
Lee datang kembali membawa wadah berisi es batu dan juga sapu tangan ia tempatkan di nakas.
"Uncle. Untuk apa ini semua, nanti juga sembuh sendiri, tak ada perlu di khawatirkan." ujar Yoora berpindah tempat berjalan ke arah balkon.
"Hei! kau mau kemana? cepat kemari." titah Lee tak di dengarkan olehnya.
"Nggak mau. Uncle aja yang kesini." ucap Yoora setengah berlari menghindar.
"Berhenti main main. Obati kakimu, nantinya bisa bertambah parah." ucap Lee.
Aaaaaa.....
"Apa yang kau lakukan. Dan bagaimana kau bisa datang kemari." Yoora memberontak disaat tubuhnya kembali di angkat.
Lee menempatkan tubuh keponakan nya ke kasur kemudian ia segera mengobati lebam biru di kaki gadis kesayangannya itu.
"Aku sempatkan menemuimu. Sebelum keberangkatanku ke Amerika." jawab Lee tidak membuat Yoora tak berkedip menatapnya dekat bahkan tanpa ia sadari wajah mereka begitu dekat.
"Wanita mana yang menjadi istrinya kelak. Wajahnya begitu mengagumkan, andai saja aku bukan keponakannya, aah! Yoora? apa yang kamu pikirkan, tidak mungkin kan aku." batinnya segera menyadarkan lamunannya.
"Kenapa? aku tau wajahku itu memang tampan. Awas lho! hati hati." ujar Lee.
Yoora menyerngitkan dahinya. "Untuk apa? emangnya sekarang kita berada di jalan." ujarnya.
"Paman cuma mau mengingatkan. Jika kamu sudah jatuh cinta ke seseorang, jangan seratus persen kamu berikan padanya, cukup lima puluh persen saja." celetuk Lee selesai mengompres.
"Alasannya apa? berarti cintanya tidak tulus kalau cuma setengah." ucap Yoora.
"Kamu akan tau nanti saat dewasa." ucap Lee mengusap rambut keponakannya lembut.
"Maksudmu aku ini belum dewasa. Usiaku sudah tujuh belas tahun." ucap Yoora.
"Kedewasaan itu tak mengenal usia." jelasnya.
Yoora meraih tangan kekar pamannya di saat mau meninggalkan kamarnya.
Karena langkah kaki Yoora tak seimbang akhirnya ia terjatuh ke sofa bersama Lee yang berada di atasnya, sehingga tak ada jarak lagi di antara keduanya.
Dug...
"Lagi lagi terjadi lagi. Andaikan waktu bisa berhenti, aku akan memilih ingin selalu berada di sisimu, namun sayang itu hanya sebuah mimpi yang hadir di saat ku terlelap, dan waktu akan kembali seperti semula ketika ku terbangun." batin salah satu dari mereka.
Eemm....
"Sorry. Apa kedatanganku mengejutkan kalian." seru seseorang kembali menutup pintunya kembali.
"Jung Hwa. Tunggu, ada apa kau datang kemari." panggil Lee beranjak turun.
"Kalian di tunggu Mommy sama Pappy di meja makan." jawabnya datang menghampirinya.
"Okey! kita akan segera turun. Kamu duluan aja sana." ucap Lee di anggukinya.
Lee membantu membangunkan tubuh Yoora yang masih setia berbaring di sofa.
Yoora bagaikan patung tak bergerak sebelum ada yang menggerakkan nya.
"My Girl. Rapikan bajumu, nanti mereka akan mengira aneh aneh tentang kita." titah Lee.
"Hmm. Sebelah mana?" tanya Yoora masih terbengong.
"Astaga. Apa perlu paman membantumu." ucap Lee sembari menggelitiki sang keponakan.
"Uncle. Lepaskan aku." ucap Yoora tertawa geli.
Di meja makan
Kedua orang yang di tunggu tunggu akhirnya menunjukkan batang hidungnya.
"Kemana aja kalian? lima belas menit kita menunggu." seru Kevin melirik lelaki yang berjalan di sebelah putrinya.
Hana mengusap punggung suaminya ia tak mau ada perdebatan, apalagi di meja makan, akan sulit baginya untuk melerai nya.
"Yoora." panggil Kevin memberikan kode ke putrinya untuk duduk di dekatnya.
BERSAMBUNG