
Hufff...
"Hampir saja ketahuan. Sorry, Mommy, Pappy terpaksa aku harus berbohong ke kalian." gumamnya melihat kepergian kedua orang tuanya.
"Yoora. Kenapa kamu keluar. Udah sana kembali ke kamarmu." seru lelaki seusia empat puluhan mengagetkan nya.
"Uncle. A-aku haus, mau ke dapur mengambil minum." jawabnya melanjutkan langkahnya.
"Diam disitu." tegasnya.
Sontak hal itu membuat sang keponakan kesayangannya itu berhenti.
Lee Tae Yeong berjalan menghampirinya ia melihat ada noda darah di lengan Yoora.
Agrh...
"Kita kesana." ajak Lee.
"Untuk apa kita kesana?"
"Tentu saja untuk mengganti perban di lenganmu." ujar Lee.
"Ku rasa itu tidak perlu. Aku bisa." ucap Yoora.
"Jangan membantah ucapanku. Cepat kamu duduk disana." tegas Lee merangkul bahu gadisnya itu.
"Lho! kok kita ke sini. Tenggorokan ku kering aku haus." Yoora bingung pasalnya ia malah dibawa ke ruang tamu bukan ke dapur.
Lee melenggang pergi begitu saja meninggalkan keponakannya sendiri.
"Uncle. Diajak ngomong malah pergi." gerutu Yoora kesal.
Agrh....
Pekiknya meringis kesakitan meraih tissue yang ada di meja untuk mengusap darahnya.
"Pakai acara jatuh lagi." gumamnya pelan.
"Biar paman saja. Ini kamu minum dulu." seru Lee memberi air mineral ke Yoora.
"Makasih. Uncle baik sekali." ucap Yoora menerima dan segera meneguknya.
"Sepertinya kamu sangat haus. Apa mau paman ambilkan lagi."
Hmm...
"Boleh. Asal itu tidak merepotkanmu." Yoora mengangguk pelan.
"Tentu saja tidak. Kamu ini tak perlu sungkan denganku, tunggu sebentar." celetuk Lee sedikit mengulas senyum di sudut bibirnya.
***
Lee menjahit luka keponakannya yang sempat terlepas dengan rapi, sebelumnya ia memberikan obat bius untuknya.
"Sudah selesai. Sekarang kau balik sana ke kamar." ujar Lee.
"Kamar siapa?" tanya Yoora bermaksud menggoda.
Lee membereskan kotak P3K kemudian ia berlalu pergi.
Huff...
"Emang susah kalo orang kaku diajak bicara. Peka sedikit kenapa? orang lagi sakit bukannya bantuin atau." gerutu Yoora ingin beranjak namun Lee mengangkat tubuhnya.
Gadis yang ada di dalam dekapan pamannya itu terlihat sangat bahagia namun ia berusaha menyembunyikan.
Pelan pelan Lee menempatkan tubuh keponakan nya ke kasur.
Yoora terus saja menatap wajah pamannya dalam sehingga ia tak sadar jika tatapannya mendapat balasan.
"Apa mata kamu tidak lelah?" Lee mengibaskan tangannya.
Hmm...
"T-tidak emangnya ada apa dengan mataku?"
"Sebuah pertanyaan pasti membutuhkan jawaban." celetuk Lee.
Aaah!
...
"Iya."
...
"Iya apa?"
Hmm...
"Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Lee duduk di samping Yoora yang sedang berbaring menatap lekat.
...
Yoora menggeleng. "Uncle tampan sekali."
"Tadi kamu bilang kalo aku baik. Sekarang, ya tapi sebelumnya paman berterima kasih karena telah memujiku." ucap Lee tersenyum.
'Senyuman itu. Iya, apa sebenarnya paman sudah mengingat semuanya, aku senang dia sudah mulai perhatian denganku.' batin Yoora.
Hei!...
Yoora?
"Hei! Kim Yoora. My Girl." panggil Lee di telinga sang keponakan.
Hmm...
"Kenapa?"
"Kamu yang kenapa? dipanggil panggil malah bengong." tanya balik Lee.
"O..oh! memangnya ada apa denganku? t-tentu saja a-ku baik baik saja." ucap Yoora sedikit gugup.
"Santai aja. Aku ini pamanmu, dan kita juga sama sama manusia." ucap Lee lagi lagi tersenyum menunjukkan giginya.
"Manis." lirihnya.
"Kamu bilang apa?"
"I-itu. Itu apa ya!" gumamnya bingung.
Lee terlihat bingung seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia menundanya hingga esok hari, sebelumnya dirinya ingin pergi dari sana, tapi Yoora merengek minta di temani olehnya.
BERSAMBUNG