Dear A

Dear A
Zhou Shen Big Fish



...Saat mengharap kan kebahagiaan dari seorang manusia, maka sisakan ruang untuk luka....


..._Dear A...


.......


.......


.......


.......


...****************...


"Pak.. saya kok punya dua handuk? " tanya Zoya bingung karena Yeon-jin membiarkan nya dua handuk putih untuk mengeringkan tubuh nya.


"Lekuk tubuh mu akan terlihat jika terkena air bukan? pakai lah, saya tau apa yang kamu butuh kan," jawab nya hingga membuat Zoya diam membeku, bahkan ia tidak memikirkan hal itu.


"Sunjae, kamu pergi lah ke toilet lalu minta seseorang untuk membersihkan ruangan ini,dan kalian.."pinta nya lalu menunjuk ke-enam adik nya yang masih berada di ruangan itu, "Keluar, biar kan mereka di sini, " sambung nya, tanpa berfikir lama mereka melangkahkan kaki nya keluar dan menutup pintu. Hanya Yumi, Da-eun dan Zoya yang masih terdiam di tempat itu.


"Zoya, baju kamu basah semua... gimana? " tanya Yumi sedikit panik.


"You kenapa panik, kan gak papa kalau eonnie Zoya keluar kaya gitu. Pegawai lain juga bakalan biasa aja, " ujar Da-eun bingung.


"Zoya ini seorang muslim, Nona. Jadi aturan dalam agama mereka itu harus menutup aurat dari ujung kepala sampai ujung kaki, kecuali wajah, " Yumi berusaha menjelaskan dengan hati-hati.


"Lah.. i kira waktu kita pertama ketemu, eonnie Zoya pakek baju nutup semua gitu karena kedinginan. Eonnie muslim yah? " Da-eun menatap Zoya dengan tatapan serius.


"Iya aku muslim, "


"Aku beliin kamu baju aja yah, di seberang kantor ada toko jual pakaian kok. Kamu bisa pakai uang aku, " tawar Yumi kepada Zoya, namun ia menggeleng.


"Gak usah deh, Yumi. Aku minjem ruangan pak Hye-joon aja bentar sampai gamis ku kering, "


"Enggak... eonnie bisa masuk angin kalau gitu, apalagi ruangan ini pakai dua AC, " sambung Da-eun tidak setuju dengan usul nya.


"Eonnie, you temenin i beli baju yuk, you pilihin deh baju yang cocok untuk eonnie Zoya. Sekalian buat si laki-laki tadi.Biar i yang bayarin, " pupus Da-eun membuat Zoya dan Yumi saling melempar pandangan.


"Nona--


" Jangan panggil i, Nona. i bukan orang yang berkuasa, panggil aja nama i, you lebih tua dari i, "kedua bola mata mereka melebar saat Da-eun sangat merendahkan diri nya sebagai orang biasa dan tidak ingin di lebih-lebihkan. Padahal keluarga mereka itu keluarga berada, Ryung-jae harta yang lebih banyak dari yang mereka duga.


"Nanti kami di marahin pak Ryung-jae karena tidak sopan, nona, " ujar Yumi lagi tidak enak jika memanggil nya hanya dengan nama.


"Enggak.. i yang bakal marahin dia balik, oh ya.. i kerja juga di sini kok sama kaya eonnie berdua, "


"Ha? "


"Ma.. maksud kamu jadi Cleaning Servis? " tanya Zoya lagi dengan nada meragu kan.


"Iya, udah jangan banyak nanya nanti kita pada masuk angin semua gak keburu ganti baju, " Da-eun dengan cepat menarik tangan Yumi yang kewalahan.


"Zoya.. Zoya kamu di sini dulu yah, gak lama kok, " seru Yumi sembari terus berjalan karena Da-eun menyeret nya.


"Aa.. iya, Hati-hati, "


Sempat Ryung-jae bertanya saat melihat Da-eun keluar ruangan sembari menyeret Yumi, dan bertanya akan kemana diri nya. Da-eun hanya menjawab untuk tidak memasuki ruangan itu dulu, dan ia pamit pergi ke sebuah toko pakaian.


"Nona, itu air nya basahin lantai nanti kalau ada orang jatuh bagaimana? "


"You ,tolong bersihkan air nya ada di lantai, " teriak nya kebetulan saat itu ada seorang OB yang berjalan melintasi mereka. Dengan gampang nya Da-eun memerintah sambil berjalan mencari jalan menuju pintu lobi.


