
"Hei. Malah bengong, katanya tadi mau cerita." seru Seo Jun memukul brankar Yoora.
"Tidak jadi. Suasana hatiku tidak baik, lain kali pasti aku aja." ujar Yoora terpejam menenggelamkan kepalanya ke bantal kemudian duduk kembali.
"Yoora. Kamu mau kemana?" tanya Ga Eun membantu sahabatnya turun ia menahan Yoora yang mau mencabut selang infus nya.
"Aku tidak butuh ini lagi." ujar Yoora meringis ketika selang infusnya ia cabut, walaupun pelan tapi masih terasa sakit.
Drettt Drettt Drettt
Yoora: Hallo? iya pak? sebentar lagi aku turun.
Sebelumnya Yoora memesan taxi ia memutuskan untuk menyusul kedua orang tuanya ke luar kota tanpa sepengetahuan siapapun.
"Sorry. Aku pergi tanpa pamit, nanti aku pasti balik lagi kesini." gumam Yoora di dalam mobil taxi.
"Jalan pak?" pintanya pada supir.
Busan
Disisi lain sepasang suami istri sedang bermesraan di taman belakang, sedangkan Yoora mindik mindik bermaksud untuk mengagetkan mereka.
"Hmm. Aku kagetin mereka aja, tapi nanti terkena karma mengerjai orang tua." gumam nya malah duduk termenung di depan pintu.
"Uncle. Ada apa dengannya, apa dia marah padaku, tetapi rasanya ada yang aneh, kenapa aku tidak bisa berjauhan darinya." batin Yoora teringat Lee.
"BABY. Sepertinya aku kenal anak itu." ucap Kevin pada wanita di sampingnya.
"Memang iya. Itu Yoora putri kita masa kamu lupa, ayo!" seru Hana mengajak sang suami untuk menghampiri anaknya.
Bukan orang tuanya yang terkejut, malah sebaliknya.
"Pappy. Mommy?" gumam Yoora dikala kaget.
"Hmm. Anak Pappy datang datang langsung murung, ada apa?" tanya Kevin duduk di sampingnya merangkul putri tercintanya.
"Pasti karena pamanmu yang pergi." lanjutnya membuat Yoora menganga tak percaya.
"Serius dia pergi kemana?" tanya Yoora menyerngitkan dahinya.
Kevin memegang dahi putrinya agar tidak melakukan itu lagi.
Pyarrr....
Segera Kevin menarik tangan istrinya dan Yoora agar tidak sampai terkena mereka.
"Pappy." ujar Yoora ketika Kevin kakinya berdarah gara gara pecahan beling itu.
"My Prince. Kamu." seru Hana tak kalah khawatir.
"Tidak apa apa. Cuma tergores sedikit." ujar Kevin.
Hana segera mengajak suaminya untuk mengobati lukanya, sedangkan Yoora ia menundukkan kepala nya merasa bersalah.
Kevin mengusap rambut putrinya lembut. "Pappy tau kamu sayang sekali sama pamanmu. Tapi dia juga punya urusan sendiri di sana." ucapnya.
"Kelihatannya putri kita lebih sayang sama pamannya daripada orang tuanya sendiri." seru Hana yang sedari tadi diam.
"Mommy. Jangan bilang begitu, aku lebih sayang kalian berdua." ucap Yoora berlutut mendongak kan wajahnya meraih kedua tangan orang tuanya.
Hana tersenyum menatap suaminya ia cuma berniat bercanda tapi hal itu membuat putrinya merasa bersalah.
*****
Di dalam kamar
Yoora termenung menyendiri di balkon menatap pemandangan langit malam, udaranya terasa dingin.
"Uncle. Kapan kau kembali, baru juga di tinggal sebentar udah kangen, dunia sepi tanpa kehadirannya." gumam Yoora terus menerus mengecek layar ponselnya berharap orang yang ia pikirkan menghubunginya.
"Aish! ada apa denganku." ujarnya menepuk dadanya ia mengingat perkataan Lee pagi tadi.
Drettt Drettt Drettt
"Uncle." gumam Yoora segera menerima panggilan.
Yoora: Uncle, kenapa kamu pergi tanpa pamit, aku kangen tau, setidaknya temui aku sebelum.
~>> Hei! kau bicara apa? ini aku sahabatmu.
BERSAMBUNG