
...Kamu hanya berfokus dengan satu luka hingga lupa di sekelilingmu banyak hal baik yang mencoba mendekat. Namun perlahan menjauh karena sifat mu yang terlalu fokus pada masalalu....
~Yeon-jin
..._Dear A...
.......
.......
.......
...****************...
Hye-joon dan Myung-jee tengah berhadapan dengan Zoya di ruangan kerja nya. Hye-joon memutuskan untuk berhadapan langsung dengan nya dan menanyakan ada urusan apa ia keluar kantor sebelum jam istirahat.
Zoya hanya bisa merunduk takut, kedua tangan nya *******-***** kain hijab nya. Ia begitu panik di pecat dari kantor karena kesalahan nya selalu keluar jam kantor.
"Zoya, " panggil Myung-jee dengan lembut, berusaha untuk tidak membuat nya takut.
"Iya Pak, " Hye-joon masih membolak-balik catatan keluar nya Zoya pada jam kantor.
"Jam 09.00 kamu keluar , padahal 30 menit yang lalu jam kantor baru di mulai, pergi kemana? " tanya Hye-joon sangat serius, sebetulnya ia tidak ingin seperti itu sama saja ia sedang berhadapan dengan Alexa dan berupaya membentak nya. Tetapi bekerja secara profesional itu adalah prinsip nya.
"Ma.. maaf Pak, tapi saya kaluar karena urusan pribadi, "jawab Zoya gugup lalu mengulum bibir nya dengan rapat.
Hye-joon melihat catatan pegawai, " Setelah jam 9,kamu pergi lagi di jam 12.40 saat satu jam sebelum jam kantor di tutup jam 16.00 kamu pergi lagi dan kau kembali setelah tiga puluh menit berlalu, ini setiap hari kamu lakukan Zoya, "Zoya tidak bisa menghentikan lirikan bola mata nya yang ia begitu tampak panik.
" Meski pun bapak melarang nya, sa.. saya tetap harus keluar Pak, "Myung-jee dan Hye-joon mengerutkan dahi nya dan saling melempar pandangan.
" Lantas? "
"Di kantor bapak memang ada ruangan ibadah, tapi itu bukan tempat saya. Saya pergi keluar karena saya haru menunaikan ibadah saya di setiap jam nya, "Hye-joon berfikir dan mengatakan nya dengan ragu.
" Maksud kamu sholat? "Zoya mengangguk pelan.
" Dimana kamu melakukan Sholat itu? "tanya Myung-jee hati-hati.
" Arah menuju rumah saya Pak, saya tidak menemukan masjid di sekitar sini. Jadi saya pergi berbalik arah, "Hye-joon menghela nafas lalu memijat pangkal hidung nya.
" Bagaimana pun juga kamu tetap salah, peraturan kantor tidak bisa kamu langgar. Maaf Zoya, kesalahan ini kamu lakukan berulang kali tanpa permisi pada atasan mu, "ucapan Hye-joon berhasil membuat air mata Zoya jatuh menetes. Hati Hye-joon dan Myung-jee bergetas hebat, apa ini? apa barusan ia sedang menyakiti hati nya atau mereka beranggapan Alexa tengah bersedih.
Melihat air mata Zoya yang jatuh, Hye-joon meremas dada nya, " Hhhhssss, "keluh nya kesakitan.
" Pak tolong jangan pecat saya, "Zoya memohon dengan linangan air mata, jelas sekali Hye-joon dan Myung-jee melihat air mata itu mengalir deras.
Hye-joon semakin kesakitan, ia terus mencekram dada dengan sangat kuat. Zoya yang melihat itu pun kebingungan, Myung-jee langsung menopang bahu Hye-joon.
" Hentikan air mata kamu, Zoya, "pinta Myung-jee kewalahan menopang Hye-joon yang benar-benar kesakitan.
" Bapak kenapa? "tanya Zoya dengan panik. Hye-joon melepas rangkulan tangan nya pada bahu Myung-jee , ia berusaha untuk bersikap tenang dan berulang kali menarik nafas dalam-dalam.
