
Dugg...
Benturan keras terdengar mengejutkan Yoora.
Uncle kau tidak apa apa?
tanya Yoora khawatir.
"T tidak, maksudku, I fine." jawabnya buru buru pergi keluar kamar.
Ooh... "Tapi uncle." ujar Yoora mengamati cara berjalan Lee yang sedikit pincang.
"Don't worry, cepatlah bersihkan dirimu, paman tunggu di bawah." seru Lee kembali memasuki kamarnya.
"Oke, tapi baju gantiku mana?
tanya Yoora setengah berteriak.
Lee menghela nafas panjang. "Semuanya telah tersedia di dalam sana." ucapnya menunjuk ke arah almari berukuran besar.
"Baiklah. You are the best in my life." lirihnya mengunci pintu.
Beberapa saat kemudian...
"WOW, OMG." gumam Yoora membuka almari penuh dengan pakaian wanita, beragam jenis ada di dalam sana.
"Sebaiknya aku pakai yang ini." ucap memilah dan memilih, akhirnya ia menemukan yang menurutnya cocok dikenakan.
Lain halnya lelaki yang masih sibuk memasak ia celingukan menunggu kedatangan seseorang.
Semua masakan telah tersaji di meja makan, tertata rapi, tak lupa ia menambahkan bunga mawar kesukaannya.
"Harus berapa lama lagi aku menunggu, nah! itu dia." Lee ingin menyusul nya tapi ia urungkan karena mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah nya.
"Good night. Uncle." sapa nya Yoora menarik kursinya sebelum ia duduki.
"Night." balas nya.
Kenapa?
Apa ada yang salah dengan penampilanku?
Mengibaskan rambutnya mengenai wajah pamannya.
Aniiaaa.... "Alangkah baiknya kamu ganti baju sana." tiba tiba Lee mengatakan itu.
"Malam ini kan sangat dingin, tidak baik untuk kesehatanmu." sambungnya.
"Tapi aku merasa jika malam ini sangat panas." ucap Yoora menikmati hidangan nya melirik Lee yang berkeringat dingin, padahal AC di ruangan itu menyala.
"Eum... mau kemana?" tanya Yoora mencekal pergelangan tangan pamannya.
"Ke kamar sebentar." jawab Lee menunjuk ke lantai atas.
"Jangan pergi dulu, temani aku makan." menahan tangan Lee yang hendak pergi Yoora berjalan mendekatinya.
Kamu mau ngapain?
mundurnya pelan, seketika raut wajah nya berubah menegang.
Haa...haa...haa. "Uncle, biasa aja mukanya gak usah tegang gitu santai aja, aku cuma mau mengusap keringatmu." Yoora dibuat terkekeh oleh ekpresi wajah Lee menurutnya berlebihan.
"Habiskan saja makananmu, paman bisa lakukan sendiri." titah Lee merebut sapu tangan dari tangan keponakan.
"Ish... bisa kan minta baik baik." gerutu Yoora kembali ke duduk sekilas melirik lelaki di sampingnya.
Yoora terlihat celingukan mencari seseorang bingung, suasana begitu sepi hanya ada mereka berdua saja, padahal berangkat bersama teman teman dan orang tuanya.
Kau cari siapa?
Lee sedari tadi mengamati gerak gerik keponakan nya.
"Pappy. Mommy, teman temanku, mereka semua ada dimana, kenapa tidak ikut makan bareng kita." berbalik bertanya.
"Uncle, kau benar benar menculikku, waah! keterlaluan." seru Yoora menganga, seketika mulutnya di masukan sesuatu oleh Lee.
"Itu karena kamu tidur lama sekali, jadi mereka meninggalkanmu sendiri di dalam pesawat." jelas Lee.
"Berarti selama aku pingsan, tidak ada yang coba membangunkanku, uncle juga dimana hati nuranimu." celoteh Yoora.
"Kata siapa? kamu pikir siapa yang membawamu kesini kalau bukan paman, hmm..." ucap Lee belum menyadari ucapan nya.
"B**eaksi macam apa? orang pingsan, bukannya ditanya gimana keadaan kamu atau apa gitu, ini malah cuek, dasar nggak peka." kesal Yoora dalam hati.
"Apa arti tatapanmu itu, hmm! kenapa makanan nya cuma dilihat saja, cepatlah di makan nanti keburu dingin." omelnya tak mengerti.
Hei!
Kamu mau kemana?
Mendapati sang keponakan beranjak dari duduknya melangkah pergi meninggalkan nya sendiri di meja makan.
Bersambung...