Chasing My Uncle'S

Chasing My Uncle'S
Bab 18



Semua orang disana menatap Yoora seakan sedang menginterogasi, entah mengapa ia bingung harus jawab apa, mulutnya begitu kikuk sehingga sulit untuk mengatakan sepatah kata pun.


"Aduh! ada apa denganku, kenapa aku diam saja, apa benar aku punya perasaan lebih ke uncle, setiap dekat dengannya aku merasa nyaman, dia sangat tampan dilihat dari sisi manapun." batin Yoora.


Yoora...


Eum... iya mom?


"Tentu saja tidak, kalian ini ada ada saja, mana mungkin aku mencintai orang yang lebih tua dariku, Pappy masih ingat kan bagaimana tipe lelaki idamanku." jawab Yoora berkata santai agar tidak ada yang mencurigainya lagi.


Seusai menjelaskan semuanya Yoora menarik tangan Jung Hwa mengikutinya ke dalam kamarnya.


"Hei. Kau kasar sekali padaku, sakit tau, aku curiga sebenarnya kamu ini lelaki cuma bedanya ada gunung kembar di dadamu." seru Jung Hwa menunjuk ke d*d* saudara kembar nya.


Pukulan keras mendarat ke kepala saudara kembarnya. "Itu mulutmu bisa di jaga, main ceplos aja, lama lama aku beri pelajaran berharga untukmu." ujar Yoora membungkam bibir saudara kembarnya ia segera menutup pintunya kemudian mendorongnya ke atas sofa.


Apa yang akan kamu perbuat?


Jung Hwa menutupi junior nya saat melihat tingkah bar bar kembaran nya sembari menggeleng pelan terlihat ada rasa takut dari wajahnya.


Haa...Haa...Haa. "Lihatlah wajahmu, sebagai lelaki harus berani apalagi soal perempuan, terkecuali aku sama Mommy." ujar Yoora tertawa tanpa suara memegangi perutnya.


"Hei... ternyata kamu mengerjaiku, aku tidak pernah takut denganmu, meskipun kemampuan bertarung kamu lebih jago dariku." ujar Jung Hwa mencekal tangan Yoora tepat di bekas infusnya.


Akgr...


Akibat kabur dari rumah sakit Yoora masih merasa sakit di area tangannya karna ia langsung menarik selang infus itu kasar.


Agrrrr...


Pekiknya menepis kasar tangan yang menggenggam erat di pergelangan tangannya.


"Upss. Sorry, apa itu sakit?" ucap Jung Hwa segera melepaskannya.


Sejenak memejamkan kedua matanya. "Menurut mu." menekan kan nada bicara nya.


Mianhae...


"Ya udah sini aku elus elus." ucap Jung Hwa tulus ingin kembali meraih tangan Yoora tapi segera di tepis kasar oleh nya.


"Berhenti menyentuh tanganku dan menjauhlah dariku." bentaknya menatap tajam.


Mian... mianhae...


"Katanya mau bicara. Ayo! cepat katakan, mumpung aku masih ada waktu." ujar Yoora.


"Hmm. Santai, buru buru sekali, dikasih minum atau apa gitu, tenggorokanku kering nih!" Jung Hwa memegangi lehernya melirik sana sini.


"Tunggu sebentar." tak lama kemudian Yoora datang menghampiri nya di balkon kamarnya memberikan susu coklat pada Jung Hwa.


"Thanks. Kamu baik sekali." ucap Jung Hwa tersenyum manis.


Yoora memutar bola matanya malas duduk di samping saudaranya.


"Kamu mencintai paman." to the point nya.


Burrff...


Menyembur jus jeruk ke wajah saudara kembar nya.


Haissss... jebal...


"Kau jorok banget." umpatnya dengan ekpresi jijik.


Tak mau disalahkan ia ke dalam kamarnya untuk mengambil tissue diberikan ke Jung Hwa ingin membantu membersihkan nya.


"Aku bisa sendiri." tolaknya menyerobot tissue dari tangan mu.


Kamu mau kemana?


"Aku belum selesai bicara." tanya Jung Hwa kembali mencekekal tangannya.


"Mataku mengantuk mau tidur, besok aja, kau tidak lihat itu sekarang jam berapa?" menunjuk ke arah dinding kamarnya.


"Ya udah sana keluar, ngapain masih disini." Usir nya langsung mengunci pintu dari dalam.


Tok tok tok...


"Yoora. Buka pintunya." teriak nya di depan kamarnya.


"Sayang. Apa yang kamu lakukan disini." sapa Kevin menghampiri putranya.


Hmm..."Cuma mau memberikan sesuatu untuknya, tapi malah dia mengusirku." bohongnya.


BERSAMBUNG