
"Hei! kemana saja kau. Hampir saja aku mau menyeretmu dari sana." ujar Lee menyambut kedatangan dokter dengan raut wajah kesal.
"Aku cuma terlambat satu menit. Kau ini cerewet sekali, aku lihat kau baik baik saja, lalu untuk apa kau memanggilku kemari." seru Kwak Hyun mengitari sahabatnya itu.
"Bukan aku yang sakit. Tapi itu, teman So Ju, kau langsung masuk saja ke ruang medis pribadiku." ujar Lee.
"Baiklah. Apa dia perempuan? woah! jangan jangan itu pacar barumu, kau ini semenjak kejadian." celetuk Kwak Hyun.
Lee mendorong tubuh sahabatnya masuk ia tuntun ke dalam agar tidak terlalu banyak bicara.
"Cepat. Periksa dia?" titah Lee.
"Oke." ucap Hyun melirik Lee berjalan menghampiri perempuan yang berbaring lemas di sana.
"Paman Hyun. Tolong bantu Yoora, lengannya terluka parah." ucap So Ju menarik nya agar lebih mendekat.
"Baiklah. Kamu tenanglah, aku akan segera menangani nya." ujar Hyun.
Kwak Hyun memeriksa luka robek Yoora, terlebih dahulu ia membersihkan dan menghentikan pendarahan nya.
"Yoora. Bukankah dia putrinya Hana." gumam Lee setelah melihatnya lebih dekat.
Agrh...
"Paman? Lee?" panggil So Ju dan Kwak Hyun serentak kaget segera menghampirinya.
"Tolong bantu pamanmu ke sana." ucap Hyun menunjuk ke kasur yang bersebelahan dengan Yoora.
"No. Aku cuma butuh istirahat sebentar, kalian tak perlu khawatir." tolaknya Lee melepaskan tangan yang menahannya.
"T-tapi paman. Apa kau yakin." ujar So Ju.
"Pamanmu bukan pria lemah yang setiap terus menerus di bantu." ucap Lee duduk di sofa membaringkan tubuhnya disana.
"Apa kepalamu sering sakit?" tanya Hyun.
"Tidak juga. Sudah beberapa bulan ini aku hampir tidak pernah merasakannya, tapi setelah bayangan bayangan muncul di pikiranku, mendadak kepalaku jadi sering sakit." jawab Lee memejamkan kedua matanya.
Lee membuka matanya menatap wajah sahabatnya seakan bertanya.
"Sampai kapan aku harus menunggu ingatanku pulih. Kau tau, hidupku seperti ada yang kurang, entah apa itu." ujar Lee.
"Kau bersabarlah. Semuanya butuh proses, seiring berjalannya waktu, pelan pelan saja, jangan terlalu memaksa, takutnya itu akan berdampak semakin parah." ucap Hyun.
"Bagaimana dengan dia?" tanya Lee menunjuk kan dagunya ke arah Yoora.
"Lukanya cukup parah. Kalo terlambat sedikit, entah apa yang terjadi, dia mengalami pendarahan hebat di lengan nya." jelasnya.
"Lalu sampai kapan dia akan tersadar." ucap Lee.
"Paman. Kemarilah! cepat kemari." panggil So Ju mengarahkan tangannya.
"Apa? Kau tidak lihat."
"Yoora sudah sadar. Lihatlah tangannya bergerak, kau sungguh tidak mau mendekat, dia keponakan tersayangmu lho! biasanya paman sangat khawatir kalo berhubungan dengannya." ujar So Ju tak dihiraukan oleh orang yang diajak bicara.
"Ya terus aku harus apa?" tanya Lee.
"Kamu samperin dia. Tanya bagaimana keadaannya? kaku banget jadi orang." seru Hyun.
"Diam kau. Aku ini cuma pamannya, bukan kekasih atau tunangan nya." ucap Lee melenggang pergi.
"Lee? astaga anak itu." umpat Hyun kesal.
"Sudahlah paman dokter. Orang seperti dia emang susah diajak bicara, bukankah kau sendiri yang bilang padaku untuk pelan pelan mengembalikan ingatannya." ujar So Ju.
"Kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu." ucap So Ju menahan tubuh Yoora agar mau kembali berbaring.
"Kalian siapa?" tanya Yoora kebingungan mengamati sekitarnya.
'Tempat ini terlihat tidak asing.' batinnya mengingat ingat.
BERSAMBUNG