
Lee tersenyum melihat tingkah manja keponakannya mengacak acak rambut panjangnya.
"Dimana mana kalo diculik itu takut, bergetar misalnya meminta tolong untuk dilepaskan, ini kamu malah kegirangan." celetuk Lee menggeleng pelan.
"Gimana nggak seneng orang penculiknya ganteng." ujar Yoora berdiri menangkup kedua pipi pamannya lalu memeluk erat.
"Lepaskan tanganmu, nanti ada orang yang melihat kita." pinta Lee was was.
Yoora masih enggan melepaskan pelukannya yang terasa begitu hangat dan nyaman ia malah semakin mempererat pelukannya.
Aigooo...
"Lepasin tanganmu." pintanya lagi.
Menggeleng menolak. "Aku kangen sama uncle, beri waktu satu jam saja." rengeknya.
"Kamu benar benar gila, kalo gini jadinya tadinya aku nggak usah ikut ke pesawat ayahmu." celetuk Lee sedikit kesal.
Mendongak menatap kesal wajah tampan pamannya "Kau menyesal bertemu denganku." ucap Yoora cemberut memalingkan muka.
Lee menyangga dagu manis Yoora. "Bukan begitu maksudku. paman cuma tidak mau ada yang salah paham tentang kita."
"Kau sungguh berubah, tidak seperti pamanku." ujar Yoora kembali masuk.
Hufff....
Kenapa menghela nafas?
polosnya.
"Hidup itu butuh oksigen tau." seru Lee ia ingin masuk tapi tak bisa.
Tak terasa mereka sampai di landasan pesawat, semua orang sudah keluar terkecuali gadis yang masih terlelap dalam mimpinya.
"My Prince." panggil Hana pada suaminya.
Kenapa Yoora belum turun juga?
sambungnya.
Kamu mau kemana?
tanya Kevin mencekal tangan istrinya ketika mau kembali menaiki tangga pesawat membalikkan istrinya menghadap nya.
"Hei. Kau cepat kemari." panggil Kevin melambaikan tangan ke Lee yang asyik ngobrol.
Ada apa tuan sombong? Kenapa kau memanggilku?
tanya Lee sedikit malas.
Sepasang suami istri itu saling menatap satu sama lain, Lee langsung mengerti maksud mereka.
"Thanks Oppa." ucap Hana di anggukinya.
"Astaga, merepotkan sekali. Dia belum bangun juga, tidak malu apa sama matahari." gerutu Lee mengacak rambutnya.
Lee mulai menepuk kedua pipi Yoora, tapi tak ada reaksi, ia beralih meniup wajahnya, namun usahanya sia sia.
Haisss... "Lama lama nafasku bisa habis kalo begini caranya." gerutunya kesal duduk di sampingnya.
Apa dia tidak berniat untuk bangun? Makan atau apa gitu? lanjutnya masih menggerutu.
"Tidak ada cara lain lagi." gumam Lee ingin mengangkat tubuh Yoora, tiba tiba ponselnya bergetar.
Drettt Drettt Drettt....
~>> Jaga putriku sebentar. Istriku meminta jalan jalan.
Lee: Kau pikir aku tempat penitipan anak, enak aja kalian malah, hei! tuan sombong kau mendengarku tidak.
Sedari dulu Lee paling tidak akur dengan Kevin, ia hanya bersahabat baik pada istrinya saja, walaupun diantara mereka ada hubungan darah.
Kevin: Iya bawel, telingaku masih waras, kita pergi dulu, jaga putriku baik baik, jangan sampai lecet, dan satu lagi, kembalikan dia dalam keadaan utuh.
Lee: Hei! kau pikir aku laki laki macam apa?
Tutt...tutt...tutt
Tiba tiba panggilannya terputus begitu saja, terpaksa Lee harus menuruti kemauannya.
Aigooo.... Ini orang maksudnya apa?
"Anak sendiri di tinggal, aku juga ada urusan penting." gerutunya mengangkat kembali tubuh gadis yang masih tertidur pulas.
Apa aku harus terus bersamanya?
Berjalan menuruni tangga pesawat dengan hati hati lalu membawanya keluar untuk memasuki mobil yang sebelumnya dipersiapkan menuju kediaman nya.
Setibanya disana Lee bergegas membawa Yoora untuk beristirahat di kamar yang sebelumnya ia siapkan.
"Ya ampun bocah ini, dia mirip putri tidur, tinggal di beri bunga dan seorang pangeran datang membangunkan nya." ucap Lee menyentuh kedua pipi gadis manis di hadapannya.
Yoora merasakan hembusan nafas yang menerpa wajahnya membuka mata sesaat jarak diantara keduanya begitu dekat.
Cukup lama Lee memandangi wajah cantik nya, ia tersadar jika Yoora sudah bangun, lalu segera menjauh kan wajahnya.
"Akhirnya kau sadar juga." ucap Lee gelagapan sampai sampai, lututnya tak sengaja terhentak ujung ranjang.
BERSAMBUNG