Dear A

Dear A
Waktu Yang Berbeda



...Penting nya untuk mu membedakan, siapa yang datang di waktu luang dan siapa yang meluangkan waktu untuk datang.....


..._Dear A...


.......


.......


.......


.......


.......


...****************...


Siang hari berwarna kan malam, pelangi pun berwarna kan gelap. Ini kah yang dinamakan patah hati? tak ingin ku jalani cinta yang begini, yang ku mau cinta itu indah. Tidak ingin ku rasakan jiwa yang tidak tenang, ku mau kau tetap di sisi ku. Bila insan sedang patah hati..


Hari-hari yang cukup membosankan untuk nya, sabetan luka tadi masih membekas, Yee-jun benar-benar menolak nya tanpa pertimbangan apapun. Bahkan tidak memperdulikan hati nya tengah di rundung rasa sakit atau tidak. Jiwa yang tidak tenang ..


"Zoya? " seruan itu berhasil membuat nya berpaling mencari seseorang yang memanggil nya.


"Eo.. pak Hye-joon, " jawab nya linglung, padahal ini masih pukul sebelas siang, mengapa Hye-joon sudah tiba di rumah nya.


"Kenapa bapak sudah kembali dari kantor? " tanya nya, Hye-joon melihat arloji nya lalu mengulum bibir nya.


"Saya bosan di kantor, jadi pulang lebih dulu... boleh saya duduk di sini? " tunjuk nya pada kursi taman yang bersebelahan dengan Zoya.


"Pak ini kan punya bapak, ga perlu minta ijin sama saya, " jawab Zoya dengan canggung, Hye-joon mendengus senyum.


"Saya takut kamu ga nyaman duduk dekat saya, "


"Engga pak, saya bersikap seperti biasa, " Hye-joon mendudukkan diri nya di kursi taman, cuaca lagi mendung angin bergilir berhembus kesana kesini.


"Saya sering lihat kamu selalu menyendiri, apa itu karena ucapan Yee-jun yang selalu menyakiti mu?" Zoya langsung merunduk malu, ternyata aktivitas nya selama ini di perhatikan.


"Engga pak.. saya lebih senang seperti ini, " jawab nya.


"Sedikit berbeda, biasa nya gadis seumuran kamu pergi menikmati waktu masa muda nya, "Zoya tertawa geli saat melihat Hye-joon menimang-nimang fikiran nya.


" Itu karena saya sudah terbiasa seorang diri pak, makanya saya lebih suka menyendiri, "


"Benarkah? kenapa? "Zoya tersenyum kaku.


" Rahasia, "jawab nya, Hye-joon hanya bisa menghargai jawaban Zoya untuk merahasiakan alasan nya.


" Kamu suka yah sama Yee-jun? "tanya Hye-joon dengan hati-hati, Zoya mengulum bibir nya padahal ia berusaha serapat mungkin menyimpan perasaan itu, namun entah dari mana terlihat nya jika Zoya jatuh hati pada Yee-jun tanpa berbicara.


" Apa begitu terlihat yah, pak? "Hye-joon menatap Zoya sembari mendengus senyum.


" Saya tidak tau kalau bukan Jee Hyung yang mengatakan nya,sedekat itu kah kalian? "Zoya bingung akan menjawab apa, perasaan nya tengah di gandoli rasa dilema.


" Tidak.. Bang--aaa maksud ku pak Myung-jee hanya berbicara asal, "elak nya sudah hampir kelepasan, Hye-joon mengerutkan dahi nya.


" Soal kamu pernah melakukan operasi plastik, seperti nya itu bukan asal bicara, "Zoya terkejut dan langsung menatap Hye-joon dengan tatapan bertanya-tanya. Hye-joon menyerongkan tubuh nya menatap Zoya.


" Tiga hari setelah kematian anak saya? apa itu sebuah kebetulan? apa kita bertemu juga karena kebetulan? kamu tinggal di rumah saya hari ini apa itu juga sebuah kebetulan? kamu jatuh cinta pada Yee-jun juga----


"Stop pak, kenapa bapak malah menggiring opini yang membuat saya tidak bisa berkata-kata?.. lantas apa maksud dari semua ini? " dada nya naik turun, Zoya seperti orang yang habis berlari marathon dengan peluh keringan yang membasahi hijab nya.


