Dear A

Dear A
Kenangan Seorang Sahabat



...Tidak harus kamu...


...Tidak, harus kamu...


...Seharus nya kamu tau, aku sangat ingin memiliki mu tapi kamu sudah terlanjur salah faham. Padahal yang membedakan hanyalah koma......


..._Dear A...


.......


.......


.......


.......


.......


...****************...


Pagi itu seluruh pegawai sedang berkumpul di tempat pelatihan kuda, seorang peternak sedang membimbing mereka untuk mengengetahui detail jelas nya tentang hewan kuda.


"Paman, apakah itu tempat itu bisa di pakai? " tanya Sae-bom menunjuk tempat pelatihan memanah.


"Eo.. bisa, tempat latihan memanah itu memang di sediakan di desa ini, " Jawab sang pemilik.


"Apakah kami boleh mencoba nya? " tanya Myung-jee sedikit tertarik.


"Silahkan pak, silahkan, " jawab sang pemilik dengan sangat ramai, mereka yang berniat ingin mencoba dan hanya sekedar menonton pun berjalan menuju tempat pelatihan memanah yang sangat dekat dengan pelatihan berkuda.


Ketujuh pangeran itu pun langsung mengambil posisi masing-masing untuk membidik papan visir yang berada lumayan jauh dari tempat mereka berdiri.


"Abang apa you bisa memanah? "


"Ooii.. you remehin i yah, "


"Da-eun, aku baru pertama kali melihat abang mu memegang panah. Sebelum nya dia hanya di sibukkan dengan urusan kantor atau gym, " bisik Hyun-il juga meremehkan Ryung-jae, mereka terkikik saat berjulid bersama.


"Yaa.. kau, "


"Hei.. lihat cara ku memanah, " seru Dae-ho memfokuskan bidikan panah nya pada papan visir.


"Awas meleset, " sahut Yeon-jin, "Asalkan Hyung tidak mengganggu ku ini tidak akan meleset, " balas nya melepas bidikan nya dan busur tersebut menancap pada lingkaran kuning.


"Aahh.. payah kau Dae-ho, " seru Yee-jun juga bersiap-siap menarik busur nya.


Shhiiuu


Anak panah Hye-joon sudah menancap lebih dulu tepat di lingkaran kecil yang paling tengah, "Woaaahhh.. mantap, " puji Myung-jee dengan girang nya.


Sedangkan wanita bergamis ungu muda seiras dengan hijab nya juga,hanya terdiam merenung seorang diri melihat permainan itu, Yumi entah pergi kemana bersama In-na bisa di katakan mereka adalah sahabat karib hanya karena pekerjaan mereka yang berbeda membuat mereka sedikit jauh.


"Eonnie.. kemari lah, " teriak Da-eun dari tempat ia berdiri bersama Ryung-jae. Sedang kan Zoya berada di pagar pembatas dan hanya sekedar menonton. Zoya hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala nya.


Tidak puas dengan jawaban Zoya, Da-eun berniat mengajak Zoya berdiri bersama nya dekat dengan atasan nya.


"Tidak Da-eun, aku tidak ingin kesana, "


"Eonnie, please ikut i, " dengan sangat terpaksa Zoya menurut, padahal banyak pegawai yang lain juga ikut menonton permainan memanah itu. Zoya malu dan enggan bergabung dengan atasan nya.


"Kau mau mencoba nya? " tawar Myung-jee saat Zoya sudah bergabung dengan mereka.


"Eonnie, ayolah ikut bermain, " antusias Da-eun agar Zoya menerima tawaran Myung-jee.


"Da-eun aku tidak bisa bermain panah, "


"Hanya bermain saja, tidak harus bisa ini bukan perlombaan, " sahut Myung-jee dengan ramah nya ia menyodorkan panah beserta busur yang masih berada di kantong panah.


Lagi-lagi dengan sangat terpaksa Zoya menerima alat memanah dari tangan Myung-jee.


"Hati-hati lah, alat panah itu bisa melukai diri mu sendiri, " peringat Hye-joon yang Zoya pun berdiri di sebelah nya.


