
"Kenapa kalian terus melihatku. Kan tadi udah dijelaskan semuanya, sebabnya kita jatuh didalam." celetuk Yoora tatapan semua orang tertuju padanya.
"Tidak, tidak bukan itu." ujar Ga Eun menggeleng.
Lalu apa?
tanya Yoora mengangkat kedua bahunya.
"Kamu terlihat berbeda hari ini." seru Seo Jun datang dari belakang mereka.
Yoora melihat dirinya sendiri di depan kaca jendela rumahnya.
"Tumben sekali seorang Yoora berdandan. Biasanya juga kamu paling malas kalo kita bahas soal itu." timpal Jung Hwa membulatkan matanya.
Apa aku tampak aneh dengan gaun ini?
Serentak sahabat sahabatnya mengangguk bersamaan.
Mengambil ponsel melihat wajahnya sendiri. "Perasaan aku cuma sedikit memakai riasan." gumam Yoora heran.
"Sedikit apanya. Itu bibirmu merah merona begitu, sebelumnya kamu udah pernah kan." seru Song Hwa menyatukan kedua jari telunjuknya.
"Pernah. Apa maksud perkataan mereka, apa yang aku lakukan pada bibirku." batin Yoora tak mengerti.
"Hei kalian, mau sampai kapan terus ngobrol, ayo!" ajak Kevin membukakan pintu untuk mereka.
"Thanks. Pappy." ucap Yoora mengecup sekilas sebelah pipi ayahnya.
"Sama sama sayang, hati hati kepalamu." menaruh tangannya diatas rambut putrinya.
Di perjalanan...
Mereka pergi menggunakan dua mobil besar, Kevin dan Hana satu mobil bersama Jung Hwa, So Ju, hal itu membuat Yoora merasa tak nyaman berada di tengah tengahnya.
"Hei. Cepat kita tukeran tempat duduk." pinta Yoora berbisik ke telinga Jung Hwa.
Brakk...
Yoora menghentakaan kakinya keras kesal tak di perdulikan oleh saudaranya.
"Sayang. Kamu ini kenapa?" tanya Hana pada putrinya.
"Biasa mom. Dia menggangguku." ucap Jung Hwa.
"Mommy. Itu bohong, jangan percaya padanya." seru Yoora.
Yoora dan Jung Hwa terus berdebat, di antara keduanya tidak ada yang mau mengalah.
Sedangkan orang tuanya hanya bisa mengusap dadanya, sama halnya So Ju ia juga frustasi karenanya.
Yoora kelelahan ia tertidur di dalam mobil bersandar di bahu So Ju dengan merangkulkan tangannya ke lengan.
"Jung Hwa. Sebentar lagi kita sampai di bandara, kamu bangunkan kakakmu." ucap Hana pada putranya.
"Siap mom." ucap Jung Hwa mengiyakan.
Tapi Yoora tertidur begitu pulas sehingga ia tak bisa merasakan panggilan dari Jung Hwa yang terus menepuk pipinya.
"Hei. Bangun, kerjaannya tidur aja." ujar Jung Hwa tak ada reaksi.
"Mommy nggak mau tau. Bagaimana pun caranya kamu harus bisa membangunkannya." ucap Hana melirik kebelakang.
"Hei. Kutup utara, bantu aku." bisik Jung Hwa pada So Ju yang menatapnya santai, tak ada niatan sama sekali untuk membantunya.
"Hmm. Diminta tolong dia malah pura pura tak tau." gerutu Jung Hwa kesal.
*****
Yoora terbangun membuka matanya lebar lebar terduduk bingung dengan suasana sekitarnya berubah.
"Tempat apa ini. Sepertinya tak asing." gumamnya melihat sekeliling.
Waah... "Ternyata sekarang aku berada di dalam pesawat. Siapa yang berani membawaku kemari." gumamnya bertanya tanya berjalan menuju pintu pintu.
Kenapa tidak bisa dibuka?
Aaaaah.... Apa jangan jangan aku diculik?
menggedor gedor keras pintu kamar yang terbuat dari baja.
Siapapun diluar tolong aku?
"Buka pintunya, kalo berani sini hadapi aku, dasar pengecut." teriak nya mondar mandir disana sembari menggigit kuku jarinya.
Sepuluh menit kemudian pintu baru terbuka secara otomatis.
Sesosok laki laki berdiri membelakangi gadis yang melihatnya penasaran.
Siapa kamu?
Yoora berjalan mendekatinya untuk melihat wajah pria itu.
Lelaki itu menoleh membalikkan badan tersenyum menatap gadis di depannya, Yoora dibuat terkejut olehnya ia langsung menghambur memeluk tubuhnya erat.
"Uncle. Ternyata kamu yang menculikku." gumamnya tersenyum manis.
BERSAMBUNG