"Saya tidak tau ini kebetulan atau memang takdir saya. Demi apapun saya tidak pernah berfikiran sampai sejauh ini, tinggal di Korea, bertemu bapak dan mengenal siapa itu Alexa, lalu saya jatuh cinta pada pak Yee-jun, apa ini? saya juga tidak mau terjebak dalam situasi ini pak, kenapa kalian semua mengurung saya? " Hye-joon menarik nafas nya dalam-dalam, Zoya terengah-engah dengan perasaan penuh emosi.


"Dengar Zoya, saya juga kesulitan melepas kepergian anak saya. Saya juga tidak pernah tau jika kita akan bertemu dalam wujud kamu yang sama persis seperti anak saya, kamu telah masuk kedalam kehidupan kami dan jatuh hati pada Yee-jun. Kamu tidak bisa keluar Zoya, jika kamu ingin pergi hati mu adalah masalah terbesar nya. Jika kamu mengatakan ini takdir, saya bisa apa?, "


"Pak, saya lelah berada di posisi ini. Jika saya di takdir kan hadir di kehidupan kalian sebagai Alexa, lantas diri saya ini kalian anggap apa pak?. Pak Yee-jun membenci saya karena dia mengira saya peniru. Jika saya tau kejadian nya akan seperti ini, saya ga akan melakukan operasi plastik itu, dan saya tidak akan pergi hari itu bersama dua sahabat saya hingga mereka tewas akibat kecelakaan, " Hye-joon seperti ingin menarik opini dari cerita kelam Zoya.


"Dua sahabat mu? seperti apa kronologi nya? "Zoya menghela nafas dan ia pasrah untuk menceritakan kronologi kecelakaan itu.


" Hari itu----


Drrrttt ddrrrrttt ddrrrttt


"Aa.. tunggu tunggu, " potong Hye-joon merogoh ponsel nya yang berdering, membuat Zoya langsung mengatupkan bibir nya.


Hye-joon beranjak dari kursi itu untuk mengangkat panggilan penting dari perusahaan nya. Tidak lama setelah nya Hye-joon kembali dengan raut wajah kurang mengenakkan.


"Maaf Zoya, saya ada panggilan penting dari kantor, mungkin saya harus kembali sekarang. Kamu tidak apakan saya tinggal sendiri? " tanya nya dengan hati-hati, dengan sedikit rasa kecewa Zoya mengangguk kan kepala nya.


"Ga papa, pak, "


"Eo baiklah.. kamu, " panggil Hye-joon pada seorang penjaga berseragam hitam. Orang itu berlari menemui tuan nya.


"Ada apa pak? "


"Tolong kamu jaga nona Zoya dan panggil kan maid untuk membantu nya. Jangan ada yang menyentuh nya kecuali maid, kamu faham, " Zoya mendengar itu pun terbelalak, mengapa Hye-joon sangat berlebihan kepada nya.


"Saya faham, tuan, "


"Pak saya bisa melakukan nya sendiri, "Hye-joon tidak menghiraukan perkataan Zoya, ia menepuk bahu penjaga itu untuk menjalankan tugas nya.


***


Sebuah pesawat kelas bisnis luar negeri sedang berada di atas awan. Myung-jee yang sedang duduk di kursi singel dengan segelas wine dan camilan ringan berada di hadapan nya, tatapan nya fokus pada koran yang memang di sediakan para pramugari. Sedangkan Hyun-il yang sangat fokus pada tablet nya yang menerangkan hasil perkembangan hotel warisan yang sedang ia jalan kan.


" Hyung, bisa aku minta wine mu, kenapa pesawat ini gerah sekali, "seru nya berseberangan dengan Myung-jee, ia menarik dasi nya yang seperti mencekik nya. Wajah nya tampak memerah dan sedikit terkejut dengan hasil yang ia Terima.


" Ada apa dengan mu, ada masalah? "Hyun-il terlihat seperti marah dan kecewa. Myung-jee yang tau perubahan sang adik mengetahui pasti ada yang tidak beres dengan perkembangan hotel nya.


" Para investor menarik investasi nya dari hotel, sekretaris ku mengatakan pegawai hotel banyak melakukan kelalaian sehingga jumlah peminat berkurang 45%, "Myung-jee terkejut mendengar berita itu, kemungkinan jumlah kerugian yang di Terima Hyun-il lumayan besar.


