
klek....
"ketua"sapa sean yang baru masuk ke ruangan
"ada apa sean?"tanya brian dengan cuek
"ketua,i-itu"kata sean dengan terbata
"ada apa dengan mu?"tanya brian dengan tatapan dingin.
"tadi saat aku melewati kamar ketua dan nona, aku mendengar nona sedang menangis"jawab sean dengan pelan
"ada apa dengan nona?"tanya william dengan menatap sean yang berada di sampingnya..
"dia menangis karena aku mengambil kalungnya"jawab brian dengan dingin dan berdiri menatap jendela
"kalung?"tanya serentak william dan sean
"cavon datang mencari ku,katanya kalung itu sangat penting bagi ruby,akan tetapi ruby tidak ingin mengatakan pada ku dari mana datangnya kalung ini"jawab brian dengan kesal sambil menatap kalung yang ada di tangannya
"ketua,mungkin nona membeli nya sendiri"ujar sean
"beli sendiri?kalau iya,apa mungkin dia menganggap kalung ini lebih penting dari nyawanya"kata brian dengan kesal
"ketua, bagaimana kalau tanyakan saja langsung pada nona?"lanjut wiliam dengan suara pelan
"aku merasa ingin membuangnya"jawab brian di landa api cemburu
"ketua bisa cemburu sama kalung,kapan ini akan berakhir?nona sudah sampai nangis dan tidak mau menikah jika begini terus mau sampai kapan mereka bisa bahagia"batin sean
praaak.......
brian yang kesal dengan kalung itu karena dia curiga pemberian pria lain akhir nya di banting.karena bantingan yang kuat akhirnya liontin yang berisi cincin pemberian nya akhirnya terpisah dari liontin yang pecah karena bantingan tersebut.
sesaat kemudian pandangan brian william dan sean memandang ke arah cincin itu tersebut
"cincin?ketua bukankah itu cincin pemberian ketua untuk nona saat itu, cincin vampir"teriak sean yang kaget
brian yang hampir tidak percaya ternyata di dalam liontin kalung itu menyimpan sebuah cincin pemberiannya ke pada ruby saat itu,dan membuat nya salah sangka pada ruby...
"ini cincin klan vampir"gumam brian yang mengambil dari lantai dengan memandangnya sambil mata berkaca kaca
"ketua,kelihatannya nona selama ini membawa cincin tu di sisinya ,dan menyimpannya di liontin itu menjadi sebuah kalung"ujar william dengan cepat
brian kembali mengingat perkataan cavon sebelumnya
(kalung itu sangat penting bagi nya,saat kalung itu terjatuh ke sungai yang deras tanpa memikirkan nyawa nya ruby melompat ke sungai itu dan dia hampir lemas karena kalung itu,dan kemudian saat kalung ini hilang dia menangis tidak ada hentinya seperti separoh nyawanya juga hilang)
saat mengingat kembali perkataan cavon dan perlakuan kasar nya pada gadis itu membuat nya menyesal karena sudah menyakitinya.
"sean, di mana ruby?"tanya brian dengan mata nya yang memerah karena air mata
"nona sedang duduk di halaman"jawab sean dengan pelan
sean dan brian yang mencari nya di halaman dan kemudian mendekati nya.ruby yang sedang tidak melihat jika brian datang bersama sean...
"nona, hari sudah mau malam"sapa sean yang muncul dari belakang ruby yang sedang duduk di kursi
"tidak apa-apa,aku ingin di sini"jawab ruby dengan suara serak,dan tanpa menoleh ke belakang nya
"nona,apakah nona menangis?nona kembali lah ke kamar di sini cuaca mulai dingin nanti nona demam ketua pasti khawatir"tanya sean yang masih tetap berdiri di belakang ruby
"khawatir?dia hanya takut aku kabur bukan mengkhawatirkanku
sean,aku merindukan flower garden,di sana sangat nyaman dan hangat dan mereka tidak akan menyakiti ku"ujar ruby dengan suara pelan
"nona,ketua pasti akan membawa mu ke sana sebelum kita pulang"jawab sean yang masih di posisi nya
"pulang?rumah itu bukan tempat ku,aku hanya ingin pulang ke flower garden"jawab ruby yang sedang menangis
"nona,itu..!jawab sean dengan terbata yang binggung mau mengatakan apa
"aku tidak mau menikah,brian sudah berubah,dulu dia sangat baik dan lembut,akan tetapi sekarang dia sudah berubah sangat kasar,dan sering menyakiti ku,aku tidak mau menikah dengan pria yang sama sekali tidak percaya pada perkataan ku."kata ruby dengan kesal
"nona,.ketua dia sangat mencintai mu"jelas sean dengan menatap brian yang berdiri di sampingnya yang telah mendengar setiap perkataan ruby
"dia tidak mencintai ku,dia menganggap ku hanya wanita murahan maka nya sering merasa aku mempunyai pria lain,seharus nya dia menikah saja dengan wanita lain yang bisa buat dia percaya pada nya"balas ruby dengan emosi
"nona ,tolong jangan berkata seperti itu,ketua telah mendengar semua nya ,dia ada di belakang mu dari tadi."batin sean yang sudah gemetaran
"no..!"ucapan sean terhenti karena di beri kode oleh brian yang menepuk pelan pundak nya
sean yang mengerti maksud ketuanya pun meninggal kan halaman itu
brian yang mendengar semua perkataan ruby merasa bagaikan di sambar petir..dia baru menyadari jika dia sudah sangat menyakiti gadis ini sehingga membuat gadis ini menangis tanpa berhenti..
"tidak usah menasehati ku lagi,seharusnya kami tidak bertemu kembali.andaikan kami tidak bertemu kembali aku sekarang masih nyaman di flower garden"lanjut ruby yang masih duduk di kursi nya tanpa mengetahui jika brian di belakang nya
brian kemudian menyentuh pundak ruby dari belakang
"ruby"suara panggilan brian yang membuat ruby kaget
ruby langsung berdiri dan menoleh ke belakang dan menatap brian yang sedang menatap nya dengan mata yang di penuhi air mata.
setiap perkataan ruby tadi sangat menusuk hati brian
"kenapa kau ada di sini?kenapa?apa kau ingin membunuh ku?atau ingin mengancam ku lagi?tidak perlu menggunakan flower garden untuk mengancam ku,jika kau ingin bunuh saja aku, kau pasti bisa kan melakukan nya bukan?"bentak ruby dengan kesal
"ruby, aku tidak mungkin membunuh mu"jawab brian dengan menatap dalam
"tidak mungkin?wanita murahan seperti ku ini apa guna nya bagi mu?kau tidak pernah percaya pada ku jadi untuk apa kau memaksa ku menikah dengan mu?apa hanya untuk melampiaskan kemarahan mu pada ku saja?"tanya ruby dengan nada emosi
"ruby maaf,aku salah sangka pada mu karena kalung itu,aku baru tahu sebenar nya yang membuat mu peduli bukan lah kalung itu tapi isi liontin nya cincin klan kita"jelas brian dengan memperlihatkan cincin itu...