
...Sebenarnya nya jika memang ingin, aku bisa saja pergi dari bayangan masa lalu kita dan melupakan semua nya. Namun maaf, untuk sekarang hati ku belum siap untuk melakukan nya....
~Yee-jun
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
...****************...
2..3 sampai lima jam perjalanan, lelah yang berkepanjangan akhir nya mereka tiba di sebuah tempat lebih tepat nya desa yang lumayan jauh dari kota ilsan. Hutan, serta lembah yang mereka lewati, namun tidak seburuk yang di duga. Nyata nya desa itu adalah desa ternyaman bagi mereka yang baru pertama kali melihat nya.
Mereka melewati taman bunga, hanya ada satu macam bunga yang ada di tempat itu. Namun tampak indah sekali. Air terjun, bukit, peternakan kuda, sapi dan banyak lagi. Mereka juga melewati danau kecil dan terdapat sampan yang mengambang. Tidak lama dari itu, Bus pun berhenti di sebuah padang rumput yang cukup luas, sedikit jauh dari mereka berhenti, ada sebuah jurang yang sudah di beri pagar pelindung oleh warga setempat.
Seluruh pegawai melihat tempat liburan mereka kali ini cukup asik dan sangat menarik, banyak yang terpukau dengan pemandangan yang mereka lihat, kabut yang menutupi bagian lembah bukit dan pemandangan danau yang mereka lihat tadi ternyata cukup luas dari atas sana.
Satu persatu dari mereka turun dari Bus, di kedua sisi Bus,ada Seni dan Jerry yang menunggu di pintu luar, ia membawa gulungan kertas yang setiap pegawai harus mengambil nya secara acak.
Karena semua sudah turun dari Bus,masing-masing dari mereka sudah memegang gulungan kertas yang isi nya sangat rahasia.
Hye-joon dan yang lain nya baru tiba di tempat, termasuk puluhan mobil yang mengawal mereka. Jelas mereka dengan bentuk yang lumayan tidak rapi, dan mata mereka rata-rata menyipit. Dengan sangat terpaksa mereka keluar dari mobil dengan tampilan apa adanya sembari menyampirkan ransel yang mereka bawa. Seluruh pegawai memperhatikan atasan mereka dengan sangat wow.. tidak berkesan tidak tertarik ,mereka semakin terpesona, apalagi Myung-jee yang menukar celana nya dengan celana pendek di atas lutut. Karena tadi ia berhenti di sebuah toilet umum untuk mengganti celana nya terkena tumpahan kopi yang ia minum di mobil.
Zoya berusaha membuang pandangan nya ke sembarang arah, inti nya tidak boleh melihat atasan nya dengan mata telanjang.
"Baiklah, semua sudah berkumpul. Saya di sini sebagai panitia, akan membimbing kalian semua dalam perjalanan liburan ini. Tentu nya kalian semua sudah memegang gulungan kertas putih yang baru saja kami bagikan, " Seeni membuka topik percakapan dan semua nya menyimak apa yang Seeni katakan.
"Kecuali Nona Da-eun, silahkan untuk kalian semua membuka gulungan itu, " pinta Seeni dan mereka langsung menuruti nya.
Semua di buat terheran karena isi gulungan itu bergambar hewan.
"Harap untuk tenang, coba dengar kan saya. Isi gulungan kertas itu adalah gambar hewan yang akan menentukan siapa teman sekamar kalian. Di sebelah sana..., " tunjuk Seeni lurus kedepan, berarti mereka semua harus memutar badan nya agar dapat melihat apa yang Seeni tunjuk.
"Ada sebuah pondok kecil, untuk sementara kita tinggal. Tentu nya saya dengan teman saya sudah meminta ijin pihak desa untuk memakai tempat ini sebagai liburan. Dan tidak perlu berlama-lama, silahkan kalian pergi kedalam pondok itu, di setiap pintu pondok ada gambar hewan yang sama seperti yang kalian pegang. ada tiga belas pondok, dan setiap pondok memiliki empat penghuni atau tiga. Saya sudah memisahkan pondok wanita dengan pondok pria, silahkan, " Seeni mempersilahkan setiap pegawai untuk mengunjungi pondok baru mereka dengan membawa koper yang mereka bawa.
