
...Kadang suka kadang duka.....
...Ketidak berdayaan apa ini?...
...Dulu kita sangat lah dekat, tapi sekarang kita sangat lah jauh. Kamu tubuh dan aku jiwa, lalu bagaimanakah keadaan ini?...
..._Dear A...
.......
.......
.......
.......
...****************...
Setelah selesai menunaikan kewajiban nya, di luar pondok sudah sangat ramai. Bahkan Yumi dan In-na sudah lebih dulu keluar dari pondok mereka karena tidak ingin mengganggu khusyu'kan Zoya dalam beribadah. Sudah Zoya sadari dan ia duga-duga, malam ini pasti mereka membuat acara makan daging panggang. Jelas ia tidak bisa bergabung, sudut hati nya merenung ia tampak enggan bergabung dan berkumpul. Tidak begitu nyaman berada di keramaian, Zoya ingin sendiri di dalam pondok ini.
"Huuuffffhh, " ia hanya bisa menghela nafas sembari melipat kembali sajadah dan mukena yang ia pakai.
Sementara di dalam pondok Hye-joon, ketiga adik nya masih saja berkutik dengan handphone karena sangat serius memainkan game online yang membuat ketiga nya lupa akan waktu.
"Yaaa!!! cepat lah mandi. Atau Hyung sita handphone kalian semua, " teriak Jin hyung, sementara Da-eun yang sudah harum dan segar kembali bersiap-siap keluar dari pondok dan mencari Zoya.
"Abang, i mau ke pondok eonnie Zoya, "Ryung-jae masih terus melihat layar handphone nya samapai mata nya hampir keluar.
" Hmm... you udah mandi, "
"You yang belum mandi, i udah segar, " seru nya berlari kecil membuka pintu pondok dan menghilang.
Yeon-jin yang sangat kesal karena perkataan nya tidak di dengar, langsung saja menarik telinga Ryung-jae dan Dae-ho dengan kedua tangan nya.
"Aaa.. hyung masih main nih, nangung bentar lagi menang, " keluh Dae-ho, tidak memperdulikan wajah Yeon-jin yang sudah membara.
"Game yang kalian fikirkan, sementara semua orang sudah ramai di luar pondok membuat api unggun dan persiapan untuk bakar daging, "sontak Hyun-il langsung menatap Yeon-jin.
" Sungguh? "
"Cepat mandiiiiii!!! " teriak nya lagi hingga membuat telinga mereka pengang.Myung-jee dan Hye-joon baru saja selesai mengganti pakaian mereka di kamar. Setelan santai pun sudah melekat, Myung-jee menggosok-gosokkan lengan telapak tangan nya agar parfum yang baru ia semprot nya tercium harum.
"Apa mereka sedari tadi masih memainkan game nya saja? " tanya Myung-jee
"Iya, "
"Cepat lah kalian bersiap, sebentar lagi kita akan berkumpul di luar,malam ini langit sangat cerah kita bisa melihat bintang dan bulan, " seru Hye-joon merapikan sedikit sisiran rambut nya.
"Eo.. baiklah, " akhir nya mereka bertiga menurut dan memasuki kamar nya masing-masing dengan wajah mencetut.
"Joon, apa kau membawa lip balm? " tanya Yee-jun yang baru keluar dari kamar nya.
"Eo.. ada di dalam kamar ku, apa kau lupa membawa milik mu, hyung? "
"Iya.. aku tidak mengingat nya, " seru nya sambil membuka kamar Hye-joon.
"Hyung, benar kah malam ini kita akan membakar daging? " tanya Myung-jee duduk di sebalah Yeon-jin.
"Biasa nya juga seperti itu, kenapa kau bertanya lagi? bukan kah itu sebagai menu utama saat kita pergi berlibur? " tanya Yeon-jin mengerutkan dahi nya menatap Myung-jee.
"Kalau tahun-tahun yang lalu, it's okay tidak ada masalah. Apa kau tidak ingat Zoya itu seorang muslim? " Hye-joon dan Yeon-jin sontak langsung terdiam dan bingung harus berkata apa.
"Tapi Jerry sudah menyiapkan persediaan makanan daging babi semua, " jawab nya di lema.
