
Samar samar Yoora membuka kedua matanya melihat ruangan di sekitarnya.
Kau bilang apa tadi?
"My Girl, sukurlah kamu sadar juga." ucap Lee dengan raut wajah khawatir.
"Uncle, apa sekarang aku ada di rumah sakit." tanya Yoora mendapati selang infus di tangan nya.
Lee mengangguk pelan. "Bagaimana keadaanmu?" berbalik bertanya.
"Seperti yang paman lihat." ujar Yoora tersenyum.
Hmm... "Mulai deh! seorang paman jatuh cinta kepada keponakan sendiri." celoteh Jung Hwa bertepuk tangan girang.
"Santai bro! aku cuma bercanda, hidup tak perlu di buat serius, iya kan Yoora." sambungnya mendapat tatapan tajam dari saudara kembarnya selangkah demi langkah kakinya mundur untuk meraih gagang pintu.
Jung Hwa membuka knop pintunya berniat untuk kabur tapi setelah terbuka ia di kejutan oleh kedatangan orang yang sangat di bencinya tanpa permisi langsung menyelonong masuk begitu saja melewati dirinya.
"Beraninya kamu menunjukkan batang hidungmu di hadapanku." Yoora yang awalnya tenang tersulut emosi melihat kedatangan nya.
"Hallo, kita bertemu lagi." sapa So Ju mengibaskan tangannya tersenyum.
"Uncle, kenapa biarkan dia masuk." ucap Yoora setengah berteriak.
"Paman yang menyuruhnya datang, oke, Jung Hwa, kita keluar yuk! cari makan." ujar Lee merangkul bahu keponakan nya untuk keluar dari ruangan.
"T tapi paman, bagaimana? dengan." ujar Jung Hwa sudah di tarik keluar.
"Su Ju, tolong kamu jagain gadisku." pinta Lee menyelusup kan kepalanya ke dalam.
"Siap Tuan, dengan senang hati." ucap So Ju menunduk memberi hormat.
So Ju memberikan bingkisan buah buahan, snack, dan susu berbagai rasa kemudian ia berikan ke Yoora tapi di tolaknya mentah mentah.
"Simpan saja untukmu, apalagi ini, kau mau membunuhku perlahan." tolak Yoora memalingkan muka.
"Biasanya orang akan senang jika di berikan sesuatu apalagi dariku, mereka akan sangat berterimakasih." ujar So Ju semakin membuat Yoora naik darah.
Meskipun telah di usir So Ju tetap saja kekeh menemaninya.
"Jujur sama aku, sebenarnya kau ini siapa?" teriak Yoora tersulut emosi semakin kesal.
"Apa kamu lupa, sebelumnya kita kan sudah memperkenalkan diri masing masing." ujar So Ju.
Memalingkan muka kesal. " Tetaplah di situ, jangan coba bergerak atau mendekat." tegas Yoora.
"Baiklah." santainya duduk menyilang dada di sofa dengan angkuh.
Cukup lama mereka berduaan di dalam satu ruangan yang sama, tak ada sepatah kata pun keluar dari salah satunya.
Sedangkan Lee dan saudara kembarnya entah pergi kemana.
Di Cafe
Dua orang saling mengobrol saking asyiknya sampai lupa waktu.
"Paman, apa tidak apa apa kita meninggalkan Yoora bersama lelaki itu." ucap Jung Hwa gelisah.
"Kita balik aja kesana. Siapa tau terjadi sesuatu padanya, tau sendiri kan mereka berdua tidak akur." sambungnya.
"Biarkan mereka mengenal satu sama lain, setelah lulus sekolah keduanya tinggal menikah." ujar Lee santai.
Berbeda dengan Jung Hwa ia mencerna semua ucapan pamannya yang terbilang tak masuk akal.
"Maksud paman apa? menikah. Aah! jangan bilang lelaki itu yang mau di jodohkan sama Yoora." tanya Jung Hwa baru terpikir di dalam otaknya.
"Yes. Tanpa harus ku beritahu kamu sudah paham sendiri." jawab Lee meneguk minumannya beberapa kali.
"Asal paman tau, So Ju itu musuh bebuyutanku, nggak sudi aku jadi iparnya, Yoora juga tidak akan setuju itu." ujar Jung Hwa membantah keras.
"Mendiang ibunya telah berpesan padaku, agar kelak anaknya di jodohkan dengan salah satu keluarga Pratama." ucap Lee mencoba memberi penjelasan.
BERSAMBUNG