
"Aduh! kau kasar sekali." pekik Lee meringis kesakitan ketika sebelah kakinya diinjak keras gadis di depan nya.
'Dimana kalungku? perasaan tadi masih ku pakai. Apa jangan jangan hilang.' batin Yoora meraba raba leher nya.
Lee mengetahui apa yang dicari keponakannya, ia sengaja pura pura tak tau.
"Uncle. Bisa tidak kau berhenti membuntutiku." ucap Yoora merasa tidak nyaman saat Lee terus menerus berjalan dibelakangnya.
"Apa yang kau cari? ini bukan rumahmu. Jadi kamu harus meminta izin dulu ke pemiliknya." tanya Lee.
"Bukan apa apa. Tidak begitu penting." jawabnya.
'Apa jangan jangan terjatuh di dalam mobil.' batin Yoora buru buru ingin keluar namun segera ditahan oleh Lee, dengan mengunci pintunya.
"Uncle. Berapa no pin pintu ini?" tanya Yoora kesal.
"Hmm. Sepertinya aku lupa." jawab Lee duduk di sofa menyilangkan kakinya menyangga dagu.
Uncle.........
Yoora berteriak sangat kencang hingga memekikkan gendang telinga orang yang mendengarnya.
"Astaga. Kau menyakiti telingaku." ujar Lee melepaskan tangan yang menutupi kedua telinganya.
"I don't care. Cepat beri tau aku berapa no pin pintu ini? kalo nggak aku akan membukanya paksa." teriak Yoora mulai frustasi.
Haa...haa...haa.
"Dengan apa? mendobrak pintu itu gitu. Mana bisa sekarang kamu kan ada di dalam bersamaku." ucap Lee.
Yoora menghampiri Lee yang sedang tertawa hingga tak terdengar suaranya.
Bukkk....
"Aduh! My Girl." ucap Lee saat pukulan bantal mendarat di kepalanya.
"Jangan dikira aku sedang sakit tak bisa melakukan ini padamu. Sekarang kau ingat kan siapa aku? berhenti berpura pura didepanku." teriak Yoora terus menerus memukul Lee dengan bantal dan tak ada perlawanan darinya.
"Kenapa? semua ucapanku benar kan. Uncle bisa berbohong ke orang lain, tapi tidak untuk aku." lanjutnya kemudian melenggang pergi.
"Hei! kamu jangan nekat. Itu sangat berbahaya." teriak Lee mendobrak pintunya.
"Lepaskan aku. Jika aku pergi, paman tak perlu lagi bertemu denganku lagi." ucap Yoora berdiri diatas pembatas balkon.
'Semoga kali ini rencanaku berhasil. Sekali saja langkahku salah, semuanya bisa berantakan, Uncle? tolong selamatkan aku.' batin Yoora jantungnya berdebar kencang melirik tingginya dimana kakinya berpijak.
'Aduh! aku sudah tak kuat lagi. Apartemen ini begitu tinggi, seakan jantungku mau terlepas dari tempatnya.' batinya lagi dengan langkah kaki gemetar hal yang paling ditakutkan adalah ketinggalan.
"Uncle." panggil Yoora tak mendapat respon dari pamannya yang malah duduk santai sana.
"Paman tau kamu itu cuma pura pura. Kalo berani lakukan saja." seru Lee sembari memainkan ponselnya.
"Oke. Jika itu maumu, paman yang bertanggung jawab semuanya." ucap Yoora tertantang.
Lee mengangkat bahunya acuh. Sedangkan Yoora bingung ternyata rencananya sudah diketahui olehnya.
Aaaaaaaaa.....
"My Girl." Lee refleks menangkap tubuh Yoora ke dalam dekapannya.
Akan tetapi keduanya malah terjatuh ke lantai, Lee tak sengaja menindih tubuh Yoora.
Brukkk....
Cupp....
Seketika keduanya terkejut mendapati bibirnya saling bertautan satu sama lain.
"Paman. Yoora? kalian." seru seseorang mengejutkan mereka, entah datang darimana, karena bisa masuk padahal pintunya terkunci dari dalam.
"Hmm." Yoora menggelengkan kepalanya bermaksud menjelaskan.
"So Ju. Dengarkan paman, i-ini sebuah kesalahan pahaman, tadi paman tak sengaja terjatuh setelah." ucap Lee mencoba bangkit namun tubuhnya terasa berat.
BERSAMBUNG