Chasing My Uncle'S

Chasing My Uncle'S
Tak Percaya



"Kau tidak mengenalku. Aku ini." ujar So Ju.


"Sudah tau." sahut Yoora terdengar dingin.


"Baguslah kalo begitu. Jadi kita tak perlu berkenalan lagi." ucap So Ju tersenyum.


"Sok manis. Senyuman itu tidak cocok di wajahmu." celetuk Yoora menyeringai.


"Memang aku manis. Dan juga tampan." ucap So Ju percaya diri.


Yoora memutar bola matanya malas. "Waah! Iya kau tampan tapi kalo di pandang dengan mata tertutup." ujar nya.


"Thanks. Kau adalah sekian dari perempuan yang memujiku tampan." ucap So Ju.


"Hei! siapa yang memujimu? hah!" seru Yoora mulai kesal.


"Ternyata benar perempuan kalo sedang marah itu semakin terlihat mempesona." ucap So Ju.


"Apa kau bilang? coba kau katakan lagi." ucap Yoora setengah berteriak.


Sebuah bantal melayang, tepat sekali mengenai wajah seseorang yang baru saja datang hingga sedikit terpental karena kaget.


"Upss! nggak kena." bisik So Ju pada gadis yang berada dibalik selimut itu kemudian segera kabur dari sana.


"Bukan aku. Tapi dia." ucap Yoora tanpa tau ia kini sedang berbicara dengan siapa.


Seketika selimut yang menutupi wajah Yoora di tarik.


"Uncle." panggil Yoora pelan.


Lee Tae Yeong menatap dekat wajah keponakannya, membuat jantung Yoora berdegup semakin kencang.


"Apa benar kau ini keponakanku?" tanya Lee.


"Bukan." jawabnya.


Lee mengerutkan dahinya seakan bertanya tanya.


"Berarti kau kekasih ku. Mustahil jika aku mengencani keponakan sendiri." gumam Lee.


"Lalu kau siapa? istri atau tunangan." tanya Lee lagi.


Haa...Haa...Haa. "Namaku Kim Yoora. Gadis kesayanganmu, paman sendiri yang selalu mengatakannya padaku, tak berjumpa tiga tahun membuatmu amnesia." ucapnya.


"Kamu tau darimana? tidak ada yang tau selain So Ju dan ayahmu." ujar Lee.


"Uncle. Ini sama sekali bukan lelucon, mana mungkin kau amnesia, buktinya kau masih mengingatkanku." ujar Yoora tak percaya.


"Sebentar. Uncle bilang apa tadi? Pappy tau soal apa?"


"Soal kecelakaan yang menimpaku waktu itu." ucap Lee dengan entengnya.


"A-apa? k-kecelakaan." ucap Yoora semakin dibuat tak mengerti.


Akhirnya Lee menjelaskan semuanya yang menimpanya, tiga bulan lamanya koma, setelah sadar ia tak mengingat apa apa.


"I-itu tidak mungkin. Kau sangat pandai berbohong, semua yang keluar dari mulut mu itu tak nyata, kau bahkan mengingkari janji, dan sekarang kau mencari amnesia sebagai alasan nya." ujar Yoora masih tak percaya.


"Up to you. Ayahku tau betul apa yang sedang menimpaku." ucap Lee mengangkat kedua bahunya acuh.


"Pappy." gumam Yoora mulai menitihkan air mata.


'Jadi. Tiga tahun paman menghilang, ternyata dia kecelakaan, dan Pappy, dia menyembunyikan semuanya dariku.' batinya.


"Kamu mau kemana? apa yang kau lakukan?" tanya Lee mencekal tangan keponakan nya yang ingin mencabut selang infusnya.


"Pulang. Lagi pula ini sudah malam, mereka pasti sekarang khawatir mencariku." Yoora menuruni tempat tidur namun terjatuh.


Dengan sigap Lee langsung meraih pinggangnya, sontak hal itu membuat Yoora terkejut, pasalnya wajah keduanya hanya berjarak satu centi.


Cukup lama mereka saling memandang satu sama lain, Yoora sampai menahan nafasnya bermaksud untuk menghentikan degup jantungnya yang berdetak begitu kencang.


"Lama lama jantungmu bisa terlepas jika berdekatan denganku." ucap Lee tersenyum tipis sedikit menggoda.


"Aku memang keponakanmu. Tapi kau jangan seenaknya memelukku." tegas Yoora mendorong pelan dada bidang Lee, lalu melepaskan diri darinya.


BERSAMBUNG