, pria itu tertegun di tempat, begitu juga dengan Zoya. Pupil mata mereka saling bertabrakan membuat Yee-jun yang melihat nya pun bingung, ada apa dengan kedua manusia itu?
" B.. boy? "
"Zee? " panggil mereka dengan rasa tidak percaya.
"Kamu beneran Boy? " rona mata Zoya berkaca-kaca, tampak pria tersebut memiliki kenangan hangat bersama nya. Pria itu berjalan lebih dekat menatap Zoya dengan sangat teliti, ternyata benar wanita yang ada di hadapan nya adalah wanita yang pernah ia kenal dahulu.
"Zee, ini aku Boy... Zee gue ga mimpi kan kita kok bisa jumpa di sini? " Yee-jun semakin tidak mengerti dengan ucapan yang di gunakan Boy adalah bahasa Indonesia.
"Zee, gue selalu tandai wajah baru lu saat lu selesai operasi. Untung nya gue masih inget,meskipun lu udah pake hijab, "
"Singkat banget yah dulu perpisahan dan gue yang harus nya nanya, lu ngapain di sini? "
"Bisa ga kalian ngomong nya pake bahasa yang ada di negara ini, " cetus Yee-jun kepo dengan isi percakapan mereka.
"Eo.. Zee dia siapa? " baru lah Boy menggunakan bahasa Korea dengan cukup baik.
"Eo.. dia atasan gue di kantor, "
"Zee? gue? " Yee-jun sedikit terkejut mengapa Boy memanggil Zoya dengan sebutan Zee, dan baru ini juga ia mendengar Zoya berbicara dengan gaya santai. Ia mengira Zoya seorang gadis polos namun perkiraan nya selama ini meleset jauh.
"Pak kenalin, dia teman saya bahkan lebih dari teman, " jawab Zoya dengan raut wajah yang sangat berbeda dan nada bicara yang cukup ceria. Tidak pernah Yee-jun melihat Zoya seperti ini setelah ia mengenal nya.
"Eo.. Hallo, "
"Hm, iya, " jawab Yee-jun singkat dan datar. Boy menjongkok kan diri nya di depan Zoya yang tengah duduk di kursi roda. Yee-jun menatap itu dengan seribu pertanyaan.
"Jawab gue, lu kenapa bisa pakai kursi roda? " tanya Boy dengan sangat lembut. Zoya bercanda ria sambil melipat tangan nya di dada.
"Kenapa yaa? emmm.. jatoh kali, hehee, " Boy pun ikut terkekeh ringan menatap Zoya dengan bahagia. Yee-jun memilih menyandarkan tubuh nya di sisi mobil sembari menunggu percakapan mereka berdua selesai.
"Bercanda aja lu, lu ga boleh kenapa-kenapa setelah Jane dan Key, " Zoya tersenyum getir saat mengingat kejadian tragis itu.
"Boy, lu ngapain di sini?"
"Gue kesini hanya memenuhi undangan dari pemilik Bar yang ada di sana, setelah lu ga main lagi jadi gue sendiri yang kesana kemari sendirian, " jawab Boy apa adanya, Yee-jun yang mendengar itu pun seketika ingin bertanya.
"Dulu apa yang Zoya buat? " tanya Yee-jun sangat penasaran. Boy menatap Yee-jun dengan tatapan bersahabat. "Terus lo juga belum jawab pertanyaan gue, kenapa manggil Zoya dengan Zee? " sambung nya benar-benar kepo.
Boy terkekeh geli, "Gue, Zee, Jane, dan Key dulu kami itu sahabatan deket banget. Zee yang paling muda di antara kami umur nya masih 15 tahun, dan kita pemain musik Dj di tempat Bar. Zee nama panggung nya dan kita terbiasa memanggil Zoya dengan sebutan Zee, sekarang kita hanya berdua sejak Jane dan Key meninggal dunia usai kecelakaan lalu lintas dan itu lah penyebab Zee harus melakukan operasi plastik, " tutur Boy dengan nada lirih, Yee-jun terdiam entah kenapa hati nya sedikit terbuai.
"Aaa.. begitu rupanya, " Yee-jun menaikan dagu nya lalu melipat tangan nya di dada.
"Boy, bos gue galak jangan di ajak ngomong, entar lu yang di semprot, " waspada Zoya kepada Boy.
"Ga begitu keliatan nya, Zee nomor handphone lu mana. Siniin gue mau simpen, " Zoya tersenyum malu saat Boy meminta nomor handphone nya, tetapi benda itu sudah lama mati.
"Handphone gue hancur Boy, " gumam Zoya yang juga di dengar Yee-jun, Boy menghela nafas lirih seperti nya ia sudah sangat tau bagaimana tabiat Zoya jika handphone nya rusak pasti ada masalah yang membuat nya berada di luar kendali.
"Ada masalah lagi? " tanya nya membuat Zoya langsung tersenyum getir.
"Lu kerja dimana? "
"Perusahaan LA Compan'y, "
"Oke, besok gue jemput lo. Gue ada pertemuan mendadak, sampai jumpa besok Zee!! " teriak Boy sudah berlari duluan, Zoya tidak sempat berbicara pada Boy bahwa besok ia tidak masuk kerja karena cuty.
"Alah sia Boy, gue belum ngomong atuh main pergi-pergi aja, " keluh Zoya dengan logat Sunda nya. Yee-jun hanya geleng-geleng kepala karena tidak mengerti sama sekali.
"Kau... mau tetap di sini atau ikut pulang? " tanya Yee-jun memberi pilihan.
"Gendong atuh pak, saya ga bisa naik, "
"Aaaarrrggghh.. gue ga ngerti bahasa lo, "
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...