Chasing My Uncle'S

Chasing My Uncle'S
Kambuh



Yoora menggeleng pelan. "Nggak apa apa. Ini cuma luka kecil, tak perlu." ucap Yoora terlihat baik baik saja.


"Tidak. Kamu terluka, harus segera di obati." cela Lee mengangkat tubuh gadisnya enteng.


"Uncle. Disini banyak orang." lirih nya Yoora menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Lee.


Sedangkan Lee ia mengulas senyum di sudut bibirnya.


"Diamlah. Jangan kemana mana, paman cuma mau pergi sebentar." Lee menduduk kan keponakannya sangat hati hati ke jok mobil.


Yoora ingin memanggil pamannya akan tetapi sudah tak ada siapapun di sana.


"Cepat sekali menghilang. Baru juga pergi, terus aku di tinggal sendiri disini, mana sepi lagi, seperti tidak ada kehidupan, orang² disini pada kemana" gerutu Yoora celingukan mengunci pintunya dari dalam.


Lima belas menit kemudian


Akan tetapi Lee tak kunjung kembali, entah kemana perginya, Yoora bingung harus menyusul nya, ia tak tau arah jalan karena bukan itu bukan negaranya.


"Aaah! Uncle, sebenarnya dia itu dimana. Kenapa lama sekali, katanya cuma sebentar, tapi ini lebih dari segalanya." berdecak kesal.


Dilihat dari jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul satu tengah malam, suasana bertambah hening ketika tiba tiba hujan deras, Yoora berniat untuk keluar, tapi di urungkan niatnya.


Suara gemuruh guntur seakan saling bersahutan, hal yang paling tidak di sukai oleh Yoora, ia selalu meminta di temani saat hujan tiba.


"Please. Pappy, Mommy, angkat teleponnya." ucap Yoora berulang kali menghubungi seseorang menggunakan ponsel Lee yang kebetulan tertinggal di dalam mobil.


Akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali, bahkan saudara kembarnya tidak mengangkat panggilan nya.


Nafas Yoora terengah engah, dengan keringat bercucuran, seketika tubuhnya lemas tak bertenaga, pandangan matanya mulai kabur.


Tak lama kemudian seseorang datang, siapa lagi kalau bukan Lee.


"Yoora. Buka pintunya, biarkan paman masuk, kau tau kan sekarang sedang hujan." Lee menggedor jendela mobilnya kehujanan.


Lee mendekatkan wajahnya untuk melihat suasana dalam mobil ia mengira jika keponakannya tertidur sehingga tak mendengar ucapannya.


"My Girl. Bangunlah, paman bawakan sesuatu untukmu, lukamu juga harus segera di obati." panggil Lee.


"Paman tau kamu marah, tapi bisakah buka pintunya, diluar sangat dingin." celetuknya Lee menggedor pintu mobilnya keras.


🏥


Rumah sakit


Beberapa orang datang menghampiri Lee yang duduk di kursi tunggu menundukkan kepala.


Bagaimana keadaan putriku, dok?


Lee menoleh ke sumber suara. "Dia ada di IGD. Penyakit asma nya kambuh." jawabnya.


Kenapa bisa?


Apa yang terjadi?


tanya Kevin.


Lee menceritakan semuanya pada mereka, Kevin nampak begitu marah terhadapnya


Bukk...


Pukulan keras mendarat di pipi Lee membuat suasana semakin panik.


"My Prince. Apa yang kau lakukan." seru Hana sedari tadi diam.


"Lelaki ini pantas mendapatkannya. Kamu dengar sendiri kan, dia meninggalkan putri kita sendirian di dalam mobil, demi kepentingan mu sendiri." ucap Kevin tersulut emosi.


"Kau tau kalo putriku takut hujan. Dia juga tidak tahan udara dingin, kenapa kau mengajaknya pergi malam malam hah!" Kevin kembali mendaratkan pukulan ke wajah Lee.


Tetapi tangannya di cekal oleh putranya.


"Pappy. Kita tidak bisa menyalahkan pada satu orang saja, paman pasti punya alasan, alangkah baiknya dengarkan dulu penjelasannya." ucap Jung Hwa berusaha menengahi.


"Ikut denganku." ajak Kevin menarik lengan Lee untuk berbicara empat mata.


"Lepas, aku memang salah, tapi kau tak seharusnya memperlakukanku seperti ini." ujar Lee menghempaskan tangan Kevin kasar.


BERSAMBUNG