Lain dari itu Ryung-jae yang masih memperhatikan aktifitas mereka, langsung memanggil Da-eun yang mengikuti rombongan itu.
"Da-eun!! "sang empu langsung menoleh mencari asal suara.
" Apa? "
"You sini, " karena sudah lelah, Da-eun hanya bisa menurut saja. Seeni dan Jerry datang menghampiri atasan mereka dan berniat menunjukkan tempat tinggal mereka.
"Rumah yang akan tuan tempati, dekat dengan pondok pegawai. Saya akan mengantar anda kesana, " sahut Jerry dan Yeon-jin pun mengangguk.
"Yaa, saya sudah lelah sekali. Oh iya, jika semua pegawai sudah menemukan pondok nya masing-masing, katakan untuk beristirahat. Malam nanti kita akan berkumpul dalam lingkaran api unggun, "pupus Yeon-jin dan mereka langsung mendengar perintah nya.
Di dalam lingkungan pondok, ada sebagaian anggota yang sudah menemukan pondok nya. Dan juga yang belum menemukan nya, termasuk Zoya yang masih mencari pondok yang memiliki gambar seperti yang ia pegang. Yumi memiliki gambar yang sama, jelas saja mereka akan berada di pondok yang sama.
" Mi, belum nemu nih, "
"Coba kita cari di sebelah pondok yang paling besar itu, kita kan belum ngecek kesana, " seru Yumi menarik tangan Zoya, dan mereka berjalan melewati pondok demi pondok yang hanya memiliki banyak rongga skat sebagai pemisah pondok satu ke pondok yang lain nya. Susunan pondok membentuk luter U, dan saling berhadapan.
"Mi, yakin pondok kita di daerah sana. Soal nya itu pondok deket loh sama pondok nya pak Hye-joon, gak mungkin lah Mi, " Zoya ragu jika pondok nya berada di daerah dekat dengan pondok atasanya.
"Kita coba dulu, Zoya. Kalau gak ada baru kita lapor sama pak Seeni, soal nya bagian ujung sana udah kita cek satu persatu, tapi gak ada, " Yumi tetap menarik tanya Zoya, jalan yang mereka tapaki sedikit menanjak di tambah panas yang menyengat, membuat mereka harus lebih cepat sampai di pondok.
"Yumiii!! " seorang wanita berambut pendek memanggil Yumi dengan sekali teriakan.
"In-na, ada apa? "wanita yang bernama Choi In-na salah satu anggota tour, terengah-engah setelah mengejar mereka berdua.
" Kalian belum dapet pondok? "tanya nya.
" Belum, lo gimna? "
"Belum juga nih, gue dapet hewan kambing. Kalian berdua apa? " tanya nya lagi, Yumi dan Zoya saling pandang.
"Fix.. lo temen satu pondok kita, " ujar Yumi melanjutkan perjalanan nya.
"Iihh yang bener? "
"Yang bener, Yum," Yumi yang lelah begitu geram dengan celotehan In-na yang sama saja seperti Zoya, banyak bertanya.
"Lama-lama lu sama aja kaya Zoya, banyak nanya, "
"Sabar Yumi, nanti cepet tua loh, " sahut Zoya.
"Nah dengerin tuh, "
"Hiiiii.. lama-lama gue buntel kalian berdua, " Yumi menghentak-hentakkan kaki di tanah dengan sangat kesal dengan dua wanita yang terkikik geli melihat Yumi.
Mereka bertiga hampir sampai, dengan mata yang jeli, Yumi bisa melihat. Dua pondok yang masih kosong, salah satu nya ada gambar sesuai dengan yang mereka miliki, dan pondok satu nya memiliki gambar Ayam.
"Nah tu kan apa gue bilang, pondok kita ada di sebelah sana dekat sama pondok nya pak Hye-joon, " Yumi menunjuk arah pondok yang akan mereka tempati.
"Yaudah cepetan deh, badan gue berasa di lindes truk, " celoteh In-na berjalan duluan meninggal kan Yumi dan Zoya di belakang.
