
Yoora baru sadar dari pingsan nya setelah kejadian semalam.
Celingukan melihat sekitar kamar. "Pappy, apa yang terjadi padaku, kenapa tiba² aku bisa ada disini." bingung nya menatap pria di sampingnya.
"Semalam kamu pingsan nak." jawab Kevin mengusap rambut putrinya.
"Lalu siapa yang membawaku kesini." Yoora kembali celingukan mencari seseorang.
"Uncle. Apa dia sudah kembali." lanjutnya ingin beranjak turun akan tetapi di tahan oleh Kevin.
"Bisa tidak kamu pikirkan dirimu sendiri, pamanmu bisa jaga diri." tuturnya.
"Pappy belum jawab pertanyaanku tadi." ucap Yoora sedikit menekan.
"Lee yang membawamu. Pappy minta kamu jangan dekat dekat dengannya, dia sudah membawa pengaruh buruk untukmu." jawab Kevin sontak membuat putrinya terkejut dengan ucapannya itu.
"Eoh, Yoora tidak mengerti, pengaruh buruk apa." Yoora sedikit meninggikan suaranya.
"Jaga sopan santunmu terhadap orang tua, belakangan ini kamu sering membantah dan membuat ulah, jangan kira Pappy tidak tau perbuatan mu diluar sana, ha!." gertaknya.
"Mwo, Pappy sudah tau soal itu. Uncle sungguh memberitahunya, bisa gawat, bisa bisa aku tidak diizinkan keluar rumah lagi." batin Yoora ketar ketir.
"Paman Lee mu itu tidak bilang apa apa soal kamu. Pappy sendiri yang cari tau tentang perbuatanmu di luar rumah." ujar Kevin menekankan kata katanya.
Kevin memilih pergi daripada harus berhadapan langsung dengan putrinya untuk menghindari emosinya yang semakin tinggi dan berbuat diluar kendali.
"Pappy minta kau jauhi pamanmu itu." tegasnya menghentikan langkah diambang pintu.
Yoora seakan tak di beri kesempatan untuk bicara.
Pappy....
Tok tok tok
"Masuklah, kau tak perlu mengetuk pintunya." teriaknya dari dalam.
"Hmm. Galak sekali saudaraku." goda lelaki itu menghampiri Yoora yang masih berbaring di brankar.
"Perasaan hari masih pagi, suasananya udah panas aja." sahutnya seseorang datang berjalan melewati Jung hwa.
"Santai. Ini rumah sakit, nanti pasien lain terganggu oleh suara petir mu itu." ucap So Ju tersenyum manis.
Wajahnya terlihat datar, tetapi senyumannya begitu manis seakan dunia ini runtuh seketika.
"Nggak usah sok manis." celoteh Yoora dingin.
"Aku ini tamu lho! di sambut atau apa." ujar So Ju ia mendapatkan lemparan bantal mengenai wajahnya.
"Itu sambutan yang pantas untukmu. Lain kali kau jangan menunjukkan batang hidungmu di hadapanku tanpa izin dariku." ucap Yoora menahan kesal.
"Waah! terima kasih atas sambutannya. Itu sangat terkesan di hatiku." ucap So Ju dengan nada menggoda.
Yoora mengatur nafasnya dalam dalam, takutnya ia tersulut emosi, asmanya bisa kambuh lagi.
"Sebenarnya apa keperluan anda datang kesini, tidak ada yang mengundang tamu sepertimu." tanya Yoora meledek.
"Menemanimu. Kalau saja orang tuamu tidak menyuruhku datang, aku tidak akan datang, tapi sebagai calon menantu yang baik, mau nggak mau aku harus melakukannya, walaupun sebenarnya aku malas." ucap So Ju panjang kali lebar.
Ck... ck... ck... "Jangan bermimpi. Itu tidak mungkin terjadi, apa kau bilang menantu, lulus sekolah aja belum." ujar Yoora memalingkan muka.
"Bisa panjang urusannya nanti. Salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah, udah seperti kucing sama tikus, bertemu selalu bertengkar." batin Jung Hwa frustasi.
"Apa sih, yang tidak mungkin di dunia ini, sekarang juga aku bisa menikahimu." ucap So Ju semakin membuat darah Yoora mengalir panas.
"Sebelum darahku bertambah naik. Alangkah baiknya jika kalian keluar, aku mau sendiri." usir Yoora pelan tangannya mengarah ke pintu.
"Kenapa tidak dari tadi. Ayo! kita keluar, lama lama kulitku yang mulus ini bisa terbakar karena saking panasnya, sia sia perawatanku selama ini." ajak So Ju merangkul bahu Jung Hwa.
"What, rupanya dia ngajak berantem, kau pikir aku takut padamu. Hah! kalo berani sini maju, satu lawan satu." teriak Yoora kesal kembali melempar bantal.
Haisss.... jebal... Uncle, dimana kau?
"Di saat seperti kau malah pergi, lubang semut pun akan kucari." ucap Yoora tiba tiba memikirkan Lee.
BERSAMBUNG