Chasing My Uncle'S

Chasing My Uncle'S
Bab 6



"Biasalah anak muda." berjalan santai menenteng jaket levisnya keluar dari pintu rumah.


"Ingat. Jangan pulang larut malam, paman sendiri yang akan menyeretmu." seru Lee tak ada sahutan lagi.


Hish.... "Anak itu. Pasti dia mau berulah lagi." gerutu Yoora entah darimana datangnya.


"Cepat sekali kamu mandi nya. Belum juga lima menit." ujar Lee.


Yoora tersenyum manis sembari melahap makanan yang ada di sendok Lee


"Kamu memakai parfum berapa botol. Menyengat sekali." ujar Lee mengibaskan tangannya.


"Hmm. Banyak, karena aku lupa mandi, cuma mencuci muka saja." santainya mencium aroma tubuhnya sendiri.


"What? seharian kamu tidur dan sekarang bilang tidak mandi." Lee begitu frustasi mendengarnya.


"Iya. Nggak masalah kan, tubuhku tetap wangi, mau cium ketiak ku tidak." ucap Yoora mendekati pamannya.


"*I*ni yang mereka bilang anak anak penurut. Dua duanya bikin kepalaku pusing, astaga untung keponakan sendiri." batin Lee bertambah frustasi memijat pelipis nya pelan.


Di tengah tengah aktivitas mereka ponsel Yoora bergetar.


"Siapa sih! ganggu orang lagi makan." Yoora melirik layar ponsel nya terdapat beberapa pesan dan dua puluh panggilan masuk tanpa ada jawaban atau balasan.


Drett...Drett...Drett...


"Kenapa tidak di angkat?


Siapa tau penting?


tanya Lee melihat raut wajah gadisnya terlihat tidak kesal.


Yoora menatap pamannya acuh. "Tidak penting, kau lanjutkan saja makanmu, anggap saja tidak mendengar nya." sedikit membanting ponselnya ke atas meja.


"Keponakan kesayanganku cepatlah angkat." titah Lee merasa terganggu.


No!


Melemparkan ponselnya ke sofa, padahal posisinya lumayan jauh dari meja makan.


"Wow. Tepat sasaran, ponselku jauh ada disana, kau tidak akan terganggu lagi." Yoora bertepuk tangan hebat.


Hal sederhana akan membuat Yoora bahagia, ia selalu tersenyum, bahkan jarang menunjukkan sisi lain dari dirinya ke orang lain ia selalu bersikap ceria dimanapun berada, Yoora menjadikan pamannya sebagai teman ceritanya sehari hari.


"Kamu nggak takut ponselmu terjatuh. Terus rusak, orang tuamu tidak akan membelikan lagi untukmu, udah kesekian kalinya kau berganti handphone." ujar Lee menggeleng kan kepala melihat tingkah keponakan nya.


"Dikira cari uang itu gampang apa? setelah lulus kuliah nanti kamu harus cari kerja." celetuk Lee menempatkan sendok garpu nya secara tertata.


Oooh... "Soal itu, masih jauh lah, lulus SMA aja belum, apalagi kuliah, masih di bawah pemikiranku." ujar Yoora.


*


*


*


🌿🌿🌿


Esok harinya dua orang berdebat tepat di depan pintu kamar Lee, seketika ia terbangun padahal matahari belum menunjukkan sinarnya.


"Baru pulang. Masih ingat rumah, lihatlah ini jam berapa?" seru Yoora menyilang dada di depan pintu kamarnya menatap tajam


"Jam empat pagi." jawab Jung Hwa menunjukkan layar ponselnya ke Yoora.


"Itu wajahmu kenapa? berantem lagi, Pappy bisa marah kalau tau." ucap Yoora sengaja menepuk kedua pipi saudara kembarnya.


Agrh...


"Pappy tidak akan tau jika kau menutup mulutmu." ujar Jung Hwa meninggikan suaranya.


"Hei. Aku ini bicara baik baik padamu, kenapa jadi marah marah? mau ku tambahi lagi luka memar di wajahmu, hah!" ucap Yoora menekankan kata katanya menyorot tajam.


Perdebatan itu terus berlanjut hingga satu jam berlalu.


Uncle...


A aduh sakit...


pekik Yoora ketika sebelah telinganya di jewer oleh seseorang di belakangnya.


Haa...Haa...


"Rasain tuh! paman, a aah! aduh!


pekik Jung Hwa ia juga ikut merasakan hal yang sama dengan saudara kembarnya, bagi Lee mereka berdua itu satu paket, sama sama menyebalkan juga cerewet.


BERSAMBUNG