Chasing My Uncle'S

Chasing My Uncle'S
Tidak Biasanya



🌿🌿🌿


Pagi Harinya


"Good Morning." ucapnya mengecup gadis yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Morning. Sungguh indahnya pagi ini." balas nya mengalungkan kedua tangannya ke lehernya mengecup bibirnya tanpa melihat siapa gerangan orang itu.


"Kamu pasti sedang bermimpi lagi." ucap Lee menjauhkan diri dari keponakan kesayangannya.


"Uncle." gumam Yoora membelalak kan matanya langsung terduduk saking kagetnya.


"Kebiasaan buruk. Setiap kali paman datang kamu selalu mengambil morning kiss tanpa seizinku." celetuk Lee menggelengkan kepalanya.


"Salah sendiri paman datang di saat tidak tepat. Tadi itu aku."


"Bermimpi lagi. Alasan yang sama, kamu tau ini dimana? jika tiba tiba ada orang lain datang, dia menghampirimu, misalnya dokter lelaki, saudara kembarmu, atau lebih parahnya petugas kebersihan." omel Lee panjang kali lebar.


"Ingat. Aku ini pamanmu, bukan berarti kamu bisa seenaknya sendiri." lanjutnya.


"Memangnya kenapa? aku kan keponakan paman. Itu artinya sayang." sahut Yoora.


"Itu terserah padamu. Paman cuma mengingatkan, syukur syukur di dengarkan." seru Lee sedikit meninggikan suaranya.


"Tidak biasanya paman bertingkah seperti ini. Itu tidak di sengaja, dia sendiri yang selalu hadir di hadapanku." batin Yoora ia menghela nafasnya panjang.


"Oke. Sorry, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Yoora mencairkan suasana, sesaat Lee terdiam cukup lama.


"Jaga jarak minimal satu meter." ucap Lee membuat Yoora menganga.


"Apa itu tidak berlebihan." seru Yoora.


"Mau menuruti ucapan paman atau balik kan kartu yang telah ku berikan padamu." tegas Lee.


Yoora tak bisa menerima tawaran keduanya ia juga kalau apa apa pasti orang pertama yang di ajak bicara adalah pamannya sendiri.


"Paman anggap kamu setuju." ujar Lee melenggang pergi.


Entah mengapa hatinya terasa sakit atas perlakuan pamannya yang berubah padanya.


Tok tok tok


"Boleh saya masuk." ucap seseorang di luar pintu meminta persetujuan.


"Tidak." tolak Yoora tanpa basa basi.


Dari luar tiga orang saling menatap bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Hei. Aku Seo Jun, Ga Eun, dan Song Hwa ingin menjengukmu." serunya perlahan membuka pintunya pelan ia melihat Yoora yang cemberut memalingkan muka.


"Sayang. Kamu kenapa? apa jarum itu menyakitimu." tanya Seo Jun mendapat tendangan dari Ga Eun.


"Jaga bicaramu. Kamu tau sendiri kan kalau dia lagi marah, semua orang di sekitarnya akan kena semprot." lirih Ga Eun menatap Seo Jun tajam.


"Serem tau. Kita pergi aja yuk! sebelum Yoora berubah." seru Song Hwa menarik kedua sahabatnya untuk keluar.


"Kalian kira aku monster." ucap Yoora setengah berteriak membuat ketiganya terkejut.


"Itu kan benar. Dia udah mulai berubah." bisik Song Hwa bersembunyi di belakang Seo Jun.


Shuttt.... "Diam. Mau kita semua kena terkam." pekik Ga Eun menempatkan jari telunjuk ke bibir sahabatnya.


"Ngapain berdiri. Duduk aku mau bercerita." titah Yoora, ketiganya langsung menuruti nya.


"Sofa gunanya untuk apa?" seru Yoora kekesalannya seakan menghilang melihat sahabat sahabatnya malah duduk di pantai.


"Oke. Kita duduk, geser sedikit kenapa?" ucap Ga Eun menyenggol Seo Jun hingga terjatuh.


"Padahal mereka tidak salah apa apa. Apa gunanya aku marah marah, tapi lucu juga, bisa buat hiburan, lumayan gratis." batin Yoora terkekeh dalam hatinya.


BERSAMBUNG