" Berapa jumlah kerugian nya? "


"13M, " jawab nya tidak bersemangat, cukup besar dan tidak berjalan dengan lancar.Hyun-il meremas rambut nya karena frustasi yang melanda nya cukup menguras energi.


"Hyung bisa membantu mu, "


"Tidak bisa Hyung, investor tidak akan mau kembali lagi. Aku sudah rugi cukup banyak, "


"Kita bisa cari investor baru untuk terus menjalankan hotel warisan mu, kau belum memberitahu yang lain mengenai kabar ini, "


"Aku takut mereka akan marah Hyung, karena aku gagal, "


"Aaaiisshh.. kamu memang bodoh, "Myung-jee mendesis, ia mengambil ponsel nya yang terletak di atas meja. Menyambungkan panggilan pada nomor yang ia tuju.


***


" Berapa lama kalian akan di sana? "


"Mungkin akan sedikit lama, mengenai hotel yang Hyun-il jalan kan mendapat kerugian yang cukup besar, "


"Berikan pada ku hasil nya, jika ini cukup rumit aku akan menyusul kalian ke New York. Kau fokus lah pada tujuan mu, " pinta Yeon-jin dengan tegas setelah menerima panggilan vidio call dari Myung-jee hanya untuk menyampaikan kabar buruk itu.


"Eo.. beri tahu yang lain, "


"Baiklah, "


Yeon-jin meletakkan ponsel nya di atas meja kerja nya, benar-benar cukup gerah hingga Yeon-jin pun melepas Jaz hitam nya dan mencampakkan nya begitu saja.


"13 miliyar? " gumam nya terengah-engah, ia merampas ponsel nya dan berjalan meninggalkan ruangan kerja nya.


"Dimana Hye-joon? " tanya Yeon-jin kepada sekretaris Kwang-ho.


"Presdir Jin, Pak Hye-joon sedang ada rapat dadakan dengan para direktur, "


"Berarti Ryung-jae, Dae-ho dan Yee-jun juga bersama dengan Hye-joon? "


"Benar pak, "


Tidak lama pintu terbuka dan Hye-joon bersama yang lain nya juga terkejut melihat wajah merah Yeon-jin.


"Hyung, "


"Masuk, ada yang ingin aku bicarakan, " pinta nya menyuruh mereka masuk lagi setelah para direktur yang lain sudah keluar dari ruang rapat.


"Ada apa Hyung? " tanya Dae-ho dengan penasaran.Yeon-jin bingung harus berbicara dari mana?


"Apa aku harus menyusul Myung-jee dan Hyun-il di New York? " mereka yang mendengar itu pun langsung mengerutkan dahi mereka.


"Untuk apa? " tanya Yee-jun sembari melihat arloji nya, "Mungkin mereka baru saja landing, " sambung nya.


"Katakan dulu, untuk apa Hyung ingin menyusul mereka, "


"Hyun-il mengalami kerugian besar, para investor di hotel yang ia jalan kan menarik investasi mereka. Jumlah kerugian nya cukup besar, "


"Berapa banyak kerugian nya? " tanya Hye-joon dengan sangat rasa penasaran.


"Huufffhhh... 13 miliyar, " sontak mereka langsung memegangi dada mereka karena syok dengan kerugian itu.


"Kenapa bisa investor menarik kembali investasi nya? " tanya Ryung-jae khawatir dengan hotel milik Hyun-il.


"Katanya itu semua di sebab kan kelalaian para pegawai yang banyak menyita waktu, tidak hanya satu atau dua, banyak klien yang komplain dengan cara kerja mereka yang tidak konsisten. Dalam waktu dua bulan pendapatan menurun drastis, "


"Kalau begini cerita nya, bukan kah kita harus turun langsung ke lapangan untuk membantu Hyun-il, " usul Dae-ho berinisiatif.


"Kita tidak bisa mengembalikan para investor untuk kembali berinvestasi ke hotel Hyun-il. Proses ini memakan waktu, jika sulit juga jalan keluar nya kita harus mencari investor baru, " sahut Ryung-jae memegangi dagu nya, tidak ada yang berbicara mereka terdiam dalam fikiran mereka masing-masing.


"Kita fikirkan masalah Hyun-il di rumah, sekarang ayo kita pulang, "


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...