
*masih ditempat yang sama
.
.
.
"Terima kasih Hyung" ucapnya lirih dan dihadiahi pelukan erat dari sang Hyung. Tae masih terdiam tak berniat membalas pelukan dari Hyungnya itu, sedangkan Yonggi merasa aneh dengan perilaku Taehyung itu, lalu melepaskan pelukannya.
"Ada apa Tae?"
"kenapa?" tanyanya lirih
"kenapa apa?"
"kenapa Hyung tidak menghadiri acara wisudaku?"
Yonggi terkesiap dengan pertanyaan adiknya. Tatapan kecewa terlukis jelas Dimata adiknya itu. Dia paham betul.
"Kenapa Hyung?" tanya Taehyung mencoba menahan air matanya
"Tae..... Hyun.."
"Kenapa Hyung tidak menghadiri dan justru sibuk menyiapkan perayaan ini?" teriaknya
Yonggi terkejut dengan Teriakan adiknya. Tersadar jika adiknya terluka. Tersadar jika apa yang dia lakukan ini justru membuat sang adik terluka.
"Tae... Maaf kan Hyung... Hyung kira kau akan senang dengan perayaan ini"
"Sungguh Hyung,,, Tae hanya meminta Hyung menghadiri wisudaku dan duduk di kursi itu. Melihat ku memberi sambutan dan menerima sertifikat dan bertepuk tangan dengan bangga kearah ku. Apakah itu sulit bagimu Hyung?"
Taehyung menjelaskan hal itu dengan susah payah.
Mati Matian menahan air matanya yang sudah siap terjatuh ditempatnya namun akhirnya gagal. Yonggi yang merasa bersalah melihat adiknya seperti itu.
Hal yang seharusnya membahagiakan bagi sang adik justru dia sendiri yang tanpa sadar menghancurkan nya.
"Tae.."
.
.
.
.
.
.
.
.
Ah.. Namanya juga hidup. Bahkan setiap rencana yang kita buat, setiap harapan yang kita inginkan terkadang tak sepenuhnya dapat terpenuhi dan berjalan dengan lancar.
seperti rencana Yoongi yang memberi kejutan untuk sang adik di hari wisudanya yang tak berjalan lancar. padahal rencana itu sudah ia susun dari jauh-jauh hari. Serta kue yang diberikannya pada Taehyung juga bukan kue Semarangan, Tapi sayangnya gue itu berakhir di meja dicampakkan.
Perasaan Yonggi jadi bercampur aduk sekarang. Dia sedih karna perayaan yang direncanakan gagal tapi juga merasa menyesal dan bersalah karena telah mengecewakan sang adik kesayangannya itu.
Malam mulai larut.
Rumah itu terasa sepi padahal penghuninya sedang berada di rumah. Yoongi masih duduk di ruang tamu hanya berpindah saat ia pergi ke dapur untuk minum, makan yang kita terapi pun di meja juga masih di tempatnya.
Taehyung masih mengunci dirinya di kamar, Yonggi paham jika adiknya itu pasti masih merasa kecewa berat dengan nya. Ingin sekali meminta maaf segera namun setelah di pikir-pikir bukan waktu yang tepat untuk melakukan nya.
*Tring Tring
Ponsel Yonggi berbunyi, menampilkan nama sahabat nya itu dilayar. Diangkat nya panggilan itu tanpa gairah.
"Halo? Yoon?" Sura di seberang telepon
"Hmm..."
"Bagaimana perasaan nya? Aku menelpon untuk memastikan apa semua berjalan lancar. Karena saat menjemput nya, Taehyung tadi ada sedikit masalah" Jelas Namjoon masih di seberang telepon
"Tidak berjalan lancar. Ku rasa Tae marah dengan ku. Aku harus segera menyelesaikan ini semua"
"Begitu ya.... Baiklah, jika ada apa apa langsung hubungi aku. Akan ku tutup telpon nya Sekarang. Sampai jumpa"ucap Namjoon
panggilan itu terputus dengan akhiran deheman Yonggi itu. Sungguh Yonggi benar benar bingung sekarang. ini sudah malam dan badannya juga sudah lelah.
Dia ingin sekali tidur, tapi kamarnya yang sekaligus kamar sang adik itu terkunci. Terpaksa dia mau tidak mau harus tidur di ruang tengah. Padahal cuaca sedang dingin. Yonggi secara tidak langsung mengasihani dirinya atas semua kebodohan nya sendiri hari ini.
Dia pun akhirnya tidur diruang tengah. Dia harus istirahat dan meluruskan semua masalah nya dihari esok, agar semuanya tidak menjadi berlarut-larut.
"Selamat malam Tae... Hyung menyayangi mu" ucapnya lirih lalu tertidur lelap.
.
.
.
.
By,,,, sampai jumpa di chapter selanjutnya 👋👋
Dapat salam dari uri' Taehyung