"Setau ku, muslim itu tidak sembarangan. Bukan hanya makanan nya saja yang harus halal, tetapi alat masak nya juga harus di perhatikan, " sambung Hye-joon, Yee-jun yang berada di balik pintu pun juga mendengar percakapan itu dan ia berjalan untuk ikut bergabung.
"Desa ini lumayan jauh dengan kota, bagaimana kita mencari nya. Akan terasa aneh jika kita menganak tiri kan satu pegawai yang hanya karena berbeda agama dengan kita, " jawab Yeon-jin.
"Aku dengan di desa ada seorang penjual daging sapi, kenapa tidak mencoba nya? " sambung Yee-jun tiba-tiba.
"Benarkah? "
"Aku akan menyuruh anak buah ku untuk mencari nya, " sahut nya lagi, wajah nya terkesan tidak perduli namun hati nya tetap memiliki nurani tinggi.
"Eo.. kalau begitu kita butuh berapa? " tanya Myung-jee lagi.
"Beli saja sebanyak yang paman itu jual, aku, Hyun-il, Ryung-jae dan Da-eun menyukai daging sapi, " sambung Yee-jun dengan santai nya.
"Jadi aman kan untuk itu? "
"Aman, "
***
Di tengah susunan pondok berluter U, bersusun meja-meja memanjang dan di sana lah mereka duduk untuk menikmati hidangan daging panggang. Zoya yang baru masuk untuk berkumpul pun memandang daging itu dengan ragu.
"Jangan khawatir, percaya lah saya membelikan banyak daging sapi agar kamu bisa ikut memakan nya, saya juga mengorbankan alat dapur yang masih baru, hanya saya untuk memanggang daging sapi itu, " jawab Yeon-jin yang ternyata duduk di meja nya, karena Da-eun yang membawa nya. Sementara Yumi dan In-na berada di meja paling ujung, dan mungkin ia tidak tau kalau Zoya juga ikut bergabung.
"Eonnie kenapa? "Da-eun menatap Zoya dengan menyamping kan kepala nya. Sementara yang duduk di meja itu sudah menyantap makan malam itu.
Yaa Allah, kenapa lagi ini? kenapa aku gelisah banget, kenapa badan ku tiba-tiba lemas. Aku gak nyaman, Yaa Allah jangan datang kan sekarang..
Zoya terus menggumam dalam hati, bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Da-eun dan Yeon-jin. Zoya semakin merunduk, hal itu membuat Hye-joon dan yang lain nya menjadi bingung. Myung-jee pun tidak sempat mengunyah daging selanjut nya. Myung-jee melihat satu tangan Zoya masih mengangkat sumpit, tidak ada yang aneh. Tapi ada apa dengan Zoya?
" Kamu kenapa? "tanya Hye-joon sedikit khawatir, tidak ada jawaban. Ada setetes air yang membasahi gamis orange nya, dan itu dapat Da-eun lihat.
" Eonnie kok nangis? "tanya Da-eun merapat kan duduk nya.
" Enggak, "jawab Zoya singkat namun dengan nada yang di biasa nya. Tidak ada yang menyadari itu, semua pegawai asik dengan hidangan dan alkohol yang tersedia, tempat itu begitu riuh dan berisik.
" Eonnie, "
"Ada apa dengan mu, katakan saja, " seru Hyun-il meletakkan sumpit nya di atas piring. Tanpa sengaja Myung-jee yang duduk di sebelah Hyun-il melihat tangan Zoya yang sedang memegang sumpit bergetar. Dan saat itu juga Zoya mengangkat wajah nya.
"Kamu kepanasan? bukan kah cuaca di sini normal? " Ryung-jae bertanya-tanya saat melihat wajah Zoya penuh dengan keringat.
Mereka tidak mengerti dengan Zoya yang tiba-tiba tidak tau apa penyebab nya bisa merubah suasana hati nya. Yee-jun hanya memperhatikan itu semua, dan ia faham apa yang terjadi dengan Zoya.
"Kamu punya penyakit jiwa? " tanya nya langsung, dan mereka yang mendengar tercengo.