" Kau? Gak papa? "
"Aku gak papa, "
"Saya tidak memecat kamu dari kantor ini, tapi sebagai ganti nya kamu tidak boleh keluar saat jam kantor, tapi akan saya sediakan ruangan kosong untuk kamu beribadah di tempat itu, " Zoya mencerahkan sinar wajah nya. Ia terburu-buru menghapus air mata nya dan tersenyum cerah, bersamaan dengan itu nyeri di hati Hye-joon mereda seketika, denyut jantung itu ia rasakan begitu nyaman saat melihat Zoya bersinar cerah dengan ukiran senyum yang terbentuk dari bibir nya.
"Terima kasih pak, Alhamdulillah yaa Allah, " seru nya setelah itu ia bergumam penuh rasa syukur. Myung-jee membuang wajah nya dengan cepat, ia berusaha tidak menjatuh kan kristal bening nya. Senyuman Zoya mengingatkan diri nya pada wanita yang selalu ia rindukan.
"Bapak gak papa kan? " tanya nya sedikit khawatir dengan kondisi atasan nya barusan.
"Saya baik, kamu silahkan kembali bekerja. Besok ruangan nya sudah bisa kamu pakai, " Zoya merunduk dengan penuh semangat karena pekerjaan nya yang bertahan serta kewajiban nya yang semakin di ringan kan.
Setelah kepergian Zoya, Myung-jee jatuh terduduk di lantai, Hye-joon segera menolong nya dan membantu nya duduk di kursi soffa.
"Kau tidak apa-apa, hyung? "
"Mustahil kan kalau gue bilang gak papa, " Myung-jee beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan ruangan Hye-joon begitu saja. Hye-joon tidak bisa menghentikan nya, mungkin Myung-jee membutuhkan waktu untuk sendiri.
Hye-joon memutuskan untuk mendatangi ruangan Yeon-jin untuk mengatakan ia tidak bisa pergi ke gedung pemasaran, ia meminta Yeon-jin pergi menjadi wakil nya. Tidak sempat Yeon-jin bertanya kenapa? Hye-joon pergi begitu saja tanpa menunggu pertanyaan Yeon-jin selesai.
Para pegawai yang melihat Hye-joon berjalan di lobi kantor seorang diri pun mendadak mereka merundukkan bahu nya. Hye-joon tidak menanggapi, ia terus berjalan keluar kantor dan menaiki mobil yang datang di hadapan nya.
Sementara itu, Zoya tidak bisa menghilangkan kesenangan di hati nya, ia tersenyum bahagia sembari memasukkan mukena hitam nya ke dalam tas nya. Pukul 12.20,21menit lagi adzan dzuhur berkumandang. Tidak ingin menunda waktu sholat, ia segera pamit kepada Yumi yang sudah mengetahui kebiasaan nya.
"Hati-hati di jalan, Zoya. Kerjaan kamu bisa aku gantiin kok, "
"Terima kasih Yumi, nanti aku ganti, "
"Seperti biasa, " mereka tertawa bersama. Zoya segera memasuki lifh dan turun ke lobi kantor. Yee-jun yang selalu berdiri di sudut lobi tepat nya di lantai atas karena itu tempat favorit nya, melihat Zoya yang selalu keluar pada jam yang sama. Sudah lama ia perhatikan, tetapi rasa ingin tahu nya harus terbayar kan hari ini. Yee-jun yang diam-diam menghanyutkan pun memilih mengikuti Zoya dari belakang untuk mengetahui kemana Zoya pergi.
Sepanjang jalan Yee-jun terus membuntuti bus yang di naiki Zoya. Lima belas menit berlalu, sampai lah Zoya di sebuah bangunan indah memiliki tiga menara. Yee-jun memarkir kan mobil nya di laman parkir bangunan itu, baru pertama kali Yee-jun melihat ada bangunan yang menurut nya indah tapi berbeda dengan katedral yang selalu ia datangi.
Yee-jun bingung harus kemana, tidak berselang lama sebuah lantunan pun berkumandang.Yee-jun terus bertanya-tanya di tengah lantunan panggilan itu terus bersuara merdu.