"No.. no.. nona, saya malu, "


***


Yee-jun terdiam menatap rembulan malam yang saat itu tengah memancarkan sinar nya. Satu lingkaran penuh sudah bertengger di ujung langit tertinggi. Yee-jun menatap nya dalam-dalam menghembuskan nafas nya yang sampai bisa terlihat asap nya.


Tidak lama dari itu satu titik kapas putih jatuh dari atas langit. Sudah lama ia menantikan salju turun, baru saat ini ia bisa melihat nya.


"Apa kabar? " gumam nya sendu.


"Kapan kita bisa bertemu seperti dulu? "


"Dulu kamu suka sekali dengan salju, " Yee-jun merunduk menatap jari-jari kaki nya, "Pengagum salju sudah menghilang, " sambung nya bergumam pelan.


Yee-jun berbalik badan berniat menutup pintu balkon itu dan menarik tirai nya. Nuansa hitam ber dominan di dalam kamar nya, entah itu juga wujud dari gambaran dalam hati nya yang tidak menemukan kecerahan. Ia berjalan meninggalkan kamar nya dan turun dari tangga utama, tidak ada siapa pun di sana. Pukul sembilan malam, mereka yang lain nya mungkin saja sudah menarik selimut dan bergelut dengan mimpi yang mereka harapkan malam ini.


Hari ini suasana hati nya sedang tidak baik, Yee-jun duduk di depan piano dan membuka penutup nya. Zhou Shen Big Fish judul nya, Yee-jun menekan balok-balok piano dengan perlahan dan begitu mendalami nada yang keluar dan begitu sempurna di telinga nya.


Ia memejam kan mata nya, nada itu sudah ia hafal bahkan sangat hafal. Ia terus mengenang orang yang sangat ia cintai, yang dapat membuat hidup nya lebih berwarna dan bersinar, semua energi terdapat pada orang tersebut, untuk orang lain mungkin terlihat menyepelekan. Tapi tidak untuk nya yang sudah tumbuh benih cinta sejak lama.


Hye-joon yang malam itu sedang menikmati salju turun dari atas balkon mendengar alunan yang di ciptakan Yee-jun membuat kian terbuai dalam kenangan.


Begitu juga dengan yang lain nya, tidak ada yang menangis. Semua diam dalam fikiran masing-masing.


Yee-jun menatap figuran yang selalu berdiri di atas piano itu, itu milik nya bahkan jika pemilik nya sudah tiada tempat itu akan selalu menjadi milik nya.


"Tidak akan ada yang bisa menggantikan mu, aku pastikan itu, "


Berganti Hye-joon menatap figuran besar yang bertengger di dinding kamar nya, tujuh pria tersenyum penuh semangat dan satu orang wanita duduk di depan mereka, mengenakan Dress hitam yang begitu senada dengan kulit nya yang putih, seputih susu dan secerah mentari pagi.


Ada sebuah kertas putih yang terselip di balik bingkai itu, Hye-joon selalu meletakkan nya di tempat itu, karena itu milik seorang wanita yang waktu itu sedang iseng menulis sebuah bait.


"Seluruh tubuh ikan besar, aku sangat menyukai nya, daging, tulang dan juga lemak nya yang begitu nikmat saat bersentuhan di lidah ku. Daddy selalu membelikan nya untuk ku, bahkan dia memilih nya langsung dari laut. Daddy ,I Love You, "


Hye-joon tersenyum haru membaca tulisan itu, ia melipat nya lagi dan menyelipkan nya di belakang bingkai. Sengaja ia letak kan pada tempat nya, karena Hye-joon mengingat betapa marah nya wanita itu jika barang nya di pindah-pindahkan ketempat lain.


"Anak ku cantik sekali, "gumam nya tersenyum simpul, sekuat tenaga menahan mata nya yang semakin perih.


Tidak lama alunan yang Yee-jun ciptakan terhenti, mereka yang terdiam di dalam kamar nya masing-masing dapat bernafas lega.


Da-eun pula sudah sangat terlelap hingga tidak ada satu pun suara yang mengganggu telinga dan mengusik ketenangan nya. Mimpi nya mungkin begitu indah sehingga Da-eun menerbitkan senyuman nya di kala ketidak sadaran nya malam itu.


Sekian dan terima kasih..


.......


.......


.......


.......