"Dasar tukang tidur, " gerutu Yumi bersungut-sungut.
"Mi, ngapain? ayo, " tanpa ia sadari ternyata Zoya juga meninggalkan nya.
"Iihh Zoya kok gak ngajak sih, "
"Tadikan udah di ajak, "
Mereka berjalan beriringan menuju pondok, dan sesampai nya di pintu pondok. Mereka berpapasan dengan Hye-joon dan beberapa teman nya, Zoya melihat Da-eun sudah tertidur pulas di bahu Ryung-jae.
Sedikit canggung karena tujuh pria itu terus melihat kearah nya yang akan mempati pondok yang berada dekat dengan pondok mereka. Yee-jun melengos pergi begitu saja, membuka pintu pondok dan membiarkan anak buah nya berpencar menjaga keamanan.
Dengan gugup, Zoya dan Yumi hanya bisa menundukkan kepala nya lalu masuk kedalam pondok yang sudah ada In-na berbaring di kasur singel.
Ternyata isi pondok itu sama seperti bangsal rumah sakit, tidak ada ruangan sama sekali. Setiap kasur di dampingi lemari pakaian pribadi, ada empat kasur dan ketiga nya sudah terpakai. Kasur Zoya berada dekat dengan pintu pondok dan di atas kasur nya ada sebuah jendela berukuran kecil.
Sedang kan Yumi dan In-na memilih kasur yang bersebrangan dengan kasur milik Zoya. Hanya ada satu kasur yang tersisa .
"Temen sekamar kita satu lagi siapa ya? " tanya In-na sambil menerka-nerka.
"Tunggu aja mungkin bentar lagi datang, " jawab Yumi masih berguling-guling di atas kasur nya.
"Zoya kenapa diam aja? "
"Capek In-na, " keluh nya.
"Iya sih, istirahat aja dulu pak Jerry bilang kegiatan nya di mulai nanti malam kok, "
"Bagus lah kalau begitu, " sahut Yumi memejamkan mata nya. Zoya menggeleng pelan, ia tidak bisa tidur sekarang. Lihat lah jam sebentar lagi menunjukkan waktu Sholat Dzuhur.
"In-na tau gak di mana toilet nya? "
"Toilet nya ada di belakang pondok wanita, gak jauh kok, "
"Baiklah, " Zoya meraih tas koper nya, dan berniat membereskan pakaian nya agar tersusun rapi di dalam lemari serta makanan yang di bawa Tessa juga akan ia susun.
In-na dan Yumi sudah terlelap di atas kasur nya tanpa membereskan barang bawaan mereka. Hanya Zoya sendiri yang masih berkutik dengan pakaian nya. Di luar pondok tampak sepi dan hanya beberapa orang yang berlalu lalang, mungkin mereka semua sedang mengistirahatkan tubuh nya.
Dering handphone Zoya bergetar, adzan alarm waktu sholat pun sudah berkumandang. Zoya meninggalkan pakaian nya, dan membuka pintu lalu pergi ke toilet untuk mengambil wudhu.
Hanya ada desir angin yang deras mengibarkan hijab dan gamis yang ia pakai. Tidak ada siapapun, di luar batas area, Zoya melihat beberapa sapi dan kuda yang sedang memakan rumput, serta kambing yang sudah kekenyangan berteduh di bawah pohon rindang.
Zoya melepas kaos kaki nya dan masuk kedalam toilet untuk memulai wudhu yang akan ia lakukan.
Zoya kembali ke pondok dengan hijab yang sedikit basah serta wajah nya yang masih segar berlinang air wudhu. Tidak sengaja Zoya melihat seseorang di balik jendela, seseorang itu melihat balik kearah Zoya dan menciptakan kontak mata. Dia adalah Yee-jun yang sedang menyulut sebatang rokok lalu menghembuskan asap yang langsung tertiup angin. Wajah nya yang seperti biasa datar dan dingin.
Zoya merunduk dalam diam dan langsung melangkahkan kaki nya menuju pondok sambil menggumam di dalam hati
Aku hanya bisa mencintai mu dalam diam, tanpa harus memaksa bila kita bisa bersama...
.......
.......
.......
.......