
Beberapa hari Yoora di rawat kini ia bisa keluar dari rumah sakit, di temani oleh kedua orang tuanya dan juga saudara kembarnya.
Yeaah...."Akhirnya aku bisa keluar juga, tiga hari disini rasanya seperti di dalam penjara, nggak bisa bergerak bebas." Yoora loncat loncat kegirangan merenggangkan kedua tangannya ke atas.
"Sayang, berhati hatilah, nanti jatuh kamu mau kamu masuk ke rumah sakit lagi, eoh." seru Kevin menarik tangan putrinya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Kalian berdua itu kenapa, bukannya masuk malah berdiri mematung di depan sini." lanjutnya Kevin juga menarik tangan putranya.
"Aah! Pappy. Aku pengen jalan jalan, itu ke menara eiffel." rengeknya bergelanyut manja di lengan ayahnya.
"Tidak, kamu itu baik sama Pappy cuma ada maunya saja kan." tolaknya sedikit mendorong anak anaknya masuk ke dalam mobil.
"Mommy. Pappy jahat sekali, masa dia bisa mengajakku ke rumah sakit tapi kesana tidak mau." keluh Yoora manyun.
"My Prince." ucap Hana mengusap bahu suaminya bermaksud untuk membujuknya.
"Baiklah. Tapi nanti sore kita langsung berangkat." Kevin mengiyakan sedang Yoora bersorak kegirangan.
Yeah....
Cup... "Thanks, Pappy." ucap Yoora mengecup pipi Kevin hingga mengejutkan nya.
"Sayang duduklah yang tenang, kenakan sabuk pengamanmu." titah Hana menoleh ke kursi belakang mobil.
Berbeda dengan Yoora, lelaki di sebelahnya terlihat diam tanpa kata, biasanya akan lebih heboh dari saudara kembarnya.
"Hei! kau ini kenapa, tumben tidak seperti diam, sepertinya kau tidak menyukai kesembuhan ku." seru Yoora menyenggol lengan Jung Hwa.
"Apa yang kau lihat. Aku ada disini, hello?" serunya lagi melihat kemana arah tatapan saudara kembarnya.
"Tidak ada apa apa. Ooh, pasti wanita itu, cantik, tapi sedikit nakal, lihat saja pakaiannya, atas sama bawahnya bolong." terkekeh Yoora pandangannya mengarah ke ujung jalan.
Lagi lagi Jung Hwa terdiam, ia seakan tak punya semangat.
"Hmm. Pantas saja dia tidak mendengar, ternyata telinganya di sumpal, aku kira tuli, sia sia ucapanku tadi." gerutu nya kesal Yoora mendorong jidat Jung Hwa ke samping hingga mengenai jendela.
Dugg....
"Kau ini punya masalah apa, diam dan berhenti menggangguku." tegas Jung Hwa sedikit meninggikan suaranya.
Sampai sampai kedua orang tuanya menoleh ke arah mereka.
"Jung Hwa. Yoora, kalian bertengkar lagi." seru Kevin membuat keduanya saling pandang.
"Nggak tau nih! tiba tiba dia bentak aku." ujar Yoora melirik saudara kembarnya sinis.
"Aaah... Pappy, k kita nggak bertengkar kok, aku cuma sedang berlatih akting, biar seperti idolaku." ucap Jung Hwa mengelak.
"Udah jelas jelas tadi kamu." ucap Yoora mulutnya di bungkam oleh Jung Hwa.
Kim Jung Hwa dengan senyum di paksakan menatap Yoora penuh arti.
"Apa arti tatapan itu. Hobinya mengelak." batin Yoora.
"Oooh... Pappy senang jika kalian berdua akur." ucap Kevin merasa lega.
Sedangkan Yoora ia menginjak kaki kembarannya keras, Jung Hwa menahan rasa sakit di kakinya dan segera melepas bungkaman tangannya.
"Rasain tuh! emang enak." Yoora tersenyum menjulurkan lidahnya.
"Awas kamu. Lain kali akan ku balas." bisik Jung Hwa menyenggol lengan Yoora.
"Aku tidak takut." ucap Yoora menantang tertawa menggelitik.
Menara Eiffel
Yoora berdecak kagum melihat pemandangan menara yang menjulang tinggi di depan matanya ia ingin sekali berteriak akan tetapi memilih menahannya.
"Sayang. Hati hati, jangan lari lari nanti jatuh." seru Hana ia tau bahwa putranya sedikit ceroboh seperti dirinya dulu.
"Siap mom, aku bukan anak kecil." Yoora menyipitkan mata mengacungkan jempol ke arah kedua orang tuanya.
BERSAMBUNG