
Sampai sore hari Yoora masih saja tertidur begitu pulas, sampai tak menyadari jika ada seseorang yang diam diam masuk ke dalam kamarnya.
"Jam segini masih tidur. Dasar pemalas, apa aku kerjain aja kali ya, salah sendiri punya kamar tidak pernah di kunci." ucap seorang laki laki tersenyum smirk.
"Sebaiknya aku langsung keluar. Bisa gawat kalau ada orang yang melihatku, wajahnya kiyowo perlu di abadikan terus aku pajang di mading sekolah." lirihnya memotret gambar mu lalu berjalan pelan kembali menutup pintunya tanpa suara.
Satu jam kemudian
Tok tok tok
"My Girl. Kita makan malam yuk!" panggil seseorang lumayan keras ia memegang handle pintu ternyata Yoora masih setia dengan dunia mimpinya.
Di dalam mimpi
"Yoora. Menikahlah denganku." laki laki itu berlutut di hadapannya sembari membuka kotak berisi sebuah cincin.
Tanpa berpikir panjang Yoora langsung menerimanya tanpa ada sepatah kata sedikitpun.
^^^^^
"Hei. Bangun, paman sudah siapkan makan malam untuk kita." ucap Lee menepuk nepuk kedua pipi Yoora.
"Yoora sayang. Astaga anak ini pasti sedang bermimpi." Lee melihat dari bibir Yoora yang tersenyum manis.
Tanpa di sadari Yoora menarik lengan kekar hingga menindihi tubuhnya menjadikan sebagai bantal.
"Saranghae." gumam Yoora semakin membuat Lee kebingungan.
"Apa yang ada dalam mimpinya. Yoora, lepaskan tanganmu." gumam Lee.
Lee mencapit hidung keponakannya dengan dua jarinya, alhasil cara itu terbukti membangunkan Yoora.
Chagiya...
Apa kita sekarang sedang bulan madu?
Membuka mata ingin memeluk lelaki di sampingnya.
"Hei, sadarlah. Lelaki ini pamanmu." ucap Lee terpaksa mendorong dahi keponakan nya menjauh.
Paman, Yoor
Lee bergegas turun dari ranjang, lagi lagi terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"Jung Hwa. Tunggu, kamu jangan berpikiran aneh aneh tentang kami." panggil Lee mencekal tangan keponakan.
Yoora berjalan sedikit sempoyongan nyawanya masih belum berkumpul.
"Hei. Buang pikiran bodohmu, tadi itu Uncle cuma kebetulan ada di dalam kamarku, kamu tau kan kalau aku sedang tertidur memang suka mengigau." ucap Yoora memukul saudara kembarnya menggunakan bantal guling yang ia pegang.
"Sekarang semuanya sudah jelas kan." seru Lee merangkul kedua ponakan nya.
Haa...Haa...Haa...
Jung Hwa tiba tiba tertawa tanpa sebab hal itu membuat Yoora bingung, karena Lee juga ikut ikutan menertawakan nya.
Kalian ini kenapa? "Tertawa tanpa sebab." bingung nya.
"Malam ini saudara kembarku terlihat sangat cantik." puji Jung Hwa tersenyum meninggalkan Yoora yang masih mematung disana.
"Paman tunggu di meja makan. Jangan lupa bersihkan wajahmu." ucap Lee mengulum menahan tawa.
Semakin di buat bingung oleh Yoora ia berjalan masuk ke kamarnya, langkah kakinya berhenti ketika melihat wajahnya yang di coret coret menggunakan spidol hitam begitu tebal nya.
Di meja makan dua orang terlihat sedang berbisik bisik.
"Paman. Kita hitung satu sampai tiga, satu, dua, tiga." ujar Jung Hwa menggerakkan jari jemari nya.
"Jung Hwa." teriak Yoora di depan kamarnya teramat kencang sampai menggema di seluruh ruangan.
Menuruni anak tangga menatap tajam saudara kembar nya.
Haa...Haa...Haa...
"Makanya kalo punya kamar itu kunci pintunya, jika suatu saat ada orang asing sembarangan masuk, bagaimana?" tuturnya mencoba memberi pengarahan.
"Benar juga apa kata paman. Dia seperti harimau betina kalau marah suka menakutkan." ujar Jung Hwa di sela sela tawanya ia buru buru pergi meninggalkan meja makan.
"Itu makanan belum habis. Kamu mau kemana?" tanya Lee mendapat lambaian tangan dari Jung Hwa berjalan santai meninggalkan pintu rumah.
BERSAMBUNG