
Kini tersisa Yoora dan ibunya di ruang tamu.
"Jujur sama Mommy. Siapa lelaki yang bersamamu di jembatan itu, dia memberimu ini kan." Hana menunjuk ke kalung di leher putrinya.
"Darimana Mommy tau." batin Yoora.
"Rupanya putriku sedang jatuh cinta. Lelaki itu kekasihmu bukan, dia mengajakmu untuk pergi jalan jalan, karena Pappy kamu tidak menuruti nya jadi kamu memilih bersama orang lain ketimbang keluargamu sendiri, hmm." ucap Hana tersenyum mengusap rambut putrinya lembut.
"B bukan itu maksudku. Lelaki itu juga kan masih keluarga kalian, bagaimana mungkin dia dianggap orang lain." ujar Yoora keceplosan.
"Nah, ketahuan. Kemana saja pamanmu mengajakmu pergi, dia pria romantis tidak mungkin pergi ke tempat biasa biasa saja." ucap Hana penuh penekanan.
Hana tersenyum mengamati wajah gelisah putrinya ia seakan tau isi hatinya.
"Hmm. Darimana kau tau, aku saja belum." tanya Yoora gelagapan.
"Kalung yang sekarang kamu pakai. Kamu tau apa maknanya." ucap Hana kembali mengamati leher jenjang putrinya.
"Pasti anak panah nya ada bersama pamanmu." tebak Hana tersenyum.
Hana menunjukkan sebuah artikel yang ia cari di internet ke putrinya, tentang kalung couple berbentuk hati dan anak panah ke Yoora.
Hee...Hee. "Mommy. Itu cuma lambang cinta, tak perlu di anggap serius, tidak mungkin lah aku jatuh cinta sama pamanku sendiri, perbedaan usia kita kan jauh berbeda." ucap Yoora setengah tertawa.
"Cinta yang tulus tak memandang status dan usia." Hana tersenyum mengusap kedua pipi putrinya.
Sejenak jantung Yoora berdetak lebih cepat, selama ini ia tak pernah mengenal apa itu arti cinta yang sebenarnya, walaupun dirinya pernah menjalin asmara tetapi tak sedalam cintanya terhadap pamannya, karena mereka berdua sering bersama sejak kecil, sehingga keduanya tidak menyadari perasaan masing masing.
"Cinta. Hmm! tidak mungkin seorang keponakan mencintai pamannya sendiri, dia bahkan pernah merawatku waktu kecil, udah seperti anaknya sendiri, palingan juga itu perasaan sayang, tidak lebih." batin Yoora tak percaya.
"Yoora sayang. Ditanya malah bengong." panggil Hana mengibaskan tangannya ke depan wajahnya.
"Eoh, Iya." jawab nya menganga.
Hana menyipitkan matanya dengan tatapan menginginkan. "Mommy merestui hubungan kalian." ucap Hana tiba tiba.
"M merestui. Ooh, iya, darimana Mommy tau aku bersama, Uncle tadi." ucap Yoora berpikir keras, setau nya disana tidak ada orang lain selain mereka berdua.
"Hmm. Dari hatimu." ucap Hana sembari berjalan mundur.
"Serius mom. Aku nanya, mommy kau mau kemana." seru Yoora saat Hana berjalan menaiki anak tangga.
Sedangkan Yoora memilih masuk ke kamarnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk king size miliknya.
Drettt Drettt Drettt
"Duh, siapa lagi. Baru juga sampai." gerutu Yoora mengambil ponsel di dalam saku jaketnya.
Seketika raut wajahnya sumringah setelah tau itu yang ia tunggu tunggu dari tadi.
"Uncle." gumam Yoora segera menerima panggilan.
Yoora: Hallo?
Lee: Kamu belum tidur
Yoora: Tidur, belum juga malam, malah ini masih sore
Lee: Kamu lupa tadi bilang apa?
Yoora mencoba mengingat ingat kejadian sebelumnya ia berkata jika dirinya akan segera tidur sepulang dari jalan jalan.
Yoora: Ooh... aku udah nggak mengantuk
Lee: Pasti kamu habis dimarahi tuan sombong itu
Yoora: Kenapa dari dulu uncle selalu memanggilnya begitu
Lee: Kamu tinggal jawab apa yang paman ucapkan tadi
Yoora: Aku tidak dimarahi, cuma sedikit kena omel, ya biasalah
Lee: Itu sama saja, My Girl
Yoora: Sebentar, aku matikan dulu panggilannya
"My Girl. Belum juga selesai udah di." gerutu Lee ia melihat layar ponselnya kembali menyala karena ada panggilan vidio dari Yoora.
BERSAMBUNG