Dear A

Dear A
Kita Akan Terus Bersama



...Entah aku yang terlalu bodoh atau memang dirimu lah yang mempunyai daya tarik luar biasa sehingga mampu membuatku tidak bisa melupakan mu.....


..._Dear A...


.......


.......


.......


.......


...****************...


"Hhhhssss... Yaa Allah perih nya, " gumam Zoya meringis perih melihat telapak tangan nya semakin mengeluarkan darah setelah diri nya bertabrakan dengan Hye-joon.


"Zoya kamu gak papa? "Myung-jee berjongkok di hadapan Zoya ingin melihat luka yang semakin menganga lebar.


" Pak maaf pak, saya ceroboh tadi, "Zoya meminta maaf pada Hye-joon yang juga terduduk di atas tanah, ia mengebas-ngebaskan tangan nya yang terkena debu.


" Kamu gak papa? "tanya Hye-joon saat melihat tetesan darah menetes dari telapak tangan nya. Dae-ho dan Hye-joon pun segera mendekati Zoya.


" Eonnie tangan nya berdarah lagi, "Zoya melihat telapak tangan nya dan menyeka darah nya sendiri.


" Gak papa, gak terlalu parah kok, "jawab Zoya tersenyum baik.


" Itu bisa infeksi kalau gak di bersihin, "saru Dae-ho ingin menyentuh tangan Zoya namun Yee-jun langsung menyikut nya.


" Eo.. maaf, "


"Enggak kok pak, saya gak papa cuma luka kecil. Bisa saya bersihin sendiri kalau udah balik ke pondok, "


"Sungguh? "


"Pak Jee ayo bermain lagi, " ujar nya memanggil Myung-jee dengan raut wajah cerah tanpa ada keluhan sedikit pun dari wajah nya. Ia sangat bersemangat dan ingin bermain lagi.


"Luka mu? "


"Gak papa kok, " Zoya beranjak dari duduk nya di bantu oleh Da-eun. Zoya menarik-narik baju Myung-jee dan meminta nya untuk tidak mengkhawatirkan apapun. Bersamaan dengan itu, handphone Yee-jun bergetar dan ia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo.. Nona Kim? ada apa? " Zoya melirik Yee-jun dengan tatapan sendu, di pendengaran nya mengapa Yee-jun bisa berbicara lembut dengan wanita yang berada di seberang telepon nya.


Yee-jun melihat Zoya sedang melihat nya juga, dengan sedikit sinis mata nya bergerak tajam. Dan membuang nya kesegala arah, berjalan meninggalkan tempat nya berdiri sembari bercakap penting dengan wanita yang berada dalam sambungan nya.


Sedikit perih namun Zoya berusaha untuk mengontrol ekspresi wajah nya. Zoya merunduk lesu dan tidak bersemangat seperti sedia kala.


"Eonnie kenapa? tangan nya sakit yah? "


"Enggak kok gak papa, cuma perih dikit aja, " jawab nya dengan penuh kepalsuan.


"Yaudah, kita berpencar lagi aja, " sahut Hye-joon berjalan meninggalkan mereka yang masih berdiri di tempat. Hanya mereka bertiga lah yang tertinggal.


Zoya merunduk tidak bersemangat, sudut hati nya seperti sedang teriris pisau cutter. Padahal malam itu mereka berdua sangat baik-baik saja dan berbicara panjang lebar, tapi kenapa tatapan Yee-jun berubah menjadi sangat sinis dan seperti tidak sudi untuk menatap nya.


"Eonnie.. eonnie, " Zoya tersentak ketika menyadari Da-eun memanggil nya berulang kali.


"Eh iya, "


"Eonnie melamun? " Buru-buru Zoya menggeleng dengan tegas. Sementara itu Myung-jee yang memperhatikan Zoya pun tersenyum getir namun tidak terlihat jelas.


***


"Haaaaa!!! haaaaa!!! "


"Hahahaha, " Da-eun sedari tadi terus menertawai wajah lucu Zoya yang ketakutan melihat hewan kecil yang bernama ulat, ia bahkan sampai berlari terbirit-birit karena Myung-jee berulah jahil kepada nya lagi.


"Zoya ini bukan ulat, ini cuma belalang hijau jangan berburuk sangka!!! "


"Enggak bapak bohong, itu dia uget-uget.. hiiiiii, " seru nya bergidik ngeri dan phobia.


"Eonnie.. eonnie.. itu di belakang eonnie!! " tunjuk Da-eun semakin menakut-nakuti dengan sangat antusias, sontak Zoya langsung berlari lagi dan memasuki area tumpukan jerami.Dan tiba-tiba..


Jlebb


Bak hilang di telan bumi, Zoya menghilang di dalam lubang yang berisi banyak jerami kering. Da-eun dan Myung-jee tidak kuasa untuk menahan tawa nya lagi. Bahkan suara tawa mereka sampai tidak terdengar, melihat Zoya terperangkap di lubang jerami.


