
"My Uncle?" teriak gadis remaja berambut pirang panjang berlari memeluk lelaki berparas tampan tersenyum kearahnya.
Karena tinggi badannya tidak sepadan gadis itu sedikit berjinjit meraih tengkuk leher orang yang ia sayangi.
( gadisku. Apa kabar sayang?) "My Girl. How are you dear?" lelaki itu membalas pelukan keponakan kesayangannya.
( kurang baik) "Not good." jawabnya cemberut melepaskan pelukannya.
"Kamu nggak suka paman datang. Alangkah baiknya persilakan masuk, mau minum atau makan apa?" ujar Lee Tae Yeong paman Yoora memegangi pundak keponakan kesayangannya.
"Ooh! iya. Yoora lupa, silahkan masuk, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu." ucap Yoora mempersilahkan.
"Uncle. Kamu mau makan apa?" tanya Yoora duduk di samping Lee Tae Yeong.
"Apa saja yang penting." jawab Lee.
"Bukan makanan pedas. Oke, sebentar aku buatkan untukmu." cela Yoora beranjak turun dari sofa.
Lee mencekal tangan keponakan nya. "Emang kamu bisa masak." ujarnya Yoora menggeleng pelan.
"E-emm. Tentu saja, tidak." ujar Yoora tersenyum kaku.
"Sudah ku duga. Kenapa rumah ini sepi sekali?" ujar Lee bertanya.
"Mommy sama Pappy. Mereka sedang di luar kota." jawab Yoora.
"Kembaran kamu. Apa dia ada di dalam?" tanya Lee lagi.
"Siapa? Kim Jung Hwa." jawabnya berbalik bertanya.
"Memangnya kembaran kamu ada berapa? sampai lupa." ujar Lee mencubit pipi gadis kesayangannya.
Yoora segera menyingkirkan tangan pamannya dari kedua pipinya. "Uncle. Kamu lapar tidak, ayo kita masak!" ajak nya beralih merangkul pinggang Lee berjalan menuju dapur.
"Tunggu sebentar." ujar Lee memakaikan celemek ke gadisnya.
"Kalung kamu baru." lanjutnya melihat lebih dekat ke leher Yoora.
"Sebenarnya sudah lama. Tapi baru aku pakai lagi, kemarin karena pacarku mengajakku balikkan." ucap Yoora santai.
"Bukan. Ternyata itu cuma pura pura, dia masih mencintaiku." ujar Yoora tersenyum malu malu.
"Baguslah kalau begitu. Seusia kalian sudah berkencan, apalagi nanti." gumam Lee terdengar lirih.
"Uncle bilang apa tadi? aku kurang mendengar ucapanmu." menatap pamannya bingung.
"Bukan apa apa. Kamu masih ingat kan pesan paman waktu itu." ujar Lee.
Yoora mengangguk pelan. "Tentu. Tapi itu menjadi bumerang, masa cuma ciuman aja nggak boleh." celetuknya menunduk kan kepalanya sembari memainkan baju bagian bawah Lee.
tukkk...
"Aduh! Uncle. Sakit tau, di dalam otakku itu isinya sangat berharga." pekik Yoora ketika kepalanya di ketuk begitu keras oleh pamannya.
"Hmm. Kita mau masak atau berbincang." ujar Lee selesai mempersiapkan semuanya.
Yoora tidak membantu sama sekali ia cuma terus menerus menatap wajah paman nya yang begitu tampan saat memasak sampai selesai.
Lee tersenyum melihat ekpresi wajah Yoora yang polos, dia terus berdiri tanpa bergerak sedikitpun.
"Hei. Mikirin apa hayooo?" goda Lee menepuk kedua tangannya di depan wajah gadis kesayangannya.
"Aah! uncle. Cepat sekali matang, baru juga mau bantuin." ujar Yoora terkejut.
"Yang ku lihat kamu tidak membantu apapun." celetuk Lee mendudukan Yoora di kursi.
Hmm..... "Enak sekali. Kalau soal memasak Uncle jagonya." pujinya sangat menikmati masakan buatan pamannya.
"Uncle. Kamu tidak makan." lanjutnya Yoora berhenti mengunyah menatap Lee.
Menggeleng. "No, melihatmu makan aja sudah membuat perutku kenyang." ucap Lee beralih menyuapi Yoora.
"Kamu tumbuh dengan baik. Pasti orang tuamu sangat memperhatikanmu, sekarang gadisku ini jadi bertambah cantik." Lee mengusap sisa saus yang menempel di sudut bibir Yoora.
**** Bersambung ****