
"Aku masih berpikir, bagaimana perasaan lelaki yang dari dulu mencintainya, apakah dia rela melihat gadisnya bahagia bersama orang lain." gumam Jung Hwa menyangga dagu memandang langit langit cafe itu.
"Kamu tadi bilang apa? suara musiknya terlalu keras, paman tidak jelas mendengar nya." tanya Lee mulai linglung akibat pengaruh alkohol.
Dilihatnya Lee menghabiskan beberapa botol alkohol, hingga wajahnya terlihat memerah bak udang rebus.
"Paman mabuk, katanya tadi cuma mau minum satu botol saja, tapi ini apa banyak sekali, baru juga di tinggal sebentar ke toilet." panggil Jung Hwa buru buru mencegah Lee untuk meminum nya lagi.
Menatapnya menadahkan tangan. "Keponakanku sayang, cepat berikan botol itu padaku, paman janji ini tegukan terakhir." pinta Lee berdiri sempoyongan berusaha merebutnya tapi Jung Hwa terus menghindar.
"No. Stop! lihat dirimu, paman sudah mabuk berat, kita pulang sekarang." tolaknya mengajaknya pergi dari Cafe itu.
"Tuan, tunggu sebentar." panggil pelayan menghampiri mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Jung Hwa susah payah menuntun pamannya berjalan.
"Kalian tidak diperbolehkan keluar sebelum membayar semua tagihan pembayaran nya." jawab pelayan itu berdiri merentangkan kedua tangannya di depan pintu.
Jung Hwa terlebih dahulu melakukan pembayaran ia meninggalkan Lee di depan cafe.
"Lho! paman, kemana perginya, kenapa tidak ada, duh! gawat, bagaimana ini?" ujar Jung Hwa kebingungan berjalan kaki mencari kesana kemari tak tentu arah.
Langkah kakinya terhenti di depan sebuah wahana hiburan malam terlihat orang berlalu lalang keluar masuk.
"Apa paman ada di dalam sana, tapi dia bayar pakai apa? dompetnya ada di aku." gumam Jung Hwa menggaruk tengkuk leher nya berjalan menghampiri penjaga disana.
"Eum, Pak maaf mau tanya, apa bapak pernah melihat lelaki, tingginya segini, dia tampan sepertiku, memakai mantel kotak kotak, celana hitam polos seperti." tanya Jung Hwa memperagakan gestur tubuhnya pada para penjaga di sana.
"Tidak, silahkan anda tanya ke orang lain saja, saya sibuk masih banyak urusan, pasti kamu mau berbuat onar disini kan, penampilanmu saja berantakan seperti preman." ketusnya mengusir mendorong tubuh Jung Hwa sedikit menekan nya.
Jung Hwa melihat dirinya sendiri. "Memang ada apa dengan penampilanku, hello? ini fashion jaman now kali bro! aku yakin paman Lee ada di dalam sana, buktinya kancing topi nya ada di dekat sini." gerutu Jung Hwa kesal ia memikirkan cara agar bisa masuk.
"Maaf Tuan, tolong tunjukan data dirimu, sebelumnya tadi ada orang mencurigakan yang memaksa masuk, saya yakin dia mau buat rusuh." panggil penjaga menghampiri Jung Hwa merubah penampilannya jauh lebih baik.
Berjalan santai berhasil melewati nya.
Mereka pikir aku penjahat apa?
"Tampang tampan begini dibilang preman, huh!" gumam Jung Hwa menghela nafas.
*****
Di rumah sakit
"Saya mau ke toilet, kamu mau ikut juga, atau aku teriak biar semua penghuni rumah sakit ini keluar mengeroyokmu." ucap Yoora selalu di ikuti oleh So Ju kemana pun langkahnya.
"Oke, silahkan saja, aku cuma mau berjaga di depan pintu, tidak apa apa kan, yang penting pintunya tidak dikunci, maksudku dikunci." ujar So Ju keceplosan.
"Diam di tempat, satu langkah kau bergerak, aku akan segera menghajarmu." titahnya Yoora menegaskan.
"Hmm, aku takut." ucap So Ju menutup matanya dengan kedua tangan.
"Tapi bohong." sambungnya meledek.
"Punyamu masih aman kan, hmm." ucap Yoora membuat So Ju bingung.
"Kira kira aku harus menggunakan kaki sebelah mana, kanan atau kiri." gumamnya melihat kedua kakinya.
So Ju bergetar setelah tau maksud dari perkataan yang dilontarkan oleh Yoora bergegas pergi dari sana.
Di dalam kamar mandi Yoora tertawa cekikikan melihat reaksi So Ju yang panik.
Haa...Haa...Haa. "Takut juga dia, kakiku kan sedang sakit, mana mungkin mau menendangnya." terkekeh melihat ekpresi panik So Ju baginya itu sangat lucu, tertawanya terhenti setelah mengingat seseorang dalam pikiran nya.
BERSAMBUNG