
Tok tok tok
Yoora...aaa...
"Keluarlah, paman mau bicara sebentar denganmu." panggil Lee sembari mengetuk pintu bersandar disana.
Tok tok tok....
Suara ketukan pintu tak henti hentinya berbunyi, hal itu membuat gadis yang berada didalam merasa terusik mau tak mau ia harus membukakan pintu kamarnya, jika tidak itu akan terus berlanjut sampai nanti.
Uncle jebal....
Apa yang kau lakukan?
teriak nya dari dalam kamarnya kesal.
"Buka pintunya atau paman tidak segan untuk merobohkan pintu ini, kalo perlu sekalian tembok kamarmu akan ku robohkan juga." ucap Lee terdengar serius.
"Coba aja kalo berani, nggak sekalian rumahmu kau sama ratakan dengan tanah." ketusnya membuka pintu.
Lee langsung menyelonong masuk ke dalam tanpa seizin dari pemilik kamar itu lalu menatap tajam keponakannya.
Sedangkan Yoora hanya terdiam ia merasa tidak melakukan kesalahan padanya.
Kemarilah!
Cepat kemari!
Menarik tangan Yoora mendekat.
Paman mau tanya ini maksudnya apa?
Titah Lee memberikan ponselnya kedatangan Yoora.
"Nggak mau." menggeleng tanpa mau melihat isi dalam ponsel itu melangkah mundur menjauhinya.
"Jelasin dari situ aja." tolaknya Yoora seakan tau arti dari tatapan itu.
Lee menarik tangan Yoora mendudukan nya di tepi kasur bersamaan dengannya lalu barulah ia menunjukkan sebuah vidio Yoora yang berkelahi bersama para preman bertubuh tinggi kekar juga aksinya di jalanan.
Aaah... "Uncle, aduh! sakit, tolong lepaskan tanganmu." pinta Yoora meringis saat telinganya di jewer oleh pamannya.
"Kamu tau seberapa luas vidio ini tersebar." ujar Lee melepaskan jewerannya lalu mendorong dahi Yoora ke samping.
Brukk...
"Begitu aja jatuh, lemah sekali kamu jadi perempuan." celoteh Lee tak ada niatan untuk membantu.
panggilnya terdengar merintih.
"Kamu bisa kan bangun sendiri, belajarlah mandiri." lanjutnya menolak permintaan tolong darinya.
Tubuhnya masih lemas belum pulih paska kaburnya dari rumah sakit.
Yoora tak mau mengeluh atau mengadu ke siapapun karena pastinya ia tak mau disalahkan jika menceritakan semuanya ke orang lain.
Woah... "lihatlah tubuhmu, semuanya kekar, termasuk jari jarimu seperti raksasa, dikira tidak sakit apa?" celotehnya kemudian melenggang pergi.
Brakkkk...
Suara pintu dibanting begitu kerasnya, Yoora menendang kesal.
"Gadis itu kalo marah lucu sekali." ucap Lee terkekeh menyembunyikan tawanya bermaksud menakutinya tapi malah sebaliknya.
Sepuluh menit kemudian
Si pemilik kamar tak kunjung kembali menunjukkan batang hidungnya, terpaksa Lee harus mencarinya entah bersembunyi dimana.
"Dimana dia." gumam Lee celingukan mencarai keberadaanmu terburu buru menuruni anak tangga.
Lee melihat sesuatu yang mencurigakan dari gadis yang kini berada di dapur berniat untuk meminum sesuatu.
"Yoora, letakkan itu." teriak Lee bergegas berlari menuruni anak tangga dengan cepat melempar gelas itu dari tangan Yoora.
Pyarrr....
Gelas berisi susu yang Yoora pegang seketika pecah, semuanya berserakan di lantai.
"Dasar gadis bodoh." umpat Lee dengan tatapan menusuk.
"Kau tau itu apa, bukankah kamu alergi." bentaknya menggema di seluruh ruangan dapur.
"Belum puas berada di rumah sakit kemarin, mau masuk lagi kesana, ha!." gertaknya sontak membuat gadis tak berani menatap ataupun sekedar berkata kata.
"Dengar tidak paman bicara, kau masih punya dua telinga kan." lagi lagi Lee kembali menggertak.
Yoora mulai berlinang air mata, dari dulu ia sama sekali tak pernah di marahi oleh kedua orang tuanya, hanya Lee berani melakukannya, walaupun di kenal anak yang jarang menangis, akan tetapi sebenarnya di dalamnya begitu rapuh karena perasaan perempuan.
"Bisa kan ngomong baik baik, tidak perlu marah marah, aku itu cuma mau membuatkan sesuatu untukmu, tapi apa." seru Yoora sembari berlari menaiki tangga.
"Uncle jahat, aku adukan sama Mommy, biar hubungan persahabatan kalian itu bubar berantakan." teriak Yoora kerasnya di depan kamarnya.
BERSAMBUNG