Chasing My Uncle'S

Chasing My Uncle'S
Terluka lagi



"Sayang. Ada apa denganmu?" sapa nya melihat raut wajah putrinya masam.


"Aah! Mommy. Yoora tidak apa apa, aku masuk ke kamar dulu ya!" jawab nya memutar knop pintunya.


"Tidak biasanya. Dia terlihat habis menangis." gumam Hana di depan kamar putrinya.


Di dalam kamar


Yoora mengambil kotak P3K ia lemparkan begitu saja ke kasur miliknya sebelum ke kamar mandi.


Agrh...


"Perih sekali. Kalo Mommy sama Pappy tau bisa gawat." gumamnya.


"Ternyata lukanya cukup dalam. Apa ini harus dijahit, lalu bagaimana aku meminta izin keluar, alasan apa yang harus kuberikan ke mereka." lirih nya meringis kesakitan menatap lengan kanan nya nanar.


Terlihat darah mengalir tak henti hentinya mendapati luka robek cukup dalam, Yoora berusaha mengobatinya, akan tetapi usahanya seakan sia sia.


"Sepertinya aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku tidak bisa mengatasinya sendiri." ucap Yoora bergegas keluar dari kamarnya celingukan untuk memastikan tidak ada yang mengetahui kepergiannya.


Suasana rumah nampak sepi, Yoora melangkah pelan menuruni tangga, langkah kakinya hampir tak terdengar.


"Untung saja aku belum memasukkan mobilku ke garasi. Jadi, aman lah untuk saat ini." ucapnya tersenyum tipis.


"Mommy. Aku pergi dulu ya!"


"Iya sayang. Hati hati dijalan."


"Oke." ucap Yoora bertanya dan menjawab pertanyaan nya sendiri.


Di perjalanan kedua mata Yoora nampak berkunang kunang, beberapa kali ia memperjelas penglihatannya namun tetap sama, malah semakin buram, demi keselamatan nya dan juga pengendara lain dengan pelan meminggirkan kendaraannya ke tepi jalan.


"Ada apa denganku? kenapa kepalaku terasa pusing sekali?"


"Dimana ponselku? perasaan tadi ku letakkan disini. Atau jangan jangan ketinggalan, aah! rasanya itu tidak mungkin." gumamnya sembari meraba raba saku jaketnya.


Yoora melepas salt belt nya membuka pintu mobil, kemudian ia beralih ke kursi belakang, dan menemukan ponsel cadangannya yang sengaja ia tinggal disana.


"Aduh! kata sandinya apa? pakai acara lupa lagi." setelah mencoba membuka hingga ketiga kalinya ia baru berhasil membuka layar ponselnya yang lama.


"Eun. Ayolah angkat ponselnya! di saat saat seperti ini kenapa dia tidak bisa dihubungi." pasalnya sahabatnya itu hampir setiap waktu saat mereka tidak bersama, Ga Eun selalu menghubunginya, tak peduli dimanapun Yoora berada.


Aish....


'Siapapun tolong aku.' batin nya berharap ada orang yang datang.


******


Di sebuah rumah besar bergaya klasik namun terlihat mewah saat memasuki nya.


"Paman. Tolong bantu aku siapkan ruang medis." teriak seseorang berlari membawa perempuan di dalam dekapannya.


"Siapa gadis yang kau bawa? kenapa aku harus repot repot menyiapkan ruang medis. Kau atasi saja sendiri, bukankah kau sudah biasa melakukannya." ujar pria duduk di sofa sembari membaca koran.


"Paman. Kau pasti akan terkejut saat melihatnya." ujar So Ju menekan wajahnya terlihat panik.


"Setidaknya panggilkan dokter. Atau paman bantu mengobatinya, sepertinya dia kehilangan banyak darah." pinta So Ju sedikit memelankan suaranya.


"Oke. Paman bantu, cepat kau bawa dia ke ruang medis." ucap Lee Tae Yeong ayah angkatnya.


"Merepotkan sekali. Baru juga duduk santai, ada ada saja dia, dikira ini rumah sakit apa?" gerutu Lee menghubungi seseorang.


Lee: Hyun, cepatlah kau datang kemari, aku perlu bantuanmu.


Lee: Lima menit kau harus sampai. Atau tidak akan ku seret kau dari sana.


Bersambung...