Dear A

Dear A
Are you okay?



...Pada akhir nya setelah kedua nya terjebak terlalu lama dalam benalu rasa sakit yang tidak menemukan penyelesaian. Kedua nya memilih untuk berjalan masing-masing dengan arah berlawanan, tetapi kau lebih dulu berjalan meninggalkan ku....


~Hyun-il


..._Dear A...


.......


.......


.......


...****************...


"Halloo!! " girang seorang gadis cantik yang berada di samping Ryung-jae. Dia adalah adik kandung nya Kim Da-eun.


"Kim Da-eun, kamu kesini? bagaimana kuliah mu? " tanya Hye-joon yang juga senang dengan kehadiran Da-eun.


"Cuty dua bulan, "jawab Da-eun sembari memberikan dua jari. Sifat nya yang humble, ramah dan ceria membuat seri di wajah nya penuh semangat. Tanpa sengaja Da-eun melihat ada seorang wanita yang berdiri jauh dari mereka.


Ryung-jae yang ikut melihat arah mata adik nya pun juga melihat kehadiran Zoya. Karena begitu terkejut Da-eun menjatuhkan tas yang ia pegang. Mereka memutar badan nya dan melihat Zoya dengan jelas.


" Zoya? "


"Eonnie Alexa? " beo Da-eun terbata-bata. Sontak Da-eun berlari memeluk Zoya dengan penuh kegembiraan.


"Sejak pertama bertemu dengan you, i (ai) sudah jatuh cinta pada mu. Dan saat mendengar kabar kematian you, i yakin you pasti masih hidup, " ujar nya memeluk Zoya sangat erat, tampak ia juga sangat kehilangan sosok Alexa.


Ryung-jae menarik paksa sang adik dari pelukan itu, sebab melihat Zoya yang kesulitan bernafas.


"Da-eun.. dia bukan Alexa, " seru Dae-ho memberitahu Da-eun yang sebenar nya.


"Enggak.. dia Eonnie Alexa, lihat wajah nya hampir sama, " Da-eun menunjuk foto besar itu dan membandingkan wajah Alexa dengan Zoya.


"Da-eun, "


"Abang, dia Eonnie Alexa benar i tidak salah, " Da-eun begitu yakin yang di lihat nya sekarang adalah Alexa yang masih hidup.


Hye-joon, Yeon-jin, Myung-jee dan Yee-jun membuang wajah nya kesembarang arah. Dan Zoya pun dapat melihat itu, mereka tampak sedang menghindari sesuatu yang bisa membuat semuannya terguncang.


Ryung-jae hanya bisa menarik nafas lalu menghembuskan nya, "Da-eun dia bukan Alexa, " seru Hyun-il sekali lagi.Da-eun tidak percaya ia menggelengkan kepala nya dengan keras.


"Dia eonnie Alexa kenapa Abang tidak melihat nyaaaa!! "pekik Da-eun menggebu-gebu.


" DA-EUN.. DIA BUKAN ALEXA, "sentak Yee-jun dengan suara keras nya, Da-eun tersentak dengan hentakan itu.


" Hyung, kenapa kau membentak nya? "tanya Ryung-jae tidak percaya melihat Yee-jun berada di luar kendali.


" Terserah kalian, "gerutu nya pergi meninggalkan tempat itu, sebelum nya ia melirik Zoya dengan tajam. Zoya merunduk sedih, ada apa dengan tatapan itu?


" Ada apa kamu datang kesini Zoya? "tanya Hye-joon langsung.


" Bu Yoona meminta saya untuk memberikan berkas penting ini kepada bapak, "Zoya menyodorkan berkas yang sedari tadi ia peluk.


" Maaf Pak saya pamit pergi, "pinta Zoya setelah Hye-joon menerima berkas itu.


Da-eun menghentikan nya, " Eonnie, you Alexa kan?"Da-eun menggenggam tangan Zoya ia begitu berharap bahwa yang di lihat nya adalah Alexa.


Zoya melepas genggaman itu dengan perlahan, "Saya bukan Alexa yang kamu cari, permisi, " jawab nya dengan lembut agar tidak melukai perasaan Da-eun.


Setelah kepergian Zoya dari mansion itu, Da-eun menumpahkan air mata nya. "Abang, " rengek Da-eun menarik-narik baju Ryung-jae.


"Dia eonnie Alexa... hiks.. hiks, " Ryung-jae memeluk Da-eun untuk menenangkan sang adik. Sejak pertama bertemu Alexa, Da-eun ingin sekali berada di dekat nya berteman dengan Alexa. Tetapi saat itu ibu nya melarang karena pendidikan yang harus ia kejar karena baru lulus di Universitas dengan nilai terbaik. Da-eun ikut dengan Ryung-jae karena ia sedang naik semester terakhir dan mendapat cuty dua bulan.


"Letak lah barang-barang adik mu di kamar tamu, kita pergi makan, " seru Yeon-jin menyeka setetes air mata nya yang berhasil keluar.


Sementara Zoya menangis tersedu-sedu saat keluar dari wilayah mansion itu. Entah kenapa saat melihat tatapan tajam dari Yee-jun hati nya tengah teriris sembilah pisah yang menyayat hati nya.


"Kenapa aku menangis? " tanya heran, Zoya menghapus air mata nya dengan cepat tapi air mata itu keluar lagi. Hati memang tidak bisa di bohongi.