"Myung-jee, jika dia terluka aku tidak bertanggung jawab, " pekik Yee-jun dengan wajah datar nya, Myung-jee hanya mendengus geli.


"Aku tidak meminta cek mu, "


"Hyung, dia wanita pastikan tidak ada yang terluka, bibi nya sudah menitipkan pada kita untuk menjaga nya, " sahut Ryung-jae lagi.


"Lebih baik Hyung ambil kembali alat itu bisa melukai nya, " sambung Dae-ho.


"Biarkan dia mencoba, apa salah nya, " sambung Hyun-il lagi.


"Ahh kalian sangat berisik, " seru Yeon-jin berdesis.


"Tenang lah, aku sedang mengawasi nya, " jawab Myung-jee dengan santai.


"Wuuuuuuuuuu!!!!" teriakan para pegawai wanita yang tidak menyukai Zoya pun mulai ber bisik-bisik tidak suka, karena begitu sangat terlihat jelas bahwa Zoya sangat di jaga oleh atasan mereka.


Zoya menarik busur panah nya dan mencari posisi yang pas untuk membidik visir dengan sangat sempurna. "Eonnie, jangan di dengerin, " bisik Da-eun yang selalu menjadi support sistem bagi Zoya yang tanpa di ketahui sedang tersenyum kecil.


Zoya mengendurkan panah nya, Da-eun pun bingung kenapa Zoya tidak jadi melepas busur nya, "Eonnie kenapa? "


Ia tidak menjawab pertanyaan Da-eun, Zoya mengambil dua busur di kantong panah. Total yang ia pegang tiga busur anak panah langsung Zoya lepaskan dalam sekali tarikan. Dan ketiga nya menancap pada lingkaran paling kecil, dan semua orang ternganga melihat ulah yang Zoya buat.


"Eonnie, " panggil Da-eun pelan dengan tatapan kosong.


Zoya mengambil busur nya lagi dalam jumlah yang sama, Zoya menarik tiga busur nya dan melepaskan nya begitu saja tanpa ada keraguan.Dan ketiga nya menancap pada lingkaran yang sama, jumlah busur itu menjadi enam dalam dua kali tarikan.


"Bagaimana bisa sangat sempurna? " gumam Yeon-jin masih tidak menyangka.


"Woaakhhh, " seru Myung-jee berteriak dan sebagaian pegawai bertepuk tangan dengan ria. Tidak mau ketinggalan semua teman nya juga bertepuk tangan masih dengan ekspresi tidak percaya.


Sedangkan Zoya yang di beri pujian hanya menganggap hal biasa, jika buka paman nya yang pernah mengajarkan nya memanah ia mungkin tidak akan bisa. Zoya meletakkan Panah nya pada sandaran tiang pilar.


"Pak jangan berlebihan, " pinta nya tidak nyaman dengan tepuk tangan itu.


"Kenapa? kau begitu profesional sekali memainkan busur panah, " jawab Yeon-jin, Zoya merunduk tidak enak.


"Kalau begitu terimakasih pujian nya pak, "


"Zoyaaaa!!! mantapppp!! " teriak suara Yumi yang ternyata berada di ujung pagar dekat dengan visir panah.


Tanpa mereka duga, ada sebuah keributan di sebelah tempat latihan memanah itu.


"Astaga, hae-jong kuda nya mengamuk, " pekik seorang pria yang berada di peternakan kuda.Seketika seluruh pegawai berteriak berhamburan kesana kemari menghindari kuda yang terus berlari kesana kemari.


"Lory.. kuda lory mengamuk, harap semua nya menjauh dan berlari, " pekik paman Hae-jong memberi pengumuman genting.


"Pak, cepat cari tempat yang aman!!! "


"Da-eun you ikut i.. di sini bahaya, " Ryung-jae langsung menarik tangan Da-eun sementara Da-eun ingin mengajak Zoya yang kala itu hanya terdiam.


"Zoya.. berlari lah, jangan membahayakan diri mu sendiri!!! " teriak Myung-jee yang sudah berlari dengan yang lain nya.


