Chasing My Uncle'S

Chasing My Uncle'S
Teka teki



"Pembicaraan kita belum selesai. Ada yang ingin kukatakan padamu." ujar Kevin menarik lengan Lee mengikutinya.


"Saya rasa tidak perlu lagi membahas hal itu. Kan sebelumnya sudah ku jelaskan sama kau." tolaknya menghempaskan tangan yang mencekal nya.


"Beraninya kau. Ini cuma sebentar, aku tidak percaya ucapanmu tanpa adanya pembuktian." ujar Kevin masih kekeh untuk kembali menarik Lee kali ini ia sedikit mendorong untuk berjalan terlebih dahulu.


Di balkon


"Sekarang apa yang ingin kau katakan." ucap Lee terdengar dingin tak mau menatap sepasang mata yang menyorot tajam kearahnya.


"Hmm. Lidahmu itu manis tapi terasa pahit." Kevin melangkahkan kakinya sejajar dengannya.


Lee tersenyum mendengar perkataan suami sahabatnya itu.


"Kau memang pantas untuk dinobatkan sebagai seorang aktor, atas keahlianmu berakting." ujar Kevin tak kalah dingin.


Tak ada jawaban apapun dari Lee, hanya tatapan kosong tanpa ekpresi.


"Jauhi putriku." ucap Kevin membuat lelaki di sebelahnya menoleh.


"Why?" tanya Lee.


"Yoora putriku satu satunya. Setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak anaknya, aku ingin dia mendapatkan pasangan yang terbaik untuknya." ucap Kevin memegang kedua bahu Lee.


Cuma senyuman yang terukir di wajahnya, hal itu membuat Kevin kesal karena merasa tak dianggap olehnya.


"Aku tak mengerti apa maksudmu? bicaramu semakin melantur. Sebaiknya kau pulang, istirahat, hari sudah mulai malam." ucap Lee ingin segera pergi namun langkahnya terhenti.


"Kau mencintainya bukan." seru Kevin.


"Siapa? putrimu. Ya jelas aku mencintainya, dia kan keponakanku, gadis kesayanganku, itu saja tidak lebih." ucap Lee.


"Benarkah. Mulut dan hatimu sungguh berbeda." ujar Kevin.


Lee mengulaskan senyum box smile membalikkan badan menatap pria yang usianya beda dua tahun darinya.


"Apa maumu?" tanya Lee dengan nada pelan.


"Kenapa? tentu kau tidak akan bisa." lanjutnya.


"Asal kau tau. Selama ini aku sudah menjauh darinya, bahkan aku harus berpura pura tidak mengingatnya pasca kecelakaan itu." ucap Lee.


"Emang salah kalo kita berdua saling mencintai. Cinta tak mengenal usia, aku tau usiaku tak jauh beda darimu." lanjutnya dengan tatapan lebih tajam.


"Maksudmu cinta sepihak. Kau hanya mencintainya, tapi tidak sebaliknya." ucap Kevin.


Huff... Lee menarik nafasnya dalam dalam menenangkan diri karena ia sekarang berhadapan dengan orang emosional.


Kevin mau mencengkram kerah baju Lee namun seseorang datang menghentikan nya.


"Pappy. Uncle, apa yang sedang kalian lakukan?" seru nya.


"Yoora." gumam keduanya bersamaan.


"Aah! sayang. Bukankah kau sedang sakit, kenapa malah keluar? angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." ucap Kevin tersenyum menghampiri putrinya.


Yoora terdiam tatapan nya penuh teka teki seakan bertanya.


"Pappy cuma bicara sama pamanmu. Biasalah urusan lelaki, anak perempuan tidak boleh tau." ucap Kevin memegang pundak Yoora.


"Ooh! apa masalahnya serius itu sampai sampai aku tidak boleh tau." ucap Yoora pandangannya beralih ke pria dibelakang nya.


"Sebaiknya kita masuk. Udaranya semakin dingin, Pappy tidak mau kamu bertambah sakit." ajak Kevin menarik lengan putrinya.


Agrh...


"Sayang kamu kenapa? apakah Pappy terlalu keras sehingga menyakitimu." tanya Kevin khawatir melihat Yoora yang kesakitan.


"Yoora baik baik saja. Cuma, badanku agar terasa pegal, hmm." ucap Yoora berbohong ia tak mau jika pamannya kembali disalahkan.


"Sungguh. Kalo begitu biar pappy pijat agar lebih enakan." ucap Kevin dicekal.


Bersambung