"Alexa, " gumam nya, Zoya meraba wajah nya yang begitu mirip dengan pemilik nama itu. Tanpa ia sadari, Zoya sedang mengalami guncangan tekanan pada hati nya. Zoya menutup mata nya dengan sangat erat, air mata nya mengalir deras.


"Yaa Allah kuat kan hamba, " gumam nya memohon sepenuh hati.


***


"Assalamu'alaikum, Zoya pulang, " seru nya membuka pintu Apaterment.


"Wa'alaikumussalam, jam segini kok baru pulang? biasa nya gak pernah telat, " Zoya merunduk memegangi tali tas selempang nya dengan rasa gugup. Tessa memandang keponakan nya dengan tatapan heran.


"Kenapa? "


"Zoya, ada tugas mendadak tadi Bi, jadi pulang telat, " Tessa hanya tersenyum lembut, ia mengelus punggung keponakan nya.


"Gak papa, lekaslah mandi setelah itu bayar hutang mu, " Zoya mengangguk dan membuka pintu kamar nya.


Malam itu Tessa melihat Zoya sedikit berbeda dari sebelum nya. "Semoga ini hanya perasaan ku saja Ya Allah, " gumam Tessa kembali ke meja dapur.


Di dalam sudut bathroom Zoya menangis terisak, hati nya begitu sakit seperti tertusuk duri tajam. Zoya mencekram kepala nya dengan kuat.


"Haaaaaaaaa!!!!! "di luar kendali Zoya berteriak kencang hingga membuat Tessa dan sang suami terkejut.


" Astaghfirullah hal'adzim, Zoyaaaa!! "pekik Tessa sangat khawatir, ia membuka pintu kamar Zoya dengan sangat tergesa-gesa, ia mengetuk pintu kamar mandi.


" Haaaaaaa!!! "teriak Zoya sekali lagi dengan air mata yang sulit di hentikan.


" Zoya!! buka pintu nya nak, "Tessa berulang kali memutar-mutar knop pintu tapi itu terkunci dari dalam.


Anh datang berniat mendobrak pintu kamar mandi itu, Tessa sembarang mengambil selimut yang ada di atas kasur.


Brakkkk


Tessa langsung menutupi Zoya dengan selimut, Zoya berada di luar kendali. Apa yang sebenarnya terjadi pada Zoya?


" Ganti kan pakaian nya, kita ke dokter sekarang, "seru Anh keluar dari kamar Zoya menyiapkan mobil nya untuk membawa Zoya.


Tessa menangis tersedu-sedu melihat kondisi Zoya yang sudah ketiga kali nya ia seperti ini. " Ini bibi sayang jangan takut ok, "Tessa memeluk Zoya yang masih di tutupi selimut namun terus menangis tanpa henti.


Di sebuah ruangan bernuansa putih, Zoya terdiam membisu menatap seorang dokter wanita dengan tatapan kosong.


" Jiwa nya terguncang lagi, mungkin ada suatu kejadian yang membuat diri nya tertekan hingga berada di luar kendali, "Ucap dokter Bo-ra, seorang spesialis dokter kejiwaan atau psikiater.


" Apa Zoya harus mengonsumsi obat lagi? "tanya Tessa khawatir. Dokter Bo-ra menatap Zoya dengan sangat intens.


" Zoya.. Zoya, "Zoya melirik tanpa ekspresi.


" Kamu tau ini dimana? "Zoya menggeleng pelan, Dokter Bo-ra menghela nafas lalu kembali bertanya.


" Kamu siapa? "Zoya menggeleng lagi, Tessa menutup mulut nya air mata nya jatuh begitu saja. Dokter Bo-ra menghela nafas.


" Pemeriksaan minggu lalu Zoya mengaku memiliki trauma dengan orang tua nya dahulu, akhir-akhir ini apa Zoya sering melakukan aktifitas berulang kali dan itu tampak aneh? "Tessa terdiam dan berfikir keras dengan kebiasaan baru Zoya akhir-akhir ini.


" Tidak ada yang aneh, tapi saya pernah melihat Zoya menulis dan saya perhatikan tubuh nya seperti membatu. Saya menunggu nya sampai beberapa menit, tidak ada perubahan, "Dokter itu menghela nafas lagi, seperti nya kondisi mental Zoya benar-benar rusak.


" Emmm.. ada yang harus saya jelaskan, "Dokter Bo-ra tampak ragu untuk berbicara, Tessa menunggu dengan hati gelisah.


"Saya tidak tau ini pasti atau tidak, tetapi Zoya benar-benar memiliki trauma berat dan itu sudah di golongkan ke post traumatis stress disorder. Untuk selanjut nya, ibu harus mewaspadai Zoya terlebih dahulu dan jangan pernah tinggalkan dia seorang diri. Dua minggu setelah pemeriksaan, tolong bawa Zoya kembali dan ceritakan apa yang ibu lihat dari Zoya, mungkin Zoya memiliki gejala baru dan itu belum bisa saya pastikan, " Tessa menangis, ia mengulum bibir nya kedalam dan mengangguk sesuai dengan anjuran dokter.


"Untuk bisa membuat diri nya tenang, minum kan saja obat yang saya berikan waktu itu, " Tessa mengangguk lagi, ia merangkul Zoya dan mengelus pundak keponakan nya itu. Mereka berniat untuk kembali kerumah setelah konsultasi untuk yang ketiga kalinya.


.......


.......


.......


.......