"Ngapain? "


"Tolong, " dengan ekspresi merengek nya, Mereka semakin terpingkal-pingkal. Akhir nya Da-eun menarik Zoya keluar dari lubang itu.


"Udah gak ada jangan pada bohong deh, Tuhan marah loh. Aku capek, udah dong, " Zoya menyahuti jerami yang tersangkut di hijab dan pakaian nya, dengan sisa kekehan, akhir nya Da-eun dan Myung-jee menyerah juga mereka bertiga menjatuhkan tubuh nya di atas tumpukan jerami.


"Huuhhh!! " mereka menghela nafas bersamaan, memandangi awan putih saling bergerak kearah yang sama. Sinar matahari perlahan-lahan mulai turun, entah sudah berapa jam mereka bermain di taman bunga itu.


"30.. 31..32..punya aku ada 32 pita, "


"33.. 34..35..36..punya saya ada 36, " jawab Myung-jee menghitung pita yang berhasil ia dapatkan.


"38.. 39..40..yey i dapet banyak pita, "


"Gak papa yang penting bahagia, " seru Zoya tanpa merasa berkecil hati karena ia mendapat pita paling sedikit.


"Kita kan gak ngapa-ngapain, cuma lari-lari terus lompat-lompatan, " Myung-jee melirik kesamping yang di sebelah nya ada Zoya yang berjarak lumayan agak jauh dari nya.


"Mau itu hal sekecil apapun tapi sudah bisa membuat saya bahagia dan senang, setidak nya perjalanan saya tidak kosong, "jawab nya begitu senang, Myung-jee mendengus senyum.


" Tapi eonnie, tadi i gak sengaja liat room chat eonnie tinggal di apart sendirian yah? "tanya nya memiringkan kepala nya menatap Zoya yang berada di tengah-tengah.


" Sendirian? bukan kah kau tinggal bersama bibi mu? "tanya Myung-jee lagi.


" Eo.. Bibi Tessa lagi pergi ke kota Tarim, "


"Tarim? kota apa itu? "


"Kota yang berada di Yaman, Bibi Tessa pergi kesana bersama paman Anh untuk menjenguk anak nya yang masih menjalan kan tugas study nya, "


"Maksud Eonnie sekolah di sana? "


"Berapa lama? " tanya Myung-jee menatap langit-langit sore.


"Biasa nya sih satu minggu kalau tidak ada rencana lain, "


"Eonnie berani tinggal di apart sendirian? " Zoya langsung mendengus senyum geli.


"Dari dulu saya itu memang sendirian, " Myung-jee dan Da-eun mengerutkan dahi nya tidak mengerti.


"Eonnie---


"Iya saya dari dulu memang sendirian, gak ada yang menemani. Dua sahabat saya bahkan juga pergi meninggalkan saya, "Zoya memejam kan kedua mata nya ketika mengingat tabrakan maut itu.


" Ibu ayah eonnie kemana? "


"Ayah sudah meninggal, ibu... " Zoya menjeda kalimat nya.


"Sudah jangan di terus kan, mau lihat hal yang sangat menakjubkan tidak? " potong Myung-jee mengetahui apa yang di rasa Zoya, ia tidak ingin membuat hari yang menurut nya bahagia malah harus menumpahkan kesedihan.


"Apa itu? "


"Ayolah , " Myung-jee beranjak dari tidur nya dan mereka berdua pun mengikuti nya dengan sangat penasaran.


Myung-jee mengantarkan mereka berdua pada sebuah turunan terjal dan berbukit, yang di bawah nya banyak padi-padi yang di tanam petani desa. Desiran angin sore menerjang tubuh mereka bertiga, Zoya mengembangkan senyuman nya. Inilah yang dia cari.


"Pak boleh saya berteriak? " seru nya meminta izin.


"Justru saya membawa kalian berdua ketempat ini untuk melakukan hal tersebut, "


"Kak, yang bener? " Da-eun pun tampak berbinar, lihat lah hal sekecil itu bahkan membuat tiga orang itu tersenyum senang. Mungkin tidak ada yang tau hal berat apa yang mereka alami di setiap waktu nya, akan kah hari itu dan sore itu juga mereka membuang sebagian beban yang menyesakkan keadaan hati?


"Mau berteriak berasama? " tawar Myung-jee dan kedua wanita itu langsung mengangguk antusias.


"Baiklah, ayo tarik nafas dalam-dalam lalu berteriak lah Sekuat-kuatnya, " mereka mengikuti instruksi Myung-jee lalu.....


"1.. 2..3..


"HHHAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!! " ketiga nya saling menghela nafas setelah teriakan pertama berhasil membuat semua beban berkurang.


"Mau lagi? "


"MAU, "


"Sekarang berteriak lah sesuai isi hati kalian berdua, Da-eun kamu boleh memulai nya duluan, "Da-eun pun tersenyum senang saat Myung-jee mengijinkan nya lebih dahulu. Ia menarik nafas sedalam-dalamnya lalu memejam kan matanya dengan penuh perasaan yang akan ia ungkapkan.