"Ha? maksud lu apa, hyung? " tanya Dae-ho kebingungan.Saat mendapat pertanyaan itu, Zoya seperti menggigil kedinginan, ia menggenggam erat tangan nya hingga membiru.
Yaa Allah tolong aku, tolong aku, ini sangat menyiksa ku..
"Zoya? are you okay? " tanya Myung-jee tampak panik. Zoya tidak sanggup menjawab, ia berniat pergi dari tempat itu dan berusaha menenangkan diri nya sendiri. Mereka melihat pergerakan Zoya terburu-buru ingin meninggalkan tempat itu.
"Eonnie.. eonnie mau kemana? " Da-eun ingin sekali mengikuti nya tetapi Myung-jee menahan pergerakan nya.
Zoya berjalan tanpa arah, bukan kedalam pondok nya melainkan kesuatu arah menuju tempat gelap. Berkali-kali ia meringis dengan tegang dan menyiksa. Zoya melupakan akan pesan Tessa yang sudah meletakkan obat penenang untuk nya.
Hye-joon dan yang lain nya hanya bisa memperhatikan Zoya dari belakang yang bahkan ia kesulitan melangkahkan kaki nya. Dari arah belakang juga, Yumi melihat Zoya yang sangat tidak asing di pandangan nya. Dengan cepat Yumi berlari.
"Zoya, hei mau kemana? " Yumi merangkul bahu Zoya dengan riang nya. Sementara sang empu terus terdiam menahan siksaan emosi dari dalam tubuh nya.
Yumi menyadari keadaan teman nya sangat lah tidak biasa, "Zoya.. Zoya kamu kenapa? " tidak mendapat jawaban, perlahan-lahan Zoya menurun kan tubuh nya dan terus menggeram seperti orang kesakitan. Yee-jun yang melihat itu sontak langsung berdiri dari tempat, dan meminta Ryung-jae melepaskan jaket yang ia pakai malam itu.
"Untuk apa? "
"Cepaattt!! " teriak nya hingga membuat semua pegawai terdiam membeku. Bersamaan dengan itu Zoya mulai menangis dan...
"Kyaaaaaaaaaaaa!!!!!! "teriakan itu sangat melekit dan menyakit kan, Yee-jun menutupi seluruh kepala Zoya dan berusaha mendekap nya agar ia tenang,seketika tempat itu menjadi tempat yang heboh dan menghebohkan. Yumi kalang kabut, ia sangat panik dan berupaya mencari obat penenang itu di dalam lemari pribadi Zoya.
" Kyaaaaaaa!!! "teriak nya lagi dengan isak tangis, Yee-jun berusaha mendekap Zoya yang lagi-lagi kehilangan kendali. Dada nya sampai naik turun, percaya lah berada di posisi Zoya sangat lah tidak mudah. Anxiety yang ia derita sangat lah parah dan terus bersarang di dalam tubuh nya.
Hye-joon dan yang lain nya tidak tega melihat Zoya yang sangat menderita. Da-eun berlari memeluk Ryung-jae karena ia juga takut dan tidak tega sudah melihat Zoya yang kedua kali nya dalam kondisi seperti itu.
" Tidak akan terjadi apa-apa? okay.Kamu kuat, kamu kuat, "bisik Yee-jun di telinga Zoya agar wanita itu tetap tenang, Zoya berhenti menangis dan bergumam, nafas nya terengah-engah seperti kelelahan.
" Tidak ada apa-apa di sini, anggap tempat ini tidak ada orang, "saat Yee-jun tidak mendengar gumaman Zoya, ia bersedia mengangkat tubuh ringkih itu kedalam pelukan nya. Demi apapun, Yee-jun berniat untuk menolong nya bukan untuk mendapat keuntungan, demi apapun juga Yee-jun berusaha untuk tidak menyentuh kulit nya.
Yee-jun bersikap seperti itu karena ia tau, penyakit itu tidak bisa di anggap remeh. Jika sudah parah apalagi melampaui batas bisa sangat berbahaya untuk diri nya dan juga orang yang ada di sekitar nya.
Aku hanya menolong mu, tidak lebih dari itu..
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...