Zoya hanya terdiam, ia membayangkan diri nya yang dulu, diri nya yang begitu liat sama seperti kuda itu yang mengamuk dan berlari kesana kemari menabrak segala apapun yang menghalangi nya. Di dalam kandang itu mungkin sangat membosan kan bagi hewan itu, hanya satu yang ia ingin kan. Berlari sama seperti kuda yang lain, dan merasakan kebebasan duniawi. Dari arah jauh, kuda itu menatap Zoya dengan sangat nyalang dan berlari menghampiri nya.


"Zoyyaaaaaaa!!! lari Zoyaaaa!! " teriak Yumi yang bersembunyi di belakang batu besar.


"Eonnie!!! "


"Zoyaaaaa!!! "


"Zoyaaaaa!! "


"Zoyaaaaa!! "


Zoya tidak menggubris teriakan itu, dalam ingatan nya ia mengingat kedua sahabat nya dahulu saat mereka bertiga bersama-sama menghadapi hal rumit dan mencoba hal baru. Terutama menjadi wanita Badas dan sangat liat, hingga suatu ketika kedua sahabat nya pergi meninggalkan nya lebih dulu. Dan hanya diri nya seorang yang harus menjalani pahit nya dunia, berstatus yang sama dan mengalami penderitaan yang sama membuat Zoya merasa di temani oleh du sahabat nya. Tapi kini hanya kenangan angin lalu.


Zoya melepas sepatu dan kaos kaki nya, kuda itu mengendus-endus dengan sangat bernafsu ingin mencelakai nya. Hembusan nafas kuda itu sampai menghempas sedikit hijab nya, dari gambaran mata yang Zoya lihat kuda itu sangat marah dan ingin melampiaskan kemarahan itu pada manusia.


Satu tangan Zoya mendarat di pipi kuda itu, mengelus nya dengan kelembutan dan kasih sayang penuh.


"Kau tau? aku juga merasakan apa yang kau rasakan, "


"Jika aku bisa, aku juga bisa melakukan apa yang kau lakukan saat ini. Namun aku harus lebih bersabar dan menahan diri ku, "


Zoya lebih membelai leher kuda itu, dan perlahan demi perlahan nafas nya mulai normal dan tidak seperti tadi. Seolah-olah hewan itu bisa mengerti apa yang di ucapkan Zoya.


"Lory, tenang lah tidak semua nya harus di selesaikan dengan kemarahan. Kau sangat perkasa , "


Perlahan-lahan Zoya melepas alat penunggang yang melekat di tubuh hewan itu, dari kepala hingga yang berada di atas punggung nya sudah terlepas. Zoya memeluk kuda itu dengan kehangatan.


"Kau sudah bebas, akan kemana diri mu? bolehkan aku ikut, " Kuda itu mengendus kencang seperti mengijinkan wanita berhijab itu ikut bersama nya.


Dengan senang hati, Zoya bisa menaiki tubuh tinggi kuda itu tanpa alat bantu. Dan dalam sekali lompatan Zoya bisa menunggangi nya meski pun ia memakai pakaian gamis.


"Haa.. apa yang Zoya lakukan? "


"Gila, ini wanita benar-benar unik, "


"Apa lagi yang dia lakukan? bahkan dia tidak mengunakan alat bantu, tubuh kuda itu juga polos tanpa ada yang melekat, "


"Menakjubkan, "


Satu persatu para pegawai dan atasan mulai berjalan keluar dari persembunyian, peternak itu juga terkejut melihat Zoya bisa menjinakkan kuda liat itu dalam hitungan detik.


Zoya masih setia mengelus-ngelus kepala kuda itu, dan menepuk leher nya dengan pelan meminta kuda itu untuk berjalan perlahan-lahan.


"Zoya.. sangat menakjubkan, "


"Wow!! "


"Cantik, "


Pujian demi pujian mereka lontarkan saat melihat Zoya menunggangi kuda di atas padang rumput, sembari menemani kuda itu mengisi perut nya yang kosong.


"Mirip panglima perang umat muslim, "


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...