" TUHAAANNN!!! MENJADI GADIS KAYA TIDAK MEMBUAT KU BAHAGIA.. BERI AKU KEBAHAGIAAN MESKI PUN ITU HAL SEDERHANAAA!!! "


"HAH!! hahaha... legaaaaaa!!! " teriak Da-eun lagi tertawa senang sampai ia mengeluarkan air mata nya saking terharu nya.


"Sekarang giliran bapak, " Zoya menunjuk Myung-jee untuk mengungkapkan beban berat nya selama ini.


"Baiklah, "Myung-jee pun melakukan hal yang sama.


" AYAHH!!! IBUUU!!! TOLONGG SAYANGI AKU DENGAN TULUS TANPA MELIHAT SESUATU, JANGAN BANDING KAN AKU DENGAN EONNIE JI-WOO YANG SELALU MENDAPAT NILAI TERTINGGI!!!! "


"Hahahah!! " Myung-jee tertawa lepas, akhir nya beban berat yang ia tahan selama bertahun-tahun dapat terungkapkan meskipun tidak di depan orang nya secara langsung. Mata Zoya berkaca-kaca, yang ia fikirkan,ternyata tidak semua orang menjalani hidup yang sama, teori menuju dewasa ia dapat sedikit demi sedikit.


"Eonnie, sekarang, "


Zoya menyeka air mata nya, dan menahan relung hati nya agar tidak menangis lebih deras apa yang akan ia ungkap kan.


" TUHAAAAAANNN!!! "Myung-jee dan Da-eun menunggu teriakan Zoya selanjut nya.


Air mata nya terlalu deras, hingga ia tidak sanggup untuk berteriak, " Tidak apa-apa, lakukan lah. Ini akan membuat mu jauh lebih baik, "seru Myung-jee dengan lembut, Zoya menangis sengugukan memahami kalimat Myung-jee yang menurut nya begitu menyentuh.


" TUHAAAANNNN!!! JANGAN... JANGAN PERNAH TINGGALKAN AKU DALAM KEADAAN APAPUN... HIKS HIKS.. AKU IKHLAS MENERIMA SEGALA COBAAN MU, KARENA AKU TAHU RENCANA MU AMAT BAIK UNTUK KU, "


Zoya langsung berjongkok meredam tangisan nya yang sangat memilukan, Da-eun sampai ikut menangis ketika mendengar teriakan Zoya yang sangat tidak sedikit untuk di ungkap kan. Myung-jee berjongkok di hadapan nya, dan ia menyeka kedua air mata nya dengan begitu sangat menyentuh hati nya saat Zoya berteriak dengan iringan air mata pasti tidaklah mudah untuk melewati itu semua.


"Eonnie.. i memang gak tau apa masalah berat yang eonnie alami.. hiks hiks.. tapi i merasa berada di posisi eonnie pasti tidak lah mudah untuk melewati semua itu.. hiks.. hiks.. eonnie wanita kuat dan berani, kalau i berada di posisi eonnie saat ini, mungkin i pilih untuk mengakhiri hidup i sendiri," ujar Da-eun sengugukan, sampai mata nya memerah.


"Capek yaa Allah, " gumam Zoya semakin deras air mata kepedihan nya. Gumaman Zoya berhasil membuat Myung-jee menangis lebih deras lagi, meski pun tidak di ceritakan Myung-jee dapat melihat kepedihan penderitaan nya dari sorot bola mata nya langsung.


"Astaga.. saya bahkan tidak tau jalan hidup mu seperti apa, tapi saya mendengar nya sangat teriris, " ujar Myung-jee berusaha menghentikan air mata nya yang tidak kunjung berhasil.


"Eonnie.. i akan temani you menuju kebahagiaan, eonnie gak pernah sendirian, percayalah, " ujar Da-eun memberi suport untuk nya.


"Terima kasih, Da-eun, "


"Zoya.. saya punya permintaan buat kamu, "


"Tapi saya tidak bisa mengabulkan nya pak, "


"Bahkan kamu belum mendengarnya, "


"Oh iya, lupa, " seru nya dengan suara serak,masih saja Zoya bertingkah seperti pelawak.


"Hihihihi, " Da-eun terkekeh geli sembari menghapus sisa air mata nya.


"Saya minta tolong banget, jika kita berdua atau bertiga bersama Da-eun, tolong panggil saya dengan sebutan abang... saya mohon, " ujar Myung-jee sangat bersungguh-sungguh agar Zoya menuruti nya.


"Apakah itu pantas, pak? "


"Sedari awal kita bertemu saya sangat menginginkan nya, tetapi kamu menolak nya. Saya sudah mengikhlaskan adik saya Alexa, tetapi untuk sesekali saya hanya ingin mendengar panggilan itu. Saya tetap menganggap kamu sebagai Zoya bukan Alexa, " dari bola mata Myung-jee ia benar-benar sangat menginginkan itu, Zoya pun mulai meragu dan..


"A..abang, "


.......


.......


.......


.......