Chasing My Uncle'S

Chasing My Uncle'S
Sebuah Kejutan



"Hei! mau kemana? tanggung jawab." seru Jung Hwa menarik kerah baju Yoora.


Agrhh....


"Kau mau membunuhku." ujar Yoora menatap saudara kembarnya tajam.


"Sorry. Ya habis kamu main pergi pergi aja." ucap Jung Hwa memainkan kuku jarinya.


Hish... "Jelek. Bagusan juga punyaku." Yoora mendesah.


"Bagus darimana? kukumu aja tidak pernah dirawat. Berbeda punyaku." Jung Hwa memperlihatkan kuku jarinya yang ke saudara kembarnya.


Haa...Haa...Haa....


"Kamu itu sebenarnya perempuan atau laki laki sih!" ucap Yoora di sela sela tawanya melihat warna cat kuku Jung Hwa yang berwarna merah muda.


"Maksudmu apa berkata seperti itu." Jung Hwa menahan kesalnya.


"Kenapa? kamu tidak terima." celetuk Yoora dengan ekpresi mengejek.


"Kau mau apa? turun nggak." lanjutnya ketika Jung Hwa memanjat gerbang pembatas kamarnya.


"Tentu saja untuk melihat suasana di dalam sana." jawab Jung Hwa menyelonong masuk mendahului pemilik kamarnya.


"Aish! kamarmu rapi sekali." ucap Jung Hwa sebaliknya.


Kamar Yoora sangat berantakan, barang barangnya tidak ada di tempatnya, selimut, baju, sepatu berserakan dimana mana.


"Kamu perempuan kan. Kenapa kamarmu seperti kapal pecah." celetuk Jung Hwa.


"Keluar. Kamu punya kamar sendiri bukan." usir Yoora.


"Kalau aku tidak mau." Jung Hwa tersenyum manis.


Yoora tersenyum lebih masih sembari tangannya mengarah ke pintu balkon.


"Dari dulu kamu tidak pernah berubah. Masih tetap malas, besok kita semua pulang lho!" gumam Jung Hwa menempatkan barang barang ke tempatnya.


"Pulang." ucap Yoora dengan raut wajah tak percaya.


"Bukankah. Kita tinggal disini selama dua minggu." lanjutnya masih tak percaya.


"Selain malas kau mudah tertipu ya! aku cuma mengarang cerita." ucap Jung Hwa.


"Woy! santai kali." seru Jung Hwa mengembalikan ke pemiliknya.


"Kalo nggak ada keperluan sebaiknya kau pergi aja sana." usir Yoora lagi.


"Besok ada kejutan untukmu." ujar Jung Hwa membuat Yoora yang awalnya berjalan membukakan pintu balkon ia kembali menghampiri saudara kembarnya.


"Kamu pasti akan sangat terkejut nantinya. Kuatkan hatimu, okey!" lanjutnya menepuk jidat Yoora sebelum berlalu pergi.


Yoora mengarahkan jari telunjuk ke arahnya sembari berpikir, sampai sampai ia tak menyadari jika orang yang di ajak bicara sudah tidak ada disana.


"Kejutan macam apa? hei! dimana dia?" tanya Yoora celingukan kemudian berlari ke pintu balkon.


Pintu kamar Jung sudah tertutup rapat sehingga Yoora tak bisa masuk.


Tok tok tok


"Buka pintunya. Maksud ucapanmu apa?" teriaknya dari luar pintu.


Hussttt... "Pelankan suaramu. Nanti mereka bisa terbangun karenamu, ini sudah malam sebaiknya kau tidur cantik." ucap Jung Hwa dari jendela menggunakan isyarat kemudian menutup tirai nya.


"Jung Hwa. Dasar nggak jelas." panggil Yoora menendang keras pintu nya.


Pagi Harinya...


"Good Morning." ucap mengejutkan gadis di dalam kamarnya sedang menyisir rambut.


"Uncle." gumamnya sisir yang ia pegang terjatuh.


Dengan segera lelaki seusia ayahnya membantu mengambilkan nya, akan tetapi dirinya terkejut ada luka memar di lutut kakinya.


"Kakimu kenapa?" tanya Lee.


Agrh... "Jangan di pegang." pekik nya Yoora meringis kesakitan.


"Enggak apa apa. Ini cuma." jawabnya terkejut ketika tubuhnya tiba tiba di angkat.


"Kamu pasti ceroboh lagi. Tunggu sebentar, tetaplah diam di tempat, jangan sampai bergerak, kau tau sendiri akibatnya." celetuk Lee sebelum pergi.


BERSAMBUNG...