"Ini yang mereka sebut adzan? tidak pernah aku mendengar nya, tapi aku merasakan perasaan aneh di dalam tubuh ku, " ia terus bergumam di samping mobil nya. Sementara jamaah yang datang semakin ramai. Jelas saja Yee-jun sudah kehilangan Zoya berada di mana.
"Hei anak muda, kenapa kau berdiri di sini. Ayolah, Tuhan sedang memanggil kita, tidak kah kau ingin datang menghadap nya? " ucap seorang pria tua yang datang dari belakang nya, mengingat kan Yee-jun untuk segera memasuki masjid. Namun pria tua itu tidak mengetahui bahwa Yee-jun seorang non muslim. Yee-jun kewalahan harus menjawab apa.
"Apa kah kau seorang mualaf? " pria itu tersenyum lembut, padahal Yee-jun belum menjawab apapun. Pria itu menggenggam tangan Yee-jun dan mengajak nya memasuki masjid.
"Aa.. paman, tunggu dulu, " Yee-jun menghentikan pria yang menarik tangan nya. Pria itu menoleh menatap nya.
"Aku akan menuntun mu berjalan ke jalan Allah Swt, " Pria itu menuntun langkah Yee-jun untuk segera memasuki masjid, ia menuntun nya memasuki area suci atau tempat berwudhu sebelum sholat di laksanakan.
Yee-jun benar-benar kebingungan, bagaimana ia harus mengatakan yang sejujur nya. Tetapi pria itu terus menuntun nya melakukan wudhu yang benar. Rambut dan lengan kemeja yang ia gulu tampak basah. Yee-jun mengibaskan rambut nya karena air di kepala nya terus menetes.
"Adzan sudah selesai, ayo kita masuk sholat akan segera di mulai, " Pria itu menuntun Yee-jun memasuki rumah Allah.
Sesampai nya di ambang pintu, Yee-jun benar-benar di buat terpelongo dengan keindahan arsitektur dalam masjid. Di ujung plafon terdapat lafadz Allah dengan ukiran arabic, lampu gantung yang begitu mewah dan berkesan indah. Namun ia kembali melihat jamaah yang ada di dalam masjid tampak berantakan dan tidak tersusun rapi. Mungkin ia sedang membandingkan jamaah yang ada di gereja yang sering ia datangi.
Yee-jun melihat tirai hijau yang membentang di tengah-tengah sahf.
"Kenapa berantakan sekali? " tanya Yee-jun pada pria itu, pria itu mendengus geli.
"Kamu lihat jamaah di sini berantakan dan tidak tersusun rapi? kamu percaya tidak pada saya bahwa jamaah di masjid ini akan berdiri rapi tidak sampai lima menit, " Yee-jun menyelis pria itu dengan cepat.
"Mana mungkin, jamaah di sini mungkin sekitar 200 orang, perlu banyak waktu untuk menyusun nya, "pria itu terkekeh geli.
"Ini pelajaran untuk mu, kamu lihat pria yang berdiri di depan mic itu? " Yee-jun mengangguk setelah melihat nya.
"Kamu akan menyaksikan keajaiban itu, " Yee-jun mengerutkan dahi nya. Ia mendengar sebuah tarikan nafas dan...
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ
Asyhadu allaa illaaha illallaah
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
Hayya 'alashshalaah
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Hayya 'alalfalaah
Begitu ternganga hebat Yee-jun dengan keajaiban yang ia lihat dengan mata kepala nya sendiri, begitu lafadz iqomah berkumandang seluruh jamaah sholat dzuhur tersusun rapi menghadap kiblat. Dari arah belakang Yee-jun berdiri tidak sedikit pun celah terlihat di antara susunan jamaah yang membentuk sahf nya begitu sempurna tanpa bantuan siapapun. Semua nya mengerti akan susunan yang benar-benar membuat Yee-jun tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
Laa ilaaha illallaah
"Beribadah lah sepenuh hati, " pesan pria itu lalu memasuki barisan sholat yang akan di mulai